6 Penyakit yang Ditandai dengan Demam Naik Turun, Kenali Gejalanya

Liputan6.com, Jakarta Demam merupakan kondisi umum yang biasa dirasakan ketika tubuh sedang tidak fit. Demam bukanlah penyakit, melainkan gejala dari sebuah penyakit. Demam merupakan reaksi tubuh saat melawan infeksi yang masuk.

Seseorang bisa dikatakan demam jika suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius atau lebih. Demam dengan suhu 39,5 derajat celcius dikategorikan demam tinggi dan 41 derajat celcius dikategorikan demam sangat tinggi. 

Demam bisa dirasakan kapan saja. Adakalanya, demam bisa sangat tinggi kemudian turun dan kembali tinggi lagi. Demam yang naik turun seperti ini bisa menandakan gejala penyakit tertentu.

Penyakit yang menyebabkan demam naik turun ini biasanya berupa infeksi bakteri atau virus. Sejumlah penyakit ini memiliki gejala yang khas. Berikut penyebab demam naik turun yang berhasil Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa(24/3/2020).

Demam Tifoid

Demam Tifoid

Demam tifoid atau yang juga dikenal dengan tipes merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Demam tifoid menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi atau melalui kontak dekat dengan seseorang yang terinfeksi.

Demam pada tifoid biasanya akan turun pada siang hari dan naik di malam hari. Demam dimulai dengan rendah di awal infeksi dan akan meningkat setiap hari hingga mencapai 40,5 derajat celcius.

Selain demam, tipes juga menimbulkan serangkaian gejala seperti kelelahan, nyeri otot, keringat dingin, ruam, masalah pencernaan, hingga kehilangan kesadaran.

Tifus

Tifus (ArtOfPhotos/Shutterstock)

Banyak orang menyamakan antara tifus dan demam tifoid atau tipes. Padahal keduanya memiliki penyebab yang berbeda. Jika tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella, tifus disebabkan oleh bakteri riketsia.

Kutu, tungau atau caplak bisa menularkan bakteri ini pada manusia. Menggaruk gigitan semakin membuka kulit dan memungkinkan bakteri lebih besar mengakses aliran darah. Begitu masuk dalam aliran darah, bakteri terus bereproduksi dan tumbuh.

Tifus juga bisa menyebabkan demam yang naik turun. Seseorang akan merasa sakit setelah 10 hari hingga 2 minggu setelah bakteri tifus masuk ke tubuh. Pada awalnya, penderita tifus akan merasa kedinginan, demam, dan sakit kepala parah.

Gejala juga bisa berupa napas yang cepat, nyeri perut, dan muntah. Beberapa hari kemudian, di tubuh akan muncul ruam bercak di dada dan bagian tengah tubuh. Ruam ini sering menyebar ke bagian lain dari tubuh.

Demam berdarah

Ilustrasi Demam Berdarah (Liputan6.com/Johan Fatzry)

Demam berdarah juga menjadi penyebab demam naik turun. Demam berdarah disebabkan oleh salah satu dari empat jenis virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk aedes aegypti. Gejala demam berdarah biasanya mulai terlihat 4 sampai 7 hari setelah gigitan nyamuk dan biasanya berlangsung 3 hingga 10 hari.

Tanda dan gejala demam berdarah mirip dengan beberapa penyakit lain, seperti demam tifoid dan malaria. Ini terkadang dapat menunda diagnosis yang akurat.

Gejala demam berdarah ringan bisa berupa nyeri sendi, ruam tubuh yang datang dan pergi demam tinggi, sakit kepala, sakit di belakang mata, mual dan muntah.

Demam berdarah yang parah bisa menyebabkan pendarahan di mulut, gusi, atau hidung, kerusakan getah bening dan pembuluh darah, dan pendarahan internal seperti muntah hitam atau tinja hitam.

Malaria

Malaria (Mycteria/Shutterstock)

Demam naik turun juga bisa jadi pertanda penyakit malaria. Penyakit ini biasanya ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles yang terinfeksi parasit Plasmodium.

Gejala malaria biasanya mulai sekitar 10 sampai 15 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi. Ketika parasit malaria beraksi dalam tubuh, seseorang akan mengalami demam tinggi, yang datang dan pergi. Pola demam dapat bervariasi sesuai dengan spesies malaria.

Awalnya, malaria terasa seperti flu dengan demam tinggi, kelelahan, dan sakit tubuh, dengan tahap panas dan dingin. Orang juga mungkin mengalami sakit kepala, mual, menggigil kedinginan (berkeringat), berkeringat, dan lemah. Anemia sering terjadi pada pasien dengan malaria, sebagian karena efek dari parasit Plasmodium pada sel darah merah.

Untuk kasus malaria, ada gejala klasik atau yang dikenal dengan sebutan trias malaria. Seseorang yang mengalami trias malaria ditandai dengan kondisi menggigil, bahkan sampai menyebabkan tempat tidur ikut bergoyang.

Meningitis

Meningitis (Sumber: iStock)

Meningitis merupakan peradangan yang terjadi di selaput mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang atau meninges. Pembengkakan akibat meningitis biasanya memicu gejala-gejala seperti sakit kepala, demam, dan leher kaku.

Beberapa jenis bakteri dapat menyebabkan meningitis bakteri, termasuk Streptococcus pneumoniae (S. pneumoniae) dan Grup B Streptococcus. Jenis meningitis lain termasuk meningitis virus, parasit, jamur, dan non-infeksi, tetapi jenis bakteri adalah yang paling parah.

Gejala meningitis dini dapat menyerupai flu (influenza). Gejala dapat berkembang selama beberapa jam atau beberapa hari. Gejala meningitis bisa berupa demam tinggi tiba-tiba, leher kaku, sakit kepala parah, sulit konsentrasi, kejang, sensitivitas pada cahaya, dan kurangnya nafsu makan.

Hepatitis

Penyakit Hepatitis (sumber: iStock)

Hepatitis merupakan peradangan yang terjadi pada sel-sel hati dan kerusakan pada hati. Ada berbagai jenis dan penyebab hepatitis, tetapi gejalanya bisa serupa seperti demam tinggi.

Selama fase akut, atau awal, infeksi hepatitis, seseorang mungkin mengalami gejala yang mirip dengan flu ringan, seperti kelelahan, tinja yang pucat, hilang nafsu makan, demam naik turun, nyeri sendi dan otot, mual dan muntah, sakit perut, dan mata menguning.

Seseorang dengan hepatitis kronis dapat mengalami gagal hati progresif, yang dapat mencakup gejala-gejala seperti penyakit kuning.