6 Penyebab HIV AIDS pada Pria, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya

·Bacaan 8 menit

Liputan6.com, Jakarta Penyebab HIV AIDS pada pria adalah hubungan seksual, dari alat tato, transplantasi organ, transfusi darah, penggunaan alat suntik bergantian, dan tertular oleh ibu sejak dalam kandungan. Mengutip dari laman Healthline, gejala HIV pada pria umumnya sama dengan wanita.

Salah satu gejala HIV yang unik pada pria adalah muncul borok atau bisul pada penis. Serta menyebabkan hipogonadisme, atau produksi hormon seks yang buruk, pada kedua jenis kelamin. Namun, efek hipogonadisme pada pria lebih mudah diamati daripada efeknya pada wanita. Salah satu aspek hipogonadisme, dapat mencakup disfungsi ereksi (DE).

Berupaya menghindari penyebab HIV AIDS pada pria merupakan salah satu cara mencegah penyakit ini. Apalagi HIV (human immunodeficiency virus) belum ada obat yang dapat menyembuhkan 100 persen. HIV merupakan virus yang melemahkan sistem kekebalan dan membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit dan infeksi oportunistik.

Agar lebih memahami penyebab HIV AIDS pada pria simak penjelasan lengkapnya. Berikut Liputan6.com ulas penyebab HIV AIDS pada pria dari berbagai sumber, Selasa (24/8/2021).

Penyebab HIV AIDS pada Pria

Ilustrasi jarum suntik. Image by PublicDomainPictures from Pixabay
Ilustrasi jarum suntik. Image by PublicDomainPictures from Pixabay

1. Hubungan Seksual

Hubungan seksual adalah penyebab HIV AIDS pada pria. Apabila salah satu individu berhubungan seksual dengan pasangan yang sudah terserang virus HIV, maka bukan tidak mungkin jika individu tersebut akan tertular virus HIV yang diderita pasangannya.

Selain karena hubungan seksual yang normal, penyebab HIV AIDS pada pria bisa terjadi akibat aktivitas oral seks. Aktivitas tersebut bisa berbahaya, terutama jika terdapat luka terbuka di mulut. Luka tersebut bisa menjadi jalan masuk dari virus HIV ke dalam tubuh.

2. Alat Tato

Penggunaan alat tato bisa menjadi penyebab HIV AIDS pada pria. Biasanya menggunakan bantuan jarum agar menghasilkan gambar yang diinginkan. Apabila jarum pada alat tato digunakan bergantian, ini penyebab HIV AIDS pada pria.

Bukan tidak mungkin seseorang dapat tertular virus HIV dari orang yang sebelumnya menggunakan alat tersebut. Waspadai penyebab HIV AIDS pada pria ini.

Maka dari itu, bagi yang suka seni tato, ada baiknya untuk lebih berhati-hati dalam memilih tempat tato. Pastikan tempat tato tersebut menjaga kebersihan dengan baik dan selalu menggunakan jarum yang masih steril.

3. Transplantasi Organ Tubuh

Transplantasi organ tubuh adalah penyebab HIV AIDS pada pria. Hal ini mungkin saja terjadi, jika pendonor memiliki riwayat terserang virus HIV dan mendonorkan organ tubuhnya. Meski biasanya dilakukan pengecekan, namun tetap saja perlu kehati-hatian baik bagi petugas medis maupun pasien untuk memastikan jika pendonor organ tidak terserang HIV. Penyebab HIV AIDS pada pria ini harus diwaspadai betul.

4. Transfusi Darah

Transfusi darah merupakan penyebab HIV AIDS pada pria. Contohnya, saat seseorang mengalami kecelakaan dan pendarahan hebat, tentu perlu dilakukan penanganan segera, salah satunya dengan transfusi darah.

Apabila transfusi darah dilakukan dengan orang yang terserang virus HIV, maka virus tersebut besar kemungkinan menulari penerima donor.

Akan tetapi, penyebab HIV AIDS pada pria karena transfuse darah cukup jarang terjadi. Sebab pihak medis biasanya sudah memastikan bahwa darah yang akan ditransfusikan sehat dan layak. Walaupun begitu, kesalahan dalam tindakan medis bisa saja terjadi dan hal ini perlu diwaspadai.

5. Penggunaan Jarum Suntik Bergantian

Penggunaan jarum suntik bergantian adalah penyebab HIV AIDS pada pria yang paling sering terjadi. Menggunakan jarum suntik bergantian bisa menjadi media penularan virus HIV. Kasus HIV karena penggunaan jarum suntik bergantian biasa terjadi pada pengguna narkoba.

Sebab, banyak dari mereka yang menggunakan narkoba tersebut dengan bantuan alat suntik, bahkan beberapa di antaranya dilakukan secara bergantian bersama orang lain.

Apabila satu di antara pengguna obat terlarang tersebut mengidap HIV, maka sangat mungkin orang yang mendapat giliran setelahnya ikut terkena HIV. Sebab jarum suntik mengalami kontak langsung dengan darah, di mana darah tersebut bisa menempel dan masuk ke tubuh orang lain, hingga akhirnya menjadi penyebab HIV.

6. Sejak dalam Kandungan

Ibu hamil bisa terserang HIV AIDS dan ini berbahaya bagi janin dalam kandungannya. Ibu yang terserang HIV bisa menularkannya bagi bayi laki-laki ataupun perempuan dalam kandungan. Hal ini mungkin saja terjadi saat ibu hamil tidak menyadari telah terinfeksi sebelumnya.

Hubungan seks baik vaginal, anal atau oral dengan pasangan yang terinfeksi dapat menjadi penyebab HIV pada ibu hamil. Ini disebabkan oleh darah, air mani atau cairan vagina yang terinfeksi masuk ke tubuh individu lain.

Ketika sedang di masa kehamilan, ibu hamil dapat menularkan virus ini melalui ari-ari, saat proses persalinan ataupun melalui air susu ibu. Oleh sebab itu, ibu hamil yang terkena HIV harus mendapatkan pengobatan.

Gejala HIV AIDS pada Pria

Ilustrasi Pria. Credit: pexels.com/Burst
Ilustrasi Pria. Credit: pexels.com/Burst

1. Gejala HIV AIDS pada Pria Stadium Pertama

Gejala awal dari HIV AIDS pada pria biasanya tidak spesifik. Acap kali gejala HIV AIDS tertahankan dan sering disalahartikan sebagai flu atau kondisi ringan lainnya.

Dikutip dari Medical News Today, pria bisa mengalami gejala mirip flu beberapa hari hingga minggu setelah tertular virus, yang mungkin termasuk:

- Demam.

- Ruam kulit.

- Sakit kepala.

- Sakit tenggorokan.

- Kelelahan.

Sayangnya masih banyak yang menyepelekan gejala ringan ini. Fakta bahwa beberapa pria tidak mencari pengobatan tepat waktu, mungkin menjadi alasan mengapa virus mempengaruhi pria lebih parah daripada wanita.

HIV yang menyerang tubuh akan mulai menurunkan sistem kekebalan atau imunitas. Muncul nyeri pada persendian, otot, dan kelenjar getah bening. Karena kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh.

Kemungkinan besar akan mengalami peradangan dan pembengkakan saat terjadi infeksi. Hingga akhirnya muncul rasa nyeri di bagian ketiak, pangkal paha, dan leher.

2. Gejala HIV AIDS pada Pria Stadium Pertama Tingkat Berat

Gejala HIV AIDS pada pria fase awal mungkin mengalami yang lebih parah sejak dini, seperti:

- Demensia.

- Penurunan berat badan.

- Nyeri otot.

- Nyeri sendi.

- Mual dan muntah.

- Keringat di malam hari.

Gejala awal ini bisa berlangsung satu hingga dua minggu. Menunda menemui dokter sampai gejala memburuk, akan membuat infeksi mungkin telah berlanjut.

Sedangkan bagi penderita HIV yang rutin mengonsumsi obat retroviral pada periode awal. Membuatnya bertahan hingga puluhan tahun, sehingga masa hidup penderita dapat berlangsung seperti biasa.

3. Gejala HIV AIDS pada Pria Stadium Kedua

Gejala awal HIV AIDS pada pria kemudian akan menghilang dan memasuki tahap infeksi kedua, yaitu tahap nongejala.

Infeksi virus tidak akan menimbulkan gejala apapun dalam waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 5 hingga 10 tahun. Meski begitu, virus tetap berkembang dalam tubuh dan bisa menularkan pada orang lain.

Perlahan HIV merusak sistem kekebalan seseorang. Inilah alasan mengapa diperlukan deteksi sejak dini, supaya segera mendapat perawatan medis yang tepat sebelum mencapai AIDS.

4. Gejala HIV AIDS pada Pria Stadium Tiga

Memasuki gejala HIV pada pria fase ketiga, sering disebut sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Dikutip dari Healthline, AIDS adalah tahap terakhir penyakit.

Seorang penderita pada tahap ini memiliki sistem kekebalan yang rusak parah, membuatnya lebih rentan terhadap infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik adalah kondisi yang biasanya mampu dilawan oleh tubuh, tapi bisa berbahaya bagi orang yang mengidap HIV.

Mungkin mengalami gejala HIV AIDS pada pria tahap 3, sebagai berikut:

- Mual dan muntah.

- Diare persisten.

- Kelelahan kronis.

- Penurunan berat badan yang cepat.

- Batuk dan sesak napas.

- Demam berulang, menggigil, dan keringat malam.

- Luka di mulut atau hidung.

- Bisul dan borok di alat kelamin, atau di bawah kulit.

- Infeksi jamur di penis.

- Pembengkakan kelenjar getah bening yang berkepanjangan di ketiak, selangkangan, atau leher.

- Kehilangan ingatan, kebingungan, atau gangguan neurologis.

Tes dan Pengobatan HIV AIDS pada Pria

Ilustrasi Pemeriksaan Medis. Credit: pexels.com/AndreaPiacquadio
Ilustrasi Pemeriksaan Medis. Credit: pexels.com/AndreaPiacquadio

Melansir dari Medical News Today, pria yang aktif secara seksual harus dites HIV setidaknya sekali seumur hidup sebagai bagian dari perawatan kesehatan rutin.

Terutama direkomendasikan bagi pria gay dan biseksual, dan pria yang berhubungan seks dengan pria, serta pengguna narkoba suntikan. Selain itu, juga para pria yang berhubungan seks tanpa kondom.

Tes darah memungkinkan dokter untuk menentukan apakah kamu terinfeksi virus HIV. Keakuratan tes bergantung pada waktu paparan terakhir untuk HIV (hubungan seks tanpa kondom, berbagi jarum).

Jika pernah melakukan berbagai tindakan yang berisiko HIV, kamu bisa terinfeksi virus setiap saat. Oleh karena itu, lebih baik melakukan tes HIV untuk mengetahui status kesehatan kamu. Butuh waktu sekitar 3 bulan untuk antibodi HIV muncul pada tes HIV.

Kemudian jika kamu ternyata mengidap HIV, maka biasanya dokter akan melakukan pengecekan lebih lanjut seperti pengecekan TBC dan lain sebagainya. Setelah itu kamu akan diberi obat ARV yang harus dikonsumsi seumur hidup.

Perlu kamu ketahui juga bahwa HIV tidak bisa disembuhkan atau dihilangkan dari dalam tubuh 100 persen. Fungsi dari mengonsumsi obat ARV adalah untuk menekan pertumbuhan virus HIV sehingga tidak merusak komponen-komponen atau organ dalam tubuh lainnya dan menimbulkan AIDS atau infeksi yang lebih parah.

Maka dari itu hindari segala jenis bentuk penyebab HIV, jangan melakukan hubungan seksual yang berisiko, dan rajinlah untuk tes HIV untuk mengetahui virus tersebut apakah ada dalam tubuhmu.

Pencegahan HIV AIDS pada Pria

Ilustrasi pria. (Sumber Pixabay)
Ilustrasi pria. (Sumber Pixabay)

1. Hindari perilaku seksual yang berisiko

Seks anal adalah aktivitas seks yang memiliki risiko tertinggi dalam penularan HIV. Baik pelaku maupun penerima seks anal berisiko untuk tertular HIV, namun penerima seks anal memiliki risiko tertular lebih tinggi. Karena itu disarankan untuk melakukan hubungan seks yang aman, serta gunakan kondom untuk mencegah penularan HIV.

2. Jangan gunakan jarum bergantian

Pencegahan HIV yang harus kamu perhatikan adalah jangan gunakan jarum secara bergantian. Selalu perhatikan penggunaan jarum yang steril jika kamu berniat untuk membuat tato atau pun tindik.

3. Menggunakan kondom

Pencegahan HIV selanjutnya adalah kamu harus ekstra hati-hati jika tahu bahwa pasangan memiliki HIV. HIV bisa menular lewat darah dan air liur yang masuk ke dalam tubuh, juga melalui hubungan seksual.

Ketika berhubungan seksual, lindungi diri dengan alat pengaman ekstra untuk mencegah kemungkinan terjadinya alat pengaman/kondom yang robek dan lain sebagainya.

4. Perhatikan luka yang terbuka

Jika bekerja dengan pasien HIV, pastikan kamu melindungi diri dengan sangat hati-hati. Pencegahan HIV yang bisa kamu lakukan yaitu dengan menggunakan pakaian yang diwajibkan oleh rumah sakit dan hati-hati dengan segala luka terbuka yang dimiliki.

Terutama jika luka terbukamu akan bersentuhan atau terkena kontak dengan pasien HIV. Karena virus tersebut bisa menular melalui luka yang terbuka.

5. Lakukan vaksin

Pencegahan HIV yang kelima adalah melakukan vaksin hepatitis A dan hepatitis B, serta melakukan tes secara teratur sangat baik untuk melindungi diri dari HIV.

6. Pre-exposure prophylaxis (PrEP)

PrEP merupakan metode pencegahan HIV dengan cara mengonsumsi antiretroviral bagi mereka yang berisiko tinggi tertular HIV. Yaitu mereka yang memiliki lebih dari satu pasangan seksual, memiliki pasangan dengan HIV positif, menggunakan jarum suntik yang berisiko dalam 6 bulan terakhir, atau mereka yang sering berhubungan seksual tanpa pengaman.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel