6 Perkembangan Terkini Pencarian Korban dan Puing Sriwijaya Air SJ 182

·Bacaan 7 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di kawasan perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu, 9 Januari 2021 masih terus dilakukan.

Bahkan sampai Sabtu petang, 16 Januari 2021, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri sudah menyerahkan delapan jenazah penumpang Sriwijaya Air SJ 182 yang telah berhasil diidentifikasi kepada pihak keluarga.

"Dapat kami infokan, pada hari ini, delapan jenazah telah diserahkan kepada keluarganya untuk dapat dimakamkan," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono saat konferensi Pers di RS Polri, Sabtu petang, 16 Januari 2021.

Dan pada hari ini, Minggu (17/1/2021), tim SAR gabungan kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 menargetkan akan menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat rute Jakarta-Pontianak itu.

"Dan yang enggak kalah penting juga isi dari CVR itu, harapan kita bisa temukan untuk hari ini," kata Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI Rasman MS di Jakarta International Container Terminal (JICT) II, Jakarta Utara, Minggu (17/1/2021).

Berikut deretan perkembangan terkini pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dihimpun Liputan6.com:

8 Jenazah Korban Sudah Diserahkan pada Keluarga

Petugas membawa peti jenazah berisi korban kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 atas nama Okky Bisma menuju mobil ambulans saat serah terima kepada pihak keluarga di RS Polri, Jakarta, Kamis (14/1/2021). Okky Bisma menjadi korban pertama yang berhasil teridentifikasi. (merdeka.com/Imam Buhori)
Petugas membawa peti jenazah berisi korban kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 atas nama Okky Bisma menuju mobil ambulans saat serah terima kepada pihak keluarga di RS Polri, Jakarta, Kamis (14/1/2021). Okky Bisma menjadi korban pertama yang berhasil teridentifikasi. (merdeka.com/Imam Buhori)

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri menyerahkan delapan jenazah penumpang Sriwijaya Air SJ 182 yang telah berhasil diidentifikasi kepada pihak keluarga. Serahterima jenazah dilakukan di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur.

"Dapat kami infokan, pada hari ini, delapan jenazah telah diserahkan kepada keluarganya untuk dapat dimakamkan," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono saat konferensi Pers di RS Polri, Sabtu petang, 16 Januari 2021.

Delapan jenazah korban Sriwijaya Air SJ 182 yang diserahkan atas nama Agus Winarni, Pipit Tiono, Aslan, Istiyuda Prastika, Ninda Amelia, Putri Wahyuni, Yohanes Suherni, dan Indah Halimah Putri.

"Delapan jenazah telah diterima keluarga untuk dimakamkan," ucap dia.

Dengan adanya penambahan ini, maka DVI Polri total telah menyerahkan 12 jenazah korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Tim DVI Polri Terima 188 Kantong Bagian Tubuh

Petugas membawa body part dari kapal Basarnas di JICT II Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (15/1/2021).  Badan SAR Nasional (Basarnas) kembali menerima paket kiriman hasil pencarian hari ketujuh. (Liputan.com/Faizal Fanani)
Petugas membawa body part dari kapal Basarnas di JICT II Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (15/1/2021). Badan SAR Nasional (Basarnas) kembali menerima paket kiriman hasil pencarian hari ketujuh. (Liputan.com/Faizal Fanani)

Komandan Disaster Victim Identification (DVI) Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Kombes Hery Wijatmoko, mengungkap pihaknya telah menerima data antemortem sebanyak 143 sampel DNA dari pihak keluarga korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

"Sampai pukul 09.00 WIB, sekarang tim sudah menerima sampel DNA sebanyak 351 sampel, terdiri dari 208 postmortem (dari bagian tubuh ditemukan) dan 143 antemortem," kata Hery dalam jumpa pers soal Sriwijaya Air SJ 182 di RS Polri, Jakarta Timur, Minggu (17/1/2021).

Hery melanjutkan, pagi ini, tim DVI juga telah menerima 188 kantong bagian tubuh. Sebanyak 162 kantong di antaranya sudah diperiksa, sisanya masih berproses.

"Kami periksa pagi ini, kami melakukan pemeriksaan dengan empat meja dengan empat tim lengkap termasuk dari INAFIS," jelas dia soal identifikasi korban Sriwijaya Air SJ 182.

Hery menjelaskan, pencocokan melalui sampel DNA jika jenis kelamin antara kedua data, antemortem dan postmortem sama, maka tim pemeriksa harus menentukan pemeriksaan lebih mendalam untuk dianalisa untuk mengetahui identitas korban.

"Hingga perkembangan korban berhasil diidentifikasi adalah sebanyak 24 jiwa, 15 jiwa menggunakan primer sampel DNA dan 12 dengan sidik," Hery menandasi.

Tim SAR Fokus Cari Korban di Titik Banyak Serpihan Pesawat

Anggota Tim SAR Gabungan saat mengevakuasi serpihan dari badan pesawat  Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Senin  (11/1/2021).  Pencarian tetap dilakukan baik untuk jenazah penumpang, serpihan potongan bagian pesawat terbang, maupun kotak hitam.  (merdeka.com/Arie Basuki)
Anggota Tim SAR Gabungan saat mengevakuasi serpihan dari badan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Senin (11/1/2021). Pencarian tetap dilakukan baik untuk jenazah penumpang, serpihan potongan bagian pesawat terbang, maupun kotak hitam. (merdeka.com/Arie Basuki)

Hari ke-9 evakuasi korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182, tim SAR gabungan bakal memfokuskan pencarian di titik dasar laut yang banyak terdapat serpihan pesawat.

Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI Rasman MS berharap, dengan memfokuskan pada pencarian di titik itu, bagian tubuh korban akan ditemukan.

"Ya tentu lebih difokuskan kepada titik-titik di mana di situ banyak serpihan-serpihan. Karena kalau serpihan di situ otomatis juga kalau nanti masih ada bagian tubuh tidak jauh dari situ," ucap Rasman soal pencarian korban Sriwijaya Air SJ 182 di Jakarta International Container Terminal (JICT) II, Jakarta Utara, Minggu (17/1/2021).

Sementara untuk di atas permukaan, Rasman menuturkan, tim SAR gabungan bakal memperluas area pencarian. Bukan hanya terbatas di empat titik yang sebelumnya telah ditentukan.

Pencarian di atas permukaan laut, lanjut dia, bergantung pada sejumlah faktor. Misal arah angin dan kondisi cuaca.

"Sementara untuk di atas permukaan, tetap kita tidak fokus pada empat sektor tapi kita perluas, dengan pelajari dari kondisi cuaca khususnya angin. karena angin ini akan membawa arus dan cenderung kepada dari utara ke selatan berarti lebih kepada pantai, pantai utara dari kepulauan ini," ujar Rasman.

Target Temukan CVR

Kondisi Black box pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Kepulauan Seribu di Dermaga JICT, Jakarta, Selasa (12/1/2021). Black box yang terdiri dari dua kombinasi perangkat yaitu CVR atau percakapan dalam kokpit pesawat dan FDR atau rekaman data penerbangan. (Liputan6.com/johan Tallo)
Kondisi Black box pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Kepulauan Seribu di Dermaga JICT, Jakarta, Selasa (12/1/2021). Black box yang terdiri dari dua kombinasi perangkat yaitu CVR atau percakapan dalam kokpit pesawat dan FDR atau rekaman data penerbangan. (Liputan6.com/johan Tallo)

Rasman juga mengatakan, tim SAR gabungan kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 menargetkan akan menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat rute Jakarta-Pontianak itu pada hari ini, Minggu (17/1/2021).

"Dan yang enggak kalah penting juga isi dari CVR itu, harapan kita bisa temukan untuk hari ini," kata dia.

Menurut dia, CVR amat diperlukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) guna melengkapi data investigasi untuk mengetahui penyebab kecelakaan pesawat Sriwijaya Air yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta tersebut.

"Sementara untuk CVR kita masih mencari jadi hari ini mudah-mudahan kita bisa mendapatkan sehingga bisa melengkapi data yang dibutuhkan KNKT untuk proses penyebab terjadinya kecelakaan tersebut," terang Rasman.

CVR atau perekam suara kokpit merupakan salah satu bagian dari kotak hitam atau black box pesawat. Fungsi dari kotak hitam adalah untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan.

Gunakan ROV untuk Cari CVR

Kondisi Black box atau kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Kepulauan Seribu diperlihatkan di Dermaga JICT, Jakarta, Selasa (12/1/2021). Meski FDR sudah ditemukan, namun Cockpit Voice Recorder (CVR) masih dalam proses pencarian.  (Liputan6.com/Johan Tallo)
Kondisi Black box atau kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Kepulauan Seribu diperlihatkan di Dermaga JICT, Jakarta, Selasa (12/1/2021). Meski FDR sudah ditemukan, namun Cockpit Voice Recorder (CVR) masih dalam proses pencarian. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan dan Kesiapsiagaan Basarnas Bambang Suryo Aji mengungkapkan, sinyal yang dipancarkan oleh cockpit voice recorder (CVR) pesawat Sriwijaya Air SJ 182 sudah tidak aktif alias mati.

Matinya sinyal CVR ini membuat pencarian terhadap salah satu bagian kotak hitam pesawat itu sukar dilakukan.

"Persoalannya sinyalnya yang ada di CVR itu sudah tidak memunculkan sinyal, sehingga pencarian dengan finder locator ini sudah tidak bisa seperti itu," kata Suryo.

Untuk itu, lanjut dia, pencarian CVR Sriwijaya Air yang paling efektif ialah menggunakan Remotely Operated Underwater Vehicle (ROV) atau kendaraan operasi bawah laut.

Menurut dia, ROV bisa bekerja secara efektif manakala suasana dasar laut dalam kondisi tenang, sehingga benda-benda yang berada di dasar sana dapat cukup jernih untuk dikenali.

"Yang efektif adalah dengan menggunakan ROV, kerja ROV. itu maksimal bisa dilaksanakan yang terbaik adalah pada saat malam hari ketika tim penyelam sudah berkurang. Dia membutuhkan suasana di kedalaman itu yang jernih. Sehingga bisa maksimal melihat barang-barang yang ada di bawah," jelas Suryo.

Basarnas Pertimbangkan Perpanjangan Pencarian

Basarnas menerjunkan robot bawah air ROV untuk mencari black box dan korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu. (Dok Istimewa)
Basarnas menerjunkan robot bawah air ROV untuk mencari black box dan korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu. (Dok Istimewa)

Perpanjangan pertama masa pencarian korban dan CVR Sriwijaya Air SJ 182 berakhir Senin 18 Januari 2021.

Suryo pun mengaku belum bisa memastikan kelanjutan dari pencarian tersebut. Menurut dia, perpanjangan pencarian korban dan CVR Sriwijaya Air SJ 182 itu bergantung pada kondisi di lapangan.

"Kita melihat hasil nanti karenakan perpanjangan pertama itu kan sampai dengan hari Senin. Nanti akan kita evaluasi bagaimana, apakah mau diperpanjang atau tidak menunggu hasil evaluasi besok," kata Suryo.

Menurut dia, ada dua pertimbangan utama untuk memperpanjang pencarian tersebut, yakni soal belum ditemukannya cockpit voice recorder (CVR) dan juga korban.

"Jadi begini, kita lihat situasi di lapangan kemudian juga ada beberapa instrumen pesawat yang belum ditemukan seperti CVR dan lain-lain. Kemudian korban juga saya lihat setiap hari masih banyak kita mengevakuasi bagian tubuh korban, nanti kita lihat perkembangannya apakah di sana berkurang atau lain karena pengaruh sudah terbawa arus dan sebagainya," kata Suryo.

Ada juga pertimbangan dari keluarga yang menginginkan agar korban Sriwijaya Air SJ 182 dapat ditemukan.

"Sehingga pertimbangan ini juga menjadikan perhatian kita dihadapkan dengan pihak keluarga korban. Mungkin dia menginginkan keluarganya yang mendapatkan musibah ini bisa diidentifikasi, kalau di lapangan masih kelihatan banyak korban yang masih kita evakuasi kita akan terus melaksanakan evakuasi," ujar Suryo.

Suryo mengaku masalah cuaca cukup jadi kendala tersendiri bagi tim untuk melakukan pencarian. Pasalnya angin serta arus bawah yang cukup kencang di sekitar area pencarian membuat sejumlah serpihan pesawat lumayan jauh terbawa.

"Cuaca yang menjadi persoalan sekarang adalah memang cuaca, karena di tempat lokasi itu selain angin dan arus bawah itu yang cukup kencang mempengaruhi kita untuk melaksanakan pencarian khususnya untuk pencarian CVR maupun bagian body part," jelas Suryo.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: