6 Pernyataan Terkini Moeldoko Tanggapi soal Kudeta Ketum Partai Demokrat

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko kembali bicara soal dirinya disebut sebagai salah satu nama yang ingin mengkudeta kursi Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY.

Selain membantah, Moeldoko bahkan menyebut isu kudeta tersebut sebagai dagelan alias lucu-lucuan saja.

"Dibilangin mau jadi presiden lah, yang enggak-enggak aja itu, kerjaan gua setumpuk begini, ngurusi yang enggak aja. Janganlah membuat sesuatu, menurut saya kayak dagelan aja gitu, lucu-lucuan," ujar Moeldoko dalam konpers di kediamannya, Rabu, 3 Desember 2021.

Ia pun mengingatkan kepada Partai Demokrat agar tidak asal menuduh terkait kudeta kursi Ketua Umum Partai Demokrat itu.

Menurut Moeldoko, saat ini tidak hanya dirinya yang terseret melainkan politisi lain juga dituduh terkait kudeta tersebut.

"Jangan lagi nembak kanan-kiri main pukul orang ditembak, ya Pak Yasonna Laoly kena lah siapa lagi tuh? PKB ditembak lah. Nasdem ditembak katanya biar... wong apa urusannya? itu ketawa semua itu. Apa ya urusannya?" kata Moeldoko.

Berikut sederet pernyataan terbaru Moeldoko soal isu dirinya disebut sebagai salah satu nama yang ingin mengkudeta kursi Ketua Umum Partai Demokrat AHY dihimpun Liputan6.com:

Anggap Sebagai Dagelan

Kepala Staf Presiden Dr. Moeldoko saat pengambilan gambar video lagu Ra Mudik Ra Popo (Foto: Istimewa)
Kepala Staf Presiden Dr. Moeldoko saat pengambilan gambar video lagu Ra Mudik Ra Popo (Foto: Istimewa)

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko membantah tudingan ingin mengkudeta kursi Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY. Moeldoko bahkan menyebut isu kudeta sebagai dagelan alias lucu-lucuan saja.

"Dibilangin mau jadi presiden lah, yang enggak-enggak aja itu, kerjaan gua setumpuk begini, ngurusi yang enggak aja. Janganlah membuat sesuatu, menurut saya kayak dagelan aja gitu, lucu-lucuan," kata Moeldoko dalam konpers di kediamannya, Rabu, 3 Februari 2021.

Demokrat Tak Perlu Takut

Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko bertemu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kampayekan protokol kesehatan 3 M melalui pendekatan budaya (Foto:KSP)
Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko bertemu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kampayekan protokol kesehatan 3 M melalui pendekatan budaya (Foto:KSP)

Moeldoko yang merupakan mantan Panglima TNI di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY itu menyatakan, pertemuannya dengan sejumlah kader Demokrat hanyalah obrolan santai sembari minum kopi.

"Bingung juga saya, orang ngopi-ngopi kok bisa ramai begini, apalagi ada groginya apa sih urusannya ini. Saya ngopi aja. Beberapa kali di sini, dan di luarnya ya biasa. Dan saya ini siapa sih? Saya ini apa? Biasa-biasa saja," tutur dia.

Moeldoko meminta pihak AHY tidak takut kehilangan kursi Ketua Umum.

"Di Demokrat ada Pak SBY ada putranya Mas AHY, apalagi kemarin dipilih secara aklamasi, kenapa mesti takut ya, kenapa mesti menanggapi seperti itu. Orang saya biasa-biasa saja," terang dia.

Menurutnya, isu kudeta di Demokrat hanyalah dinamika politik internal parpol yang biasa terjadi.

"Jadi dinamika dalam parpol itu biasa, Dan LBP juga pernah cerita sama saya, saya juga dengan mereka-mereka, saya juga sama, tapi enggak ribut begini. Terus Moeldoko mau kudeta? Apaan yang mau dikudeta?" ucapnya.

"Anggaplah begini ya, saya punya pasukan bersenjata anggaplah Panglima TNI pengen jadi Ketua Demokrat, emangnya gua bisa itu gua todong senjata ke DPP, ayo datang sini gua todongin senjata," tambah dia.

Akui Bertemu Sejumlah Kader Partai Demokrat

Kepala Staf Presiden RI, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Kepala Staf Presiden RI, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Kemudian, Moeldoko menyatakan pertemuan dengan sejumlah kader Partai Demokrat dilakukan di rumahnya dan beberapa tempat lain, salah satunya di hotel.

"Beberapa kali di rumah saya. Ya ada di hotel, di mana-mana. Tidak terlalu pentinglah. Intinya kan aku datang diajak ketemuan. Ya wong saya biasa. Di kantor saya itu, setiap hari menerima orang. Menerima berbagai kelompok di kantor saya," kata dia.

Moeldoko menyatakan pertemuan dirinya dengan siapa saja dan di mana saja adalah haknya.

"Yang marah saya suruh marah-marah. Emosimu keluarkan, marah-marah saja. Biar saya paham apa yang kalian pikirkan. Jadi apa yang salah gitu lho. Aku mau pertemuan di mana kan hak saya. Ngapain Ikut campur," ucap Moeldoko.

Moeldoko tidak membeberkan berapa kali pertemuan itu dilakukan. Ia juga tidak memberi tahu apakah ada nama-nama kader Demokrat seperti Nazaruddin dalam pertemuan tersebut.

"Ya masa saya hitung kan tidak perlu dihitung. Ya banyak, biasa kita ketemu. Saya tidak peduli ini siapa wong saya itu hanya datang aja ngobrol saja," ucap dia.

Selain itu, Mantan Panglima TNI itu juga enggan membahas topik pembicaraan dalam pertemuan itu. Menurutnya, hal itu urusan Demokrat.

"Itu urusan intern partai lah. Kan tidak etis lah kalau saya bicara. Itu urusan partai," papar dia.

Sudah Pusing Urus Covid-19

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko memberi paparan dalam Dialog Nasional II Pembangunan Ibu Kota Negara, di Jakarta, Rabu (26/6/2019). Moeldoko memaparkan terkait kondisi keamanan dan pertahanan Indonesia menghadapi rencana ibu kota dipindahkan ke Kalimantan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko memberi paparan dalam Dialog Nasional II Pembangunan Ibu Kota Negara, di Jakarta, Rabu (26/6/2019). Moeldoko memaparkan terkait kondisi keamanan dan pertahanan Indonesia menghadapi rencana ibu kota dipindahkan ke Kalimantan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski telah membantah, Moeldoko mengakui pernah meminum kopi bersama orang partai. Moeldoko menyebut acara ngopi itu hanya informal atau acara pribadi dan tidak butuh izin dari Presiden Jokowi.

"Jadi kalau kita bicara human capital itu bukan intelektual capital yang tepat, emotional capital. Jadi tenang merespon sesuatu. Masa gua ngopi harus izin presiden? gila apa? ngopi-ngopi aja kok harus presiden, izin presiden tau? yah berlebihan, jangan begitu lah ya, biasa lah itu internal parpol. Aku orang luar ini. Enggak ada urusannya itu di dalam," terang dia.

Moeldoko juga menegaskan tak ada pembicaraan dirinya dengan presiden terkait isu kudeta yang dituduhkan padanya.

"Bicara apa? Emang kurang kerjaan apa presiden saya bicara ini? Urusan kepada pekerjaan urusi covid aja sudah gak karu-karuan kita pusing, ngapain mikirin yang nggak penting?" kata dia.

Terkait Partai Demokrat yang menunggu klarifikasi presiden, menurutnya hal itu tidak perlu sebab ia sendiri sudah menjelaskan ke media secara clear.

"Ya tadi itu artikan sendiri lah nanti itu, ya orang ngopi-ngopi kok lapor ke presiden, yang nggak-enggak aja. Itu aja lah ya kira-kira. Clear kan ya," ucap dia.

Tak Pernah Bicara soal Capres

Kepala Staf Presiden Moeldoko saat wawancara dengan KLY di Jakarta, Rabu (16/1). Dalam wawancara tersebut Moeldoko memaparkan kinerja kerja pemerintahan Jokowi-JK hingga saat ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Kepala Staf Presiden Moeldoko saat wawancara dengan KLY di Jakarta, Rabu (16/1). Dalam wawancara tersebut Moeldoko memaparkan kinerja kerja pemerintahan Jokowi-JK hingga saat ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Moeldoko mengaku dirinya tidak pernah bicara ke publik terkait pencalonan dirinya di Pilpres 2024. Ia menyebut isu dirinya maju Pilpres justru dilontarkan Partai Demokrat.

Ia bahkan berseloroh mengaku bersyukur telah diorbitkan dalam bursa capres.

"Urusan 2024 pernah kah saya berbicara selama ini tentang 2024? Nggak pernah. Kalau yang mengorbitkan di sana, ya alhamdulillah kan gitu," kata Moeldoko.

Saat ini, Moeldoko mengaku hanya fokus pada pekerjaannya di pemerintahan.

"Saya itu orang yang mencintai pekerjaan. Saya orang profesional dan itu bisa saya tunjukkan di mana pun. Saya profesional. Saya tidak pernah mengemis jabatan, saya bisa berdiri sebuah keyakinan saya itu," terang dia.

Mantan Panglima TNI itu mengaku tidak mau menganggap dirinya korban isu kudeta Demokrat. Ia justru menikmati dan tak masalah isu tersebut terus diributkan.

"Saya menikmati aja, kalau saya menikmati aja gak apa-apa. Silahkan aja, mau diributkan lagi makin bagus lagi," ucap dia.

Selain itu, saat ditanya apakah dirinya memiliki keinginan untuk maju capres atau cawapres. Moeldoko tidak membenarkan dan juga tidak membantah.

"Enggak usah, pertanyaannya gak usah nakal gitu," jawab Moeldoko kemudian tertawa.

Ingatkan Demokrat Jangan Memfitnah Orang

Refleksi Moeldoko di Hari Kesaktian Pancasila (Foto:KSP)
Refleksi Moeldoko di Hari Kesaktian Pancasila (Foto:KSP)

Moeldoko lantas mengingatkan Partai Demokrat agar tidak asal menuduh terkait kudeta kursi Ketum Demokrat.

Menurutnya, saat ini tidak hanya dirinya yang terseret melainkan politisi lain juga dituduh terkait kudeta tersebut.

"Jangan lagi nembak kanan-kiri main pukul orang ditembak, ya Pak Yasonna Laoly kena lah siapa lagi tuh? PKB ditembak lah. Nasdem ditembak katanya biar... wong apa urusannya? itu ketawa semua itu. Apa ya urusannya?," papar dia.

Moeldoko mengingatkan pihak Demokrat agar jangan memfitnah orang lain.

"Jadi saya ingatkan hati-hati jangan memfitnah orang. Hati-hati saya udah ingatkan," ucap dia.

Saat ini, kata Moeldoko, ia belum berencana untuk bertemu Ketua umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ataupun Presiden ke enam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Saya enggak ngerti ya, menurut saya sih enggak ada apa-apa. Bagi saya sih enggak ada apa-apa," jelas Moeldoko.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: