6 Remaja Agen Perubahan, Perancang Lengan Buatan hingga Aktivis Lingkungan

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Masa remaja identik sebagai periode menuntut ilmu, asyik membangun jejaring, maupun momen mencari jati diri. Namun, tak sedikit pula remaja yang memilih mengisi masa muda dengan jadi agen perubahan.

Peran aktif remaja ini tak jarang membangkitkan semangat dan menginspirasi teman seusia mereka, bahkan publik secara luas. Beberapa di antaranya ada yang menciptakan inovasi hingga membangun komunitas untuk membantu sesama.

Siapa saja para remaja yang inspiratif tersebut? Simak selengkapnya seperti dilansir dari laman People, Selasa (18/5/2021), seperti di bawah ini.

1. Jordan Reeves

Lahir tanpa bagian bawah lengan kirinya, Jordan Reeves melihat peluang di mana orang lain mungkin hanya melihat keterbatasan. Di usia 10 tahun, ia menemukan protesis 3D-printed glitter-blasting yang ditampilkan di Marvel's Hero Project. "Ketika orang mendengar tentang disabilitas, mereka berpikir, 'Oh, itu sangat menyedihkan,'. Tapi ini mengubahnya jadi sesuatu yang menyenangkan," katanya.

Sejak saat itu, ia telah merancang merancang lengan "Swiss Army" dengan berbagai alat yang terpasang. Ia bekerja sama dengan Microsoft, membuat prototipe gitar yang dapat dimainkan kaum disabilitas.

"Percaya pada diri sendiri. Jika Anda memiliki sesuatu yang Anda sukai, ikuti perjalanannya, lihat ke mana perginya," jelasnya. Ini pula yang jadi mantra Reeves dan ibunya, Jen, dalam memperkuat lewat lembaga nonprofit Born Just Right, yang menawarkan pendidikan STEM online dan sumber daya desain untuk disabilitas.

"Sasarannya adalah kesadaran. Jadi, orang yang membuat sesuatu membuat hal itu berhasil untuk semua orang," tambah remaja berusia 15 tahun ini.

2. Nijel Murray

Nijel Murray, pendiri Klothes 4 Kids, sebuah organisasi nirlaba yang memasok pakaian, perlengkapan mandi, buku, mainan, dan kebutuhan penting lainnya untuk anak-anak asuh. (dok. Instagram @klothes4kidslv/https://www.instagram.com/p/B6mjbSvn26m/)
Nijel Murray, pendiri Klothes 4 Kids, sebuah organisasi nirlaba yang memasok pakaian, perlengkapan mandi, buku, mainan, dan kebutuhan penting lainnya untuk anak-anak asuh. (dok. Instagram @klothes4kidslv/https://www.instagram.com/p/B6mjbSvn26m/)

Empat tahun lalu, setelah seorang saudara angkat tiba di rumah Nijel Murray dengan hanya membawa kantong sampah berisi pakaian tidak pas, ia yang menyukai mode itu mendapat pencerahan.

"Saya benar-benar merasakannya dan anak-anak lain yang harus melalui itu," kata remaja 17 tahun asal Las Vegas ini. "Saya pikir saya bisa melakukan sesuatu untuk mengubah banyak hal."

Dibantu orangtuanya, ia meluncurkan Klothes 4 Kids, sebuah organisasi nirlaba yang memasok pakaian, perlengkapan mandi, buku, mainan, dan kebutuhan penting lain untuk anak-anak asuh. Bekerja sama dengan agen layanan sosial setempat, Murray telah mendistribusikan lebih dari dua ribu tas.

"Itu membuat saya lebih bersyukur atas apa yang saya miliki," kata Murray, yang berencana untuk belajar bisnis di University of Nevada, Las Vegas. "Dan itu memberi saya kegembiraan karena menyediakan kebutuhan (bagi) orang lain."

3. Ankitha Kumar

Ketika pandemi melanda, Ankitha Kumar mulai menerima teks bernada panik dari siswa yang ia bantu di pusat bimbingan belajar setempat. Siswa sekolah menengah atas dari Inver Groves Heights, Minnesota ini memutuskan menawarkan sesi virtual gratis pada anak-anak dari segala usia.

Karena kewalahan dengan permintaan, remaja berusia 18 tahun ini dan dua temannya meluncurkan ConneXions Tutoring, yang mengkhususkan diri pada kursus umum, persiapan ACT, dan bantuan pencarian beasiswa. Sekarang dengan 17 sukarelawan, Kumar telah bekerja dengan 365 siswa di 50 negara bagian dan 12 negara.

"Saya suka melihat mereka memiliki momen 'aha' ketika sebuah konsep berhasil," kata Kumar, yang berencana kuliah di Emory University dan tetap jadi penasihat ConneXions, yang akan melanjutkan sesi virtual pascapandemi. "Saya senang bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka."

4. Isha Clarke

Isha Clarke, aktivis lingkungan. (Tangkapan Layar Instagram @curlyqisha/https://www.instagram.com/p/BXwt--nhZT3/)
Isha Clarke, aktivis lingkungan. (Tangkapan Layar Instagram @curlyqisha/https://www.instagram.com/p/BXwt--nhZT3/)

Sebagai seorang anak, Isha Clarke mendengarkan cerita aktivisme kakeknya di era 60-an. "Itu sangat personal," kata remaja berusia 18 tahun yang akan kuliah di Howard University pada Agustus 2021 itu. "Saya merasa seperti memiliki ini dalam darah saya."

Ia menemukan panggilannya sendiri sebagai aktivis keadilan iklim selama tahun pertama di sekolah menengah, setelah memprotes pembangunan terminal batu bara di West Oakland.

Pada 2019, ia termasuk di antara sekelompok anak muda yang menarik perhatian dunia ketika permohonan mereka pada Senator Dianne Feinstein untuk bergabung dengan Green New Deal menjadi viral.

Sebagai anggota pendiri Youth vs. Apocalypse, sebuah kelompok yang memperjuangkan kebijakan iklim yang adil dan berkelanjutan, Clarke menghabiskan satu tahun jeda untuk memberi presentasi pada siswa sekolah menengah, melobi pembuat undang-undang, dan menyusun strategi untuk kampanye baru.

"Kami berjuang untuk membangun dunia tempat semua makhluk hidup dapat berkembang," kata Clarke. "Saya yakin kita bisa melakukannya di generasi ini."

5. Joy Ruppert

Diadopsi dari Chongqing, China, ketika berusia satu tahun, Joy Ruppert telah mengalami ketidakpekaan rasial yang sama. "Orang-orang menarik pandangan mereka ke belakang atau mencoba berbicara bahasa Jepang dengan saya," kata remaja berusia 16 tahun ini. "Hal-hal itu seharusnya tidak terjadi hari ini, tapi memang begitu."

Bertekad untuk mengakhiri diskriminasi rasial, Ruppert bergabung dengan Encinitas4Equality, mengorganisir protes sebagai pemimpin pemuda untuk kelompok komunitas lokal. Ia lantas mengasah pesan itu sebagai wakil presiden badan siswa di sekolahnya, mempelopori koalisi yang telah melobi distrik untuk kurikulum yang lebih beragam, dan amandemen anti-rasis pada buku pegangan siswa.

"Setiap orang harus merasa didengarkan, disambut, dan diwakili. Itu tujuan saya," kata Ruppert.

6. Jose Rodriguez Jr.

Jose Rodriguez Jr., pendiri Tasium. (dok. Instagram @tasiumceo/https://www.instagram.com/p/COY5if1BTJa/)
Jose Rodriguez Jr., pendiri Tasium. (dok. Instagram @tasiumceo/https://www.instagram.com/p/COY5if1BTJa/)

Pada September 2018, Jose Rodriguez Jr. terinspirasi saat membantu saudaranya, Joel, seorang autis, mencari mainan untuk mengatasi kecemasannya. Barang yang dimaksud, yakni kaus dengan mainan yang bisa diiganti-ganti dan terpasang dengan hati-hati agar tidak hilang.

Senior dari Cumberland, Rhode Island ini mengajukan konsep tersebut ke kompetisi wirausaha muda nasional. Remaja berusia 17 tahun ini mengalahkan 20 ribu peserta lainnya dan menghasilkan 12 ribu dolar AS untuk mematenkan, sekaligus memproduksi produknya.

Perusahaannya Tasium (anagram autisme) berjalan dengan baik, menurut Rodriguez, yang akan kuliah di Babson College di Massachusetts, tetapi misi utamanya masih melayani. Ia mendonasikan seperempat dari kausnya untuk organisasi pendukung autisme dan berharap suatu hari Tasium akan mensponsori Special Olympics.

"Saya ingin membantu orang-orang seperti saudara laki-laki saya," katanya.

Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel