6 Tahun Berlalu, Untung Sangaji Kembali Singgung Teror Bom Thamrin di Medsos

Merdeka.com - Merdeka.com - Masih ingat AKBP Untung Sangaji. Perwira Menengah Pusat Pendidikan Polisi Air Lembaga Pendidikan dan Latihan Polri jadi polisi pertama yang melumpuhkan aksi teror bom di Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari 2016 silam.

Kini, setelah enam berlalu, Untung Sangaji kembali menceritakan momen di balik pelumpuhan aksi terpr bom Thamrin.

Hari itu matahari terlihat cerah menyinari ibukota, aktivitas berjalan seperti biasa Selasa 14 Januari 2016 silam. Termasuk AKBP Untung Sangaji yang kala itu hendak berangkat bertugas tak lupa menyantap sarapan sang istri sebagai energi memulai hari.

Setelah perut terisi, tak lupa Unting berpamitan dengan sang istri sambil memeluknya. Disitu terucap kata dari sang istri "Hati-Hati." Sepatah ucapan lumrah harapan keselamatan dari orang tersayang.

"Istri sudah tahu benar tugas beta hari itu, karena melihat kesiapan beta, yang harus bersiaga penuh setelah banyak ancaman teror muncul kepada gereja-gereja dan masjid di Jakarta," kata Untung lewat akun twitternya dikutip merdeka.com, Sabtu (31/12).

Bertugas di tengah ramainya teror kala itu telah menjadikan sosok sebagai Anggota yang selalu waspada. Dengan tugas mengamankan situasi di luar ring Istana Presiden, membuat ia dan tim pun selalu siaga.

"Ketika itu ramai berita ancaman teror bom oleh ISIS, yang disebut sebagai "konser"," ucapnya.

Bersama timnya, Untung turut stand by di sekitaran Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Kala itu sambil menyeruput kopi Walnut Bakery & Café melihat aktivitas masyarakat.

Mengawasi setiap lalu-lalang masyarakat dan kendaraan. Hingga seruputan kopi mencapai setengah cangkir 'Duar' suara ledakan terdengar dari arah pos polisi penjagaan lalu lintas di Depan Mall Sarinah.

Tak selang beberapa waktu, ledakan kedua kembali terdengar 'Duar'. Meski kaget mendengar suara itu, namun Untung yang bertanggung jawab mengawasi area tersebut dengan sigap segera mengeceknya seusai meminta persetujuan dari atasan.

"Di situlah beta langsung ambil magasin sambil telpon atasan beta, dan beliau perintahkan untuk laksanakan tugas dengan keahlian yang dimiliki sambil tunggu pasukan lain datang," tururnya.

Dengan seragam kemeja putih celana tactical abu-abu, Untung segera mengecek titik ledakan di pos penjagaan lalu lintas Thamrin, yang ternyata sudah ada korban anggota Polantas yang menjadi korban ledakan.

Saat itu yang terbayang dari pria kelahiran 6 Juni 1965, lulusan Sepa 1995 hanyalah menolong korban mengantisipasi jatuhnya nyawa dengan segera mengevakuasi ke mobil.

Di tengah situasi genting saat ada teror bom nyata didepan mata, terlihat sikap masyarakat bikin Untung geleng-geleng kepala. Lantaran sikap mereka yang malah mengelilingi petugas seraya ingin melihat kejadian yang terjadi.

"Kami angkat ke mobil. nggak lama, banyak orang mengelilingi kami. bukan bantu angkat korban, tapi malah selfie-selfie," ucap Untung.

Benar saja dua ledakan yang menyasar tempat kejadian (TKP) ternyata bukan teror terakhir. Tiba-tiba ada tembakan dari sang peneror yang menyasar dua anggota polisi dan satu warga hingga jatuh.

Dengan kondisi masih dalam posisi menolong korban, Untung segera meminta rekan yang lain untuk melanjutkan evakuasi. Sementara dirinya segera mengambil posisi menyisir pelaku penembakan.

Berbekal senjata handgun tua Special Infinity 1911 dengan tujuh magasin, satu terpasang, enam tersimpan di pinggang untuk reload. Secara perlahan mendekat penuh hati-hati, disana terlihatlah pelaku yang ternyata masih memegang bom dan bersiap untuk lempar.

"Saat itu ada petugas lain di pos mereka pakai body face anti peluru, helm anti peluru dan senjata panjang," katanya.

Untung yang sudah berhadapan dengan para pelaku teror ini pun melangsungkan baku tembak. Tak lama baku tembak terjadi, namun situasi genting itu sangat mempertaruhkan nyawa karena yang dihadapinya sosok terlatih.

"Kontak senjata dengan tersangka pun terjadi. nggak lama, kalau saya hitung dengan jam tangan itu 11 menit 45 detik. pelakunya ini terlatih, kenapa?" kata Untung.

"Dia santai bawa bom di tasnya. pelaku satunya juga bawa tapi yang kecil-kecil untuk dilemparkan. Mobil Karo Ops juga sempat kena sasaran. Saat kena bom, keangkat itu mobil beberapa centimeter, terus jatuh lagi," tambah dia.

Setelah mendapatkan perhitungan yang matang berbekal senjata Special Infinity 1911 dengan kemampuan menembus dua body mobil yang jadi tempat berlindung sang teror. Timah panas pun dilepaskan, hingga menembus dua mobil sampai terkena lutut si peneror.

"Jarak beta dengan pelaku nggak jauh, sekitar 15-20 meter. tapi dia ini lari ke sana ke sini, bingung, dan tahu-tahu kita berhadapan, dan tahu-tahu juga beta tinggal sendirian--saat memburunya. ya sudah beta “layani” dengan baik," ujarnya.

Usai si peneror saru tertembak bagian lutut, bom yang dibawanya pun jatuh. Untung segera mengambil tindakan menembak bomnya sebelum dilempar. Akhirnya meledak di situ di lahan kosong parkiran meski serpihannya kena sekitar.

Serpihan itu menjadi senjata makan tuan, karena mengenai si peneror kedua. Karena sudah tersungkur, Untung segera menyergap memukul kepala dan dada dalam rangka melumpuhkan.

"Memang sudah risiko yang harus dihadapi. lebih baik mati untuk banyak orang daripada banyak orang mati untuk kita. Itu prinsip antiteror. Waktu itu pelaku bawa bom dan senjata genggam. Bom di tangan kiri, senjata genggam di tangan kanan," terangnya gambarkan situasi saat itu.

Benar saja tas yang dibawa si peneror ternyata menyimpan bom berukuran besar. Setelah dicek Tim Gegana, bom tersebut berukuran diameter 20 cm dan panjang 40 cm. Kalau meledak radius serpihanya bisa ratusan meter dan mungkin nyawa Untung bisa tak selamat.

"Bahaya. Jadi gitu, jarak beta dengan pelaku dekat sekali. nggak ada kesempatan untuk lari," katanya.

"Yang bikin saya geleng-geleng. banyak orang nonton. kayak film koboi saja. Mereka nonton kita baku hantam. Kayak ada atraksi apa gitu. Padahal sudah ada korban di Starbucks maupun pos polisi," jelasnya.

Kondisi seperti itu mengingatkan Untung ketika dirinya bertugas di Aceh berhadapan dengan musuh bersenjata di tengah hutan penuh serbuan tembakan dalam kondisi gelap gulita.

"Bukan main memang teroris, sudah tidak punya kemanusiaan, membunuh orang seenaknya. makanya saya ambil tindakan cepat," tegasnya.

Dibenak Untung kala itu sudah tidak berpikir keselamatan diri, yang hanya dipikirkan bagaimana menyelamatkan banyak orang. Karena filosofinya sebagai Anggota adalah ‘lebih baik mati sendiri demi banyak orang daripada banyak orang mati demi kita.'

Akhir cerita, "Sementara anggapan teroris adalah akan ‘masuk surga’ karena membunuh banyak orang. Kalau kita, semoga masuk surga karena melindungi banyak orang. Sekian dulu, beta lanjutkan kapan-kapan," imbuhnya.

Tulisan ini merupakan sisi di balik teror bom Sarinah, dari sudut pandang AKBP Untung Sangaji sosok anggota yang ikut terlibat menumpas aksi teror tersebut bersama anggota lainnya yang kini menjabat sebagai Kepala Bagian Pengadaan Biro Logistik (Kabagada Rolog) Polda Papua.

"Tragedi Bom Sarinah, Thamrin, cerita itu masih jadi salah satu memori yang tidak terlupakan. beta ingin kembali ceritakan tragedi saat itu, dari sudut pandang beta pribadi," ujarnya.

Dalam serangan kelompok teror itu diketahui delapan orang tewas dan 27 luka. Empat dari delapan jenazah itu merupakan pelaku teror. Pelaku tewas setelah melakukan bom bunuh diri dan tertembak polisi. Sementara empat korban tewas akibat terkena ledakan dan tembakan pelaku teror. [rhm]