60 Persen Daratan Eropa dan Inggris Kekeringan Parah, Bisa Berdampak ke Industri

Merdeka.com - Merdeka.com - Enam puluh persen daratan di Uni Eropa (UE) dan Inggris dalam keadaan siaga kekeringan. Demikian menurut Observatorium Kekeringan Eropa.

Dilansir dari CNN, Rabu (10/8), temuan ini didasarkan pada data dari periode 10 hari menjelang akhir Juli. Pemantau mengatakan 45 persen tanah sekarang ditandai dengan "peringatan", yang berarti ada defisit kelembapan di tanah, sementara 15 persen berada di bawah tingkat "waspada" yang lebih parah.

Data tersebut bertepatan dengan laporan yang diterbitkan Senin lalu oleh badan pemantau iklim Uni Eropa Copernicus, yang mengatakan bahwa sebagian besar Eropa mengalami kering berlebih dari rata-rata di bulan Juli. Di wilayah Barat Eropa curah hujan mencatat rekor terendah dan kekeringan melanda beberapa bagian barat daya dan Eropa Tenggara.

Kondisi tersebut memicu kebakaran hutan di saat beberapa bagian Eropa mengalami gelombang panas yang parah. Kondisi ini menjadi salah satu musim panas terpanas di Benua Biru.

Data baru ini muncul saat dunia bergulat dengan krisis pangan yang baru saja mereda setelah Rusia mencabut blokade ekspor gandum dari Ukraina. Cuaca ekstrem dan masalah rantai pasokan telah memperburuk krisis dan kemungkinan akan bertahan selama beberapa waktu.

Sebuah laporan baru-baru ini oleh Pusat Penelitian Gabungan, layanan sains Komisi Eropa, memperkirakan penurunan delapan sampai sembilan persen dalam produksi biji-bijian jagung, bunga matahari dan kedelai di Uni Eropa karena kondisi panas dan kering selama musim panas, jauh di bawah rata-rata lima tahunan.

Ilmuwan Senior Copernicus Freja Vamborg mengatakan kondisi kering dengan suhu tinggi dan tingkat curah hujan yang rendah mungkin memiliki efek buruk pada produksi pertanian dan industri lain seperti transportasi sungai dan produksi energi.

Reporter Magang: Gracia Irene [pan]