61 Bendungan Kelar 2024, Produksi Pertanian Bakal Naik 200 Persen

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, pemerintah kini fokus meningkatkan produksi pertanian untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Salah satunya dengan membangun 61 bendungan baru yang targetnya selesai pada 2024.

"Kami sampaikan ada 61 bendungan yamg mulai dibangun 2014-2019. Yang 16 sudah selesai, yang 45 dilanjutkan pada 2020," kata Menteri Basuki dalam sesi teleconference, Rabu (18/11/2020).

Untuk tahun ini, ia memproyeksikan beberapa bendungan baru mulai melakukan pengisian awal (impounding). Seperti Bendungan Tapin di Kalimantan Selatan dan Bendungan Pasar Loreng di Sulawesi Selatan.

Secara dampak, Menteri Basuki melanjutkan, jika pembangunan 61 bendungan rampung di 2024, maka suplai air ke jaringan irigasi akan meningkat sekitar 19 persen, atau sebanyak 1.169 ha.

Dengan begitu, ia menyimpulkan seluruh waduk tersebut bakal meningkatkan indeks pertanaman sekaligus produksi pertanian guna menyokong program ketahanan pangan nasional. Sebab selama ini kegiatan pertanian masih banyak bergantung pada sistem irigasi.

"Daerah irigasi dan pertanian saja tergantung dengan hujan. Kalau daerah irigasi atau daerah pertanian hujan, dia hanya 100 persen. Artinya satu kali (panen) dalam satu tahun, karena tergantung pada hujan," jelasnya.

Sementara dengan bendung yang mengandalkan run off irigation system, produksinya bisa terdongkrak hingga 120-150 persen. Itu akan jadi maksimal dengan pemanfaatan bendungan sebagai tempat penyimpanan air, sehingga angka produksinya bisa naik sampai 200 persen.

"Tapi dengan bendungan dia bisa naikkan 200 persen atau lebih. Artinya dalam Maret-April dan September-Oktober bisa ditanami lebih dari dua kali. Kalau lebih dari dua kali, berarti bisa tingkatkan produksi pertanian," tukas Menteri Basuki.

Proyek Pembangunan Bendungan Pidekso di Wonogiri Lanjut ke Tahap II

Pembangunan tahap I Bendungan Pidekso di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. (dok: PUPR)
Pembangunan tahap I Bendungan Pidekso di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. (dok: PUPR)

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menyelesaikan 100 persen pembangunan tahap I Bendungan Pidekso di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, Bendungan Pidekso yang dikerjakan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) di bidang sumber daya air untuk mewujudkan ketahanan air dan pangan nasional.

"Bendungan multifungsi dengan kapasitas 25 juta meter kubik ini direncanakan mampu mengairi area irigasi seluas 1.500 hektar. Air irigasi dari bendungan akan meningkatkan Intensitas tanam dari 133 persen (2000 ha) ke 240 persen (3600 ha). Diharapkan dengan selesainya bendungan ini nanti dapat mendorong pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 khususnya di bidang pertanian," jelasnya, Rabu (28/10/2020).

Bendungan yang berada di hulu Sungai Bengawan Solo ini juga memiliki manfaat untuk penyediaan air baku sebesar 300 liter per detik di wilayah Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Kota Solo dan sekitarnya. Kemudian memiliki potensi listrik tenaga hidro sebesar 0,5 MW.

Selain itu, pembangunan Bendungan Pidekso sangat diperlukan sebagai pengendali banjir dan sebagai lahan konservasi serta pariwisata, sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Kepala BBWS Bengawan Solo Agus Rudyanto mengutarakan, setelah pembangunan tahap I rampung, saat ini tengah dilakukan proses lelang (tender) untuk pembangunan tahap II. Target konstruksi bendungan seluruhnya akan rampung pada 2022.

"Untuk pembangunan tahap I yang sudah selesai berupa akses jalan, bangunan cover dam, terowongan saluran pengelak, dan untuk proses pengelakan sungai juga sudah selesai. Selanjutnya di tahap dua akan dilanjutkan pembangunan tubuh bendungan, fasilitas pelengkap, serta instrumen hidromekanikal elektrikal bendungan," terangnya.

Konstriksi Bendungan Pidekso tahap I dikerjakan oleh kontraktor PT Pembangunan Perumahan (PP) dengan dana APBN sebesar Rp 436,9 miliar. Selanjutnya, untuk pembangunan tahap II diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp 376 miliar.

Waduk dengan tipe urugan random inti tegak ini memiliki saluran pelimpah (spillway) di sandaran kiri bendungan. Bagian spillway dibagi menjadi 4 zona, yakni zona inlet, zona transisi, zona chuteway, dan zona saluran pembawa. Adapun tinggi bendungan utama dari bendungan ini 44 meter, lebar puncak 10 meter, dan panjang puncak total 383 meter.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: