66,09 juta penduduk Indonesia terima vaksin penguat

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 melaporkan hingga Sabtu sebanyak 66.094.359 penduduk Indonesia telah mendapatkan vaksin penguat atau booster.

Pelaku vaksinasi ketiga meningkat signifikan dalam sehari, yakni 133.464 orang, dibandingkan pelaku vaksinasi pertama 14.155 orang, vaksinasi kedua 43.495 orang, dan untuk vaksinasi keempat untuk tenaga kesehatan sebanyak 9.235 orang.

Selain itu, sebanyak 205.306.678 orang telah mendapatkan vaksin COVID-19 dosis pertama.

Penduduk yang telah menjalani vaksinasi dosis lengkap tercatat sebanyak 172.225.680 orang.

Pemerintah menggelar vaksinasi COVID-19 dosis keempat untuk para tenaga kesehatan, dan terkini sebanyak 724.123 orang telah mendapatkannya.

Pemerintah menargetkan 234.666.020 orang di Indonesia menjalani program vaksinasi COVID-19 untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) dari penyakit yang menyerang sistem pernapasan tersebut.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memperkirakan peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia yang merangkak naik sejak 25 Oktober 2022 segera memuncak dalam waktu dekat.

"Sekarang kasus COVID-19 sudah lebih tinggi, sudah di atas 60 persen. Jadi saya rasa, sebentar lagi pasti akan sampai puncak," kata Budi Gunadi Sadikin usai konferensi pers Indonesia Memanggil Dokter Spesialis di Gedung Kemenkes RI Jakarta, Jumat.

Sementara Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mengingatkan masyarakat yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid untuk segera melengkapi vaksinasi guna mencegah terjadinya gejala berat dan komplikasi akibat COVID-19.

"Masyarakat dengan komorbid perlu lengkapi vaksinasi COVID-19," kata Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Agus Suprapto.

Agus Suprapto juga mengajak masyarakat yang memiliki komorbid untuk rutin melakukan pemeriksaan secara berkala.

"Perlu kontrol teratur agar penyakitnya terkendali, pergunakan obat yang telah ditentukan dokter serta terapkan protokol kesehatan yang lebih baik," kata dia.