67 Anak Malaysia Meninggal Dunia pada 2021 Akibat COVID-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Kuala Lumpur - 67 orang anak di Malaysia meninggal dunia karena COVID-19 pada 2021. Jumlah tersebut melonjak tinggi dibandingkan pada 2020 dengan enam kasus kematian.

Kementerian Kesehatan Malaysia menargetkan penyelesaian inokulasi untuk 80 persen dari mereka yang memenuhi syarat sebelum sekolah dibuka kembali pada tahun 2022.

Direktur Jenderal Kesehatan Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah mengatakan, statistik yang menunjukkan tren peningkatan infeksi Corona COVID-19 pada anak di bawah 18 tahun mengkhawatirkan.

Sementara peningkatan tajam kematian di antara kelompok usia ini juga mengkhawatirkan, demikian dikutip dari laman The Star, Selasa (21/9/2021).

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan menargetkan 60% remaja berusia 12 hingga 17 tahun akan mendapatkan setidaknya satu dosis vaksin pada November 2021, katanya.

Kementerian juga menargetkan 80% dari mereka yang memenuhi syarat untuk divaksinasi sepenuhnya sebelum sekolah dibuka untuk sesi 2022.

"Statistik yang menunjukkan tren peningkatan infeksi di kalangan anak-anak (0-18 tahun) di Malaysia sangat mengkhawatirkan."

"Yang juga mengkhawatirkan adalah statistik kematian, di mana 67 kematian pada anak-anak telah dilaporkan pada tahun 2021 hingga 19 September, dibandingkan dengan enam kematian pada tahun 2020," katanya dalam sebuah pernyataan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Program Imunisasi Nasional COVID-19 untuk Remaja

Seorang siswa sekolah menengah menerima dosis vaksin Pfizer terhadap penyakit coronavirus (COVID-19) di pusat vaksin di Shah Alam, Malaysia, Senin (20/9/2021). (AP Photo/Vincent Thian)
Seorang siswa sekolah menengah menerima dosis vaksin Pfizer terhadap penyakit coronavirus (COVID-19) di pusat vaksin di Shah Alam, Malaysia, Senin (20/9/2021). (AP Photo/Vincent Thian)

Dr Noor Hisham mengatakan, dengan dimulainya Program Imunisasi Nasional COVID-19 untuk remaja pada Senin (20 September), Kementerian Kesehatan menargetkan vaksinasi untuk anak-anak dalam kelompok remaja berusia antara 12 dan 17 tahun, sebagai persiapan untuk kembali dengan selamat ke sekolah.

"Upaya ini untuk memastikan risiko penularan di sekolah dapat dikurangi, dan pada gilirannya mencegah terjadinya kasus dan klaster di sekolah."

"Otoritas Pengendalian Obat (DCA) telah memberikan persetujuan bersyarat untuk semua remaja berusia 12 tahun ke atas untuk divaksinasi."

"Oleh karena itu, orang tua dan wali disarankan untuk mendaftarkan anaknya yang memenuhi syarat melalui lembaga pendidikan masing-masing dan melalui aplikasi MySejahtera segera," ujarnya.

Dr Noor Hisham juga menyarankan orang tua dan pengasuh untuk mewaspadai efek samping di antara anak-anak setelah suntikan mereka.

Hal-hal yang harus diwaspadai termasuk kemungkinan rasa sakit dan pembengkakan di tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, kedinginan dan demam; serta radang jantung (miokarditis) dan perikarditis, meskipun sangat jarang.

Infografis Tak Usah Pilih-Pilih, Ayo Cepat Vaksin Covid-19

Infografis Tak Usah Pilih-Pilih, Ayo Cepat Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Niman)
Infografis Tak Usah Pilih-Pilih, Ayo Cepat Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Niman)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel