7 Cara Tingkatkan Kemungkinan Selamat dalam Kecelakaan Pesawat

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kecelakaan pesawat memiliki tingkat survivabilitas 95,7 persen, menurut Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat. Terlepas dari sikap pesimis publik, melansir laman Business Insider, Selasa (12/1/2021), ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan peluang bertahan hidup dalam kecelakaan pesawat terbang.

Pada malam Natal 1971, petir menyambar pesawat komersial yang terbang di atas Peru, membuatnya meledak. Juliane Koepcke yang berusia 17 tahun jadi satu-satunya yang selamat dari 92 orang di dalamnya.

Masih terikat di kursinya, ia jatuh 3,2 kilometer (km) ke dalam hutan hujan Peru. Berkat keterampilan bertahan hidup yang diajarkan sang ayah, ia muncul 10 hari kemudian dengan tulang selangka patah, ligamen lutut yang robek, dan luka dalam, tapi masih bertahan hidup.

Memang tak semua orang merupakan penyintas terlatih, tapi ada hal-hal tertentu yang dapat dilakukan untuk meningkatkan peluang selamat dalam kecelakaan pesawat. Jadi, lain waktu dihadapkan pada kondisi ini, Anda bakal berpikir berbagai cara untuk selamat, bukan bagaimana Anda akan meninggal.

1. Berpakaian dengan Benar

Anda bisa mulai upaya ini, bahkan sebelum tiba di bandara. Para ahli merekomendasikan mengenakan pakaian ketat saat terbang. Jika terjadi kecelakaan, benda-benda yang longgar lebih mungkin tersangkut di ujung permukaan tak rata dan memperlambat Anda.

Memakai celana jeans dan kemeja lengan panjang yang nyaman dapat melindungi anggota tubuh Anda dari benda tajam dan api. Gandakan keselamatan kebakaran dengan mengenakan pakaian yang terbuat dari katun atau bahan alami lain. Mereka tak terbakar atau meleleh semudah material sintetis.

Sepatu Anda harus sepraktis pakaian lainnya. Sepatu bot, sepatu kets, dan sepatu lain yang tak akan jatuh adalah pilihan cerdas untuk pelarian yang aman semisal berada dalam kecelakaan pesawat.

2. Pilih Tempat Duduk Tengah di Belakang

Ilustrasi kecelakaan pesawat terbang. (dok. unsplash.com/Asnida Riani)
Ilustrasi kecelakaan pesawat terbang. (dok. unsplash.com/Asnida Riani)

Secara resmi, Federal Aviation Administration mengatakan bahwa tak ada kursi di pesawat yang lebih aman daripada yang lain, tapi statistik tak setuju. Pada 2015, Time mempelajari kecelakaan pesawat dari 35 tahun sebelumnya.

Ditemukan bahwa kursi di sepertiga belakang pesawat memiliki tingkat kematian 32 persen, dibandingkan dengan 39 persen di tengah dan 38 persen di depan. Jika dipersempit, kursi tengah di belakang memiliki peluang terbaik untuk bertahan hidup, dan aisle seat di tengah pesawat adalah yang terburuk.

3. Aturan Lima Baris

Analisa oleh profesor University of Greenwich Ed Galea menemukan bahwa duduk dalam lima baris pintu keluar darurat akan secara drastis meningkatkan peluang bertahan hidup. Galea menganalisa grafik tempat duduk lebih dari 100 kecelakaan pesawat, serta mewawancarai 1,9 ribu penumpang dan 155 awak pesawat.

Ia menemukan bahwa sebagian besar korban hanya perlu bergerak lima baris atau kurang sebelum melarikan diri dari pesawat. Lebih dari itu, peluang Anda untuk bertahan hidup menurun.

4. Taruh Tas Kecil Anda di Bawah Kursi

Ilustrasi kecelakaan pesawat terbang. (dok. unsplash.com/Asnida Riani)
Ilustrasi kecelakaan pesawat terbang. (dok. unsplash.com/Asnida Riani)

Memberi sedikit ruang untuk kaki adalah harga kecil yang harus dibayar untuk perlindungan ekstra. Cedera kaki, termasuk patah kaki, sangat umum terjadi pada kecelakaan pesawat. Melindungi mereka sangat penting untuk evakuasi cepat.

Menempatkan barang bawaan Anda di bawah kursi di depan Anda akan menutup celah cedera, sehingga kaki tak tergelincir ke bawah dan terperangkap. Itu juga dapat membalut tulang kering Anda jika terjadi benturan.

5. Perhatikan Presentasi Keselamatan

Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat mensurvei hampir 500 penumpang yang terlibat dalam evakuasi pesawat antara 1997 dan 1999. Setengah dari mereka mengatakan hanya memerhatikan 50 persen dari presentasi keselamatan. 13 persen mengatakan mereka tidak menonton sama sekali.

Dari penumpang pada penerbangan US Airways 2009 yang mendarat di Hudson, hanya sekitar 30 persen dari mereka yang menyaksikan pengarahan tersebut. Setelah benturan, hanya 10 dari 150 orang di dalamnya yang mengambil rompi pelampung dan dievakuasi bersama.

Alasan yang paling banyak dikutip untuk mengabaikan pengarahan? Orang yang sering terbang mengira mereka sudah terbiasa dengan peralatan di dalam pesawat.

6. Bersiap untuk Benturan

Ilustrasi kecelakaan pesawat. (dok. StelaDi/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)
Ilustrasi kecelakaan pesawat. (dok. StelaDi/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

FAA telah menguji posisi "siap benturan" pada boneka uji tabrak sejak 1967. Posturnya telah berubah dan diperbarui selama bertahun-tahun, tapi gagasan umumnya tetap sama.

Condongkan tubuh ke depan dan dekatkan kepala ke kursi di depan Anda. Ini melayani dua tujuan. Salah satunya menjaga agar terjadi pukulan seminimal mungkin, dan yang lainnya adalah mengurangi kemungkinan dampak sekunder.

Dampak sekunder adalah cedera kepala, seperti yang mungkin terjadi jika kepala membentur kursi di depan Anda beberapa kali saat terjadi kecelakaan. FAA merekomendasikan untuk menahan kepala Anda pada benda yang mungkin terkena dan melenturkan atau menekuk anggota tubuh Anda ke dalam untuk menahannya.

7. Tetap Terikat pada Sesuatu

Ilustrasi kecelakaan pesawat. (Foto: pexels.com)
Ilustrasi kecelakaan pesawat. (Foto: pexels.com)

Pada kecelakaan yang jarang terjadi, yakni saat pesawat sedang melaju, Anda bisa jatuh bebas. Bertahan dalam penurunan drastis memang sulit, tapi bukan tak mungkin. Jika tetap terikat pada sesuatu, peluang Anda sedikit lebih baik.

"Wreckage rider" adalah istilah yang diciptakan sejarawan amatir Jim Hamilton. Hamilton mengembangkan Free Fall Research Page, online database dari hampir setiap contoh manusia yang jatuh dari ketinggian. Rekor jatuh terlama yang selamat tanpa parasut dipegang seorang pengendara bangkai kapal.

Pada 1972, seorang pramugari Serbia bernama Vesna Vulovic jatuh 33 ribu kaki setelah pesawat meledak di atas Cekoslovakia. Terjepit di antara kereta katering, tempat duduknya, bagian dari pesawat, dan tubuh sesama anggota kru, ia menabrak lereng bersalju dengan luka parah, tapi masih hidup.

Infografis Pesawat Sriwijaya Air Jatuh

Infografis Pesawat Sriwijaya Air Jatuh. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Pesawat Sriwijaya Air Jatuh. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: