7 Cerita Haru Keluarga dan Kerabat Prajurit KRI Nanggala 402

·Bacaan 8 menit

Liputan6.com, Jakarta Duka cita mendalam kini tengah dirasakan keluarga serta kerabat dari para awak kapal selam KRI Nanggala 402 yang telah gugur saat melaksanakaan tugas.

Setelah sebelumnya, pada Rabu 21 April 2021 dinyatakan hilang kontak, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan kapal selam KRI Nanggala 402 telah tenggelam dan seluruh awaknya telah gugur.

"53 personel onboard telah gugur. Prajurit-prajurit terbaik Hiu Kencana telah gugur saat melaksanakan tugas di perairan utara Bali," ujar Panglima TNI dalam jumpa pers di Badung, Bali, Minggu, 25 April 2021.

Hadi pun ikut merasakan duka mendalam kepada 53 keluarga prajurit yang ditinggalkan.

"Saya sampaikan rasa duka cita sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga prajurit yang gugur. Semoga Tuhan memberi keikhlasan dan ketabahan," ujar Panglima TNI.

Untuk diketahui, kapal selam KRI Nanggala 402 dinyatakan tenggelam atau subsunk di kedalaman 832 di bawah permukaan laut dengan kondisi badan kapal terbelah menjadi tiga bagian.

Serda Ede Pandu Yudha Kusuma merupakan salah satu kru kapal KRI Nanggala 402 yang tenggelam di perairan Bali. Sebelum keluarga mendapat kabar duka tersebut, sang ayah mengaku tidak mendapat firasat apapun bahwa sang putra akan pergi untuk selamanya.

Wahyudi menyebut dirnya sempat melakukan video call dengan prajutit TNI AL tersebut pada Minggu, 18 April 2021.

"Selama ini Pandu ketika hendak layar (tugas di kapal selam) selalu pamit dan izin menelpon kepada ibunya," kata ayah Serda Pandu ini.

Sementara itu, di mata teman sejawat, Kapten Laut (P) I Gede Kartika dikenal sebagai sosok pribadi yang pendiam. Meski begitu, Kapten I Gede Kartika juga dikenal sebagai siswa yang rajin mengerjakan tugas sekolah.

Berikut ini adalah sejumlah cerita haru keluarga prajurit dan kerabat kapal selamm KRI Nanggala 402 dihimpun Liputan6.com:

Kapten Laut I Gede Kartika di Mata Sejawat

Ritual tebus arwah dilakukan pihak keluarga Kaptel Laut Gede Kartika. Dok.Istimewa. (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)
Ritual tebus arwah dilakukan pihak keluarga Kaptel Laut Gede Kartika. Dok.Istimewa. (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Kapten Laut (P) I Gede Kartika merupakan salah satu nama dari 53 awak KRI Nanggala 402 yang hilang hingga saat ini.

Informasi yang berhasil dirangkum, pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara itu, menjabat sebagai Kepala Departemen Opresi (Kadepops) Pelayaran Kapal Selam KRI Nanggala 402.

Ternyata, Kapten Laut I Gede merupakan Alumni SMA Negeri 03 Gorontalo di Tahun 2005. Informasi itu beredar luas di media sosial, dari postingan teman-teman seangkatan I Gede Kartika semasa sekolah yang ikut merasa kehilangan.

Ajik Gita salah seorang teman sekolahnya di Gorontalo mengatakan, bahwa I Gede Kartika dikenal baik dan pendiam di kalangan teman sebayanya. Selain baik, ia juga sangat rajin saat mengerjakan tugas sekolah.

"Mengenang beliau, ia orang baik dan sangat rajin ketika ada perintah dari guru," kata Ajik.

Menurutnya, kenangan yang paling berkesan dengan beliau adalah kebersamaan mereka, mulai dari berangkat sekolah hingga makan bersama di kantin sekolah kala itu.

"I Gede Kartika, kita pernah belajar di sekolah yang sama. Pulang sekolah jalan kaki dari SMAN 3 Gorontalo sampai perum Pulubala di tengah teriknya panas matahari," ujarnya.

"Terkadang naik sepeda dan angkot ramai ramai. Mudah-mudahan dibalik semua ini ada hikmahnya," kenang Ajik.

Keluarga Serda Ede Pandu Yudha Kusuma Mengaku Tak Ada Firasat

Kapal selam KRI Nanggala 402. (Liputan6.com/Yandhi Deslatama)
Kapal selam KRI Nanggala 402. (Liputan6.com/Yandhi Deslatama)

Serda Ede Pandu Yudha Kusuma merupakan kru KRI Nanggala 402 yang tenggelam di perairan Bali. Pihak keluarga di Perumahan Flamboyan, Kecamatan Soboh, Banyuwangi, Jawa Timur pun menggelar doa bersama dan tahlil yang diikuti warga setempat pada Minggu malam 25 April 2021.

Doa bersama dan tahlil digelar, setelah Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan kapal selam KRI Nanggala 402 tenggelam di perairan laut utara Bali, dan 53 awak kapal dinyatakan telah gugur. Demikian dikutip dari Antara.

bgvPandu (sapaannya), merupakan putra pertama dua bersaudara dari pasangan suami istri Wahyudi dan Sri Endah Lestari. Serda Pandu juga belum genap dua bulan menikah dengan Mega Dian Pratiwi (23).

"Sejauh ini tidak ada firasat apapun, mimpi apapun juga tidak. Bahkan, pada Minggu (18 April 2021) saya masih sempat video call. Selama ini Pandu ketika hendak layar (tugas di kapal selam) selalu pamit dan izin menelpon kepada ibunya," kata Wahyudi, Ayah Serda Pandu.

Mega Dian Pratiwi adalah istri dari Serda Pandu. Keduanya diketahui baru dua bulan menjalani bahtera rumah tangga.

Mega menuturkan, pada Rabu pukul 02.00 dini hari, Pandu masih berkirim pesan kepada Mega.

"Mas Pandu pamit berlayar, minta doa supaya lancar. Setelah itu ponselnya tidak bisa dihubungi," tutur Mega.

Itulah percakapan pesan terakhir antara Pandu dan Mega, hingga akhirnya kabar duka itu datang.

Ibunda Sertu (Mes) Dedi Hari Susilo: Dia Kebanggaan Kami

Selanjutnya, Bupati Ipuk dan Danlanal Eros menuju kediaman Sertu Dedi Hari Susilo. Sertu Dedi bertugas sebagai juru diesel pada KRI Nanggala 402.

Ipuk bertemu Fitri Arumsari, istri Dedi. Begitu melihat Ipuk, Fitri langsung jatuh di pundak Ipuk sambil menangis sesenggukan.

Di sana, juga ada ibu korban, Haniyah, yang sangat terpukul atas kepergian putra sulungnya. Dengan mata terpejam, Haniyah menceritakan putranya kepada Ipuk.

"Dia anak kesayangan kami, kebanggaan kami. Doakan anak kami ya Bu," ujar Haniyah.

Ipuk memeluk Fitri dan Haniyah. Ketiganya larut dalam haru. Isak tangis memenuhi ruangan.

"Mas Pandu dan Mas Dedi adalah warga Banyuwangi. Beliau bukan hanya kebanggaan keluarga, bukan hanya kebanggaan Mbak Mega, bukan hanya kebanggaan Mbak Fitri, tapi kebanggaan Banyuwangi dan Indonesia," ujar Ipuk.

"Pemkab Banyuwangi menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Kita doakan Mas Pandu, Mas Dedi, dan seluruh awak KRI Nanggala-402 mendapat tempat termulia di sisi Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa," imbuhnya.

Sosok Gigih Kopda Kharisma DB

Keluarga Kopda Kharisma, kru KRI Nanggala 402 yang gugur di selat Bali (Fauzan/Liputan6.com)
Keluarga Kopda Kharisma, kru KRI Nanggala 402 yang gugur di selat Bali (Fauzan/Liputan6.com)

Suasana haru juga menyelimuti kediaman Kopda Kharisma DB di Desa Je'ne Tallasa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.

Prajurit TNI Angkatan Laut itu merupakan salah satu dari 53 kru yang gugur dalam insiden tenggelamnya KRI Nanggala di Selat Bali.

Bibi Kopda Kharisma, Nurhaena Nuhu Ruppa mengatakan bahwa keponakannya itu masuk TNI AL pada 2014 silam. Setelah lulus ia pun langsung ditugaskan di KRI Nanggala 402 bagian perlengkapan dan navigasi.

"Langsung bertugas di kapal selam," kata Nurhaena, Senin, 26 April 2021.

Nurhaena juga menyebutkan bahwa ayahanda dari Kopda Kharisma, Serma Purnawirawan Bachtiar juga merupakan prajurit TNI AL yang pernah bertugas di KRI Nanggala 402. Semasa hidupnya Kharisma dikenal sebagai pemuda ulet dan periang.

"Dia rajin dan disiplin sekali, makanya mungkin itu dia langsung direkrut dibagian kapal selam, padahal kru kapal selam tidak sembarangan orang bisa bergabung apalagi dia masih berpangkat Kopdar. Bapaknya juga purnawirawan kapal selam pernah juga bertugas di KRI Nanggala 402," ujarnya.

Hingga kini, kepergian Kopda Kharisma menjadi duka mendalam untuk seluruh sanak keluarganya. Apalagi dia pergi meninggalkan dua orang anak yang masih kecil.

"Kopda Kharisma DB memiliki dua orang anak yang berumur 9 tahun dan 4 tahun,"

Meski seluruh awak KRI Nanggala 402 telah dinyatakan gugur, pihak keluarga kini masih menunggu proses pencarian oleh tim SAR dan berharap ada mukjizat dari sang pencipta terjadi.

"Tentu kami berharap dia selamat," ucapnya.

Kapten Laut (E) Yohanes Heri Berencana Pulang Berlebaran

Komandan Kodim 0705/Magelang Letkol Arm Rohmadi mengunjungi salah satu keluarga korban KRI Nanggala 402 yang tenggelam, Kapten Laut (E) Yohanes Heri di Dusun Ngadipuro III RT 02/RW 09, Desa Ngadipuro, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Rohmadi mengatakan, kedatangannya di rumah orangtua Kapten Laut (E) Yohanes Heri sebagai wujud simpati kepada keluarganya. Kedatangan tersebut untuk menyampaikan prihatin dan berduka cita.

"Ada korban KRI Nanggala, Kapten Yohanes yang kebetulan rumahnya di sini. Orangtuanya asli sini ikut dalam musibah. Kami selaku keluarga besar Kodim ikut prihatin, ikut berduka cita," katanya, dikutip Antara.

Ia menyampaikan pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa hanya mendoakan semoga almarhum mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya, kemudian keluarga yang ditinggalkan mendapat kesabaran, ketabahan dalam menghadapi setiap cobaan.

Dalam kunjungannya, Dandim Magelang ditemui kakak ipar Yohanes Heri, Agus Heri Lestiyono yang menjelaskan bahwa orangtua Yohanes Heri, FX Kuntoro dan kakak Heri, Nuning telah berangkat ke Surabaya pada Kamis, 22 April 2021.

Agus menyampaikan keluarga menerima kabar pada Rabu, 21 April. Saat itu, istri Heri yang menelepon keluarga di Magelang yang mengabarkan kapal Nanggala 402 hilang kontak. Kemudian pada Kamis keluarga Magelang langsung berangkat ke sana.

"Dikabari Rabu sore. Kamis (22/4), bapak sama istri saya ke Surabaya. Informasi saat itu cuma hilang kontak," kata Agus.

Keluarga di Magelang terus memantau perkembangan informasi KRI Nanggala 402 melalui televisi. Termasuk pada, Minggu (25/4), saat Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan kapal tenggelam dan kru kapal gugur.

Ia menuturkan Heri menikah dengan Listiyani yang sekarang tinggal di salah satu perumahan di Sidoarjo, Jawa Timur. Keluarga Heri terakhir pulang ke Magelang pada Natal 2020. Rencananya pada Lebaran ini juga akan pulang Magelang.

Topi Bergambar Nanggala 402 dari Kapten Laut Yohanes Heri

Kades Ngadipuro Agus Iwan mengaku mempunyai kenangan tersendiri dengan Yohanes Heri. Korban yang pulang pada Natal 2020 tersebut sempat memberikan kenang-kenangan berupa topi bergambar KRI Nanggala 402.

Agus menuturkan meskipun saat pulang tersebut tidak bertemu langsung dengan dirinya, namun almarhum Heri memberikan topi. Baginya, almarhum merupakan sosok yang baik, familiar dan tidak membeda-bedakan dalam berteman.

"Sejak kecil anak itu dekat sama saya, satu keluarga dekat sama saya, tapi dia itu dekatnya lebih. Pribadinya sangat baik, familiar, suka bergotong-royong dulu waktu kecil, tidak canggung-canggung bermain dengan siapa pun, tidak membeda-bedakan anak tentara," katanya.

Istri Berda Asmara: Masih Berharap Keajaiban

Berda Asmara menunjukkan foto suaminya Serda Mes Guntur Ari Prasetyo di rumah mereka di Surabaya, Jumat (23/4/2021). Kapal selam KRI Nanggala yang diawaki Serda Mes Guntur Ari Prasetyo dan 52 kru lainnya hilang kontak saat sedang melaksanakan latihan penembakan dengan torpedo. (Juni Kriswanto/AFP)
Berda Asmara menunjukkan foto suaminya Serda Mes Guntur Ari Prasetyo di rumah mereka di Surabaya, Jumat (23/4/2021). Kapal selam KRI Nanggala yang diawaki Serda Mes Guntur Ari Prasetyo dan 52 kru lainnya hilang kontak saat sedang melaksanakan latihan penembakan dengan torpedo. (Juni Kriswanto/AFP)

Berda Asmara, istri Serda Mes Guntur Ari Prasetyo, awak Kapal Selam KRI Nanggala 402 mengaku masih berharap adanya keajaiban, meskipun Panglima TNI Marsekal TNI, Hadi Tjahjanto telah menyatakan semua awak gugur.

"Saya masih berharap keajaiban kapal selamnya bisa diangkat dan semua krunya selamat semua," ucap Berda usai salat gaib untuk awak KRI Nanggala 402 bersama civitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Senin, 26 April 2021.

Dinda Permata

Saksikan video pilihan di bawah ini: