7 Ciri dan Tips Mendidik Anak Supaya Punya Mental Tangguh

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Sebagai orang tua, mungkin Anda kerap bertanya: Apa kekuatan utama yang harus saya ajarkan kepada anak-anak saya?

Meskipun ada beberapa hal yang tidak kalah penting, tetapi menurut Amy Morin, seorang psikoterapis, yang benar-benar akan membantu setiap anak untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka dan melewati tantangan terberat dalam hidup adalah kekuatan mental.

Kekuatan mental menuntut Anda untuk memperhatikan tiga hal: cara Anda berpikir, merasakan, dan bertindak. Senantiasa berpikiran terbuka, merasa baik, dan bertindak berani akan membantu anak-anak dalam membangun ketangguhannya secara mental.

Tentu saja, dibutuhkan latihan, kesabaran, dan penguatan terus-menerus untuk mencapai titik dimana hal-hal ini dilakukan secara alami. Tetapi, Morin saya melihat banyak anak muda yang telah berhasil mencapainya dari waktu ke waktu.

Dikutip dari CNBC, Selasa (23/3/2021), berikut 7 ciri yang selalu dilakukan oleh anak-anak yang bermental kuat dan cara membantu anak-anak Anda mencapai titik yang sama.

1. Mereka memberdayakan diri mereka sendiri

Jika anak Anda berkata, "Teman saya mendapat nilai lebih tinggi di kuis, yang membuat saya merasa buruk tentang diri saya sendiri."

Pada dasarnya, hal ini hanya akan membiarkan orang lain memegang kendali atas emosi mereka. Tetapi, anak-anak yang merasa diberdayakan tidak bergantung pada orang lain untuk merasa baik dan bahagia.

Mereka memilih, misalnya, untuk berada dalam suasana hati yang cerah bahkan ketika orang lain mengalami hari yang buruk atau mencoba untuk melampiaskan amarah mereka.

Rekomendasi dari Morin yang dapat diterapkan adalah berdiskusilah dengan anak Anda untuk menghasilkan frasa yang dapat mereka ulangi sendiri.

Gunakan kata-kata yang menunjukkan bahwa mereka bertanggung jawab atas bagaimana mereka berpikir, merasa, dan berperilaku, terlepas dari apa yang dilakukan orang di sekitar mereka.

Hal ini akan membantu meredam suara-suara negatif di kepala mereka yang mencoba meyakinkan mereka bahwa mereka tidak memiliki potensi untuk sukses. Frasa yang paling efektif adalah yang pendek dan mudah diingat:

  • “Yang bisa saya lakukan hanyalah mencoba yang terbaik.”

  • “Saya memilih untuk bahagia hari ini.”

2. Mereka beradaptasi dengan perubahan

Ketika harus pindah ke sekolah baru atau tidak bisa bermain dengan teman selama pandemi, mungkin perubahan semacam itu akan sulit diterima oleh seorang anak.

Tetapi, anak-anak yang bermental kuat memahami bahwa perubahan dapat membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, meskipun pada awalnya mungkin tidak terasa seperti itu.

Anda bisa membantu menuntun mereka untuk mengenali emosi yang tengah mereka rasakan di tengah perubahan situasi yang terasa tidak nyaman. Memberi nama pada perasaan, menurut Morin, dapat dengan praktis membuat anak merasa sedikit lebih baik.

Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak menghabiskan cukup waktu untuk memikirkan dan memproses apa yang kita rasakan. Faktanya, bahkan sebagai orang dewasa, Anda mungkin cenderung memberikan lebih banyak energi untuk melawan emosi tersebut.

Jadi, ketika anak Anda dihadapkan pada perubahan besar, minta mereka membicarakan tentang perasaan mereka. Lebih penting lagi, bantu mereka menemukan dan mendefinisikan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikannya, misalnya sedih, bahagia, frustrasi, gugup, atau bersemangat.

3. Mereka tahu kapan harus mengatakan tidak

Anak memakai kacamata  (Photo by Tim Gouw on Unsplash)
Anak memakai kacamata (Photo by Tim Gouw on Unsplash)

Setiap orang, berapapun usianya, menghadapi tantangan ketika harus menolak atau mengatakan tidak terhadap sesuatu yang diajukan lawan bicaranya, Tetapi tergantung situasinya, memilih untuk tidak mengatakan ya dapat membuat Anda lebih kuat.

Sama halnya dengan anak-anak. Anak-anak seringkali kesulitan untuk mengatakan tidak karena dapat membuat mereka merasa canggung dan aneh.

Namun, dengan menemukan keberanian untuk melakukannya lebih sering, mereka akan menemukan bahwa hal itu semakin mudah dari waktu ke waktu. Hal ini juga berdampak pada menurunnya tingkat stres karena harus berkomitmen pada hal-hal yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan.

Dengan begitu, sebagai orang tua, penting untuk membantu mereka menemukan keberanian untuk mengatakan tidak sambil tetap menggunakan cara-cara sopan dalam menolak. Contohnya antara lain:

  • “Tidak, aku tidak bisa.” (Anak tidak selalu perlu menawarkan alasan.)

  • Terima kasih banyak telah mengundangku, tapi aku punya rencana lain.”

  • "Aku tidak ingin melakukannya hari ini, tapi aku menghargai permintaanmu."

4. Mereka mengakui kesalahan mereka sendiri

Anak-anak sering kali tergoda untuk menyembunyikan kesalahannya karena tidak ingin mendapat masalah atau amarah dari orang tua mereka. Namun, mengakui kesalahan dapat membantu anak dalam membangun karakter mereka.

Anak-anak yang mentalnya tangguh akan cukup berani untuk menyadari kesalahan yang mereka lakukan, dan secara mental mempersiapkan diri untuk sepenuhnya mengakui apa yang mereka lakukan. Bahkan, mereka juga akan belajar caranya meminta maaf dan berupaya untuk menghindari kesalahan yang sama lagi.

Ketika anak Anda membuat kesalahan, cobalah ingatkan mereka bahwa mereka dapat mengubah lingkungan mereka dengan cara yang akan membantu mencegah mereka melakukan kesalahan yang sama dua kali. Misalnya, mereka dapat menuliskan tugas segera setelah menerimanya sehingga tidak lupa dan kemudian mendapatkan nilai yang buruk karena tidak disiplin.

5. Mereka merayakan kesuksesan orang lain

Merupakan hal yang wajar bagi anak-anak untuk merasa cemburu saat temannya mendapatkan mainan baru, misalnya, atau saat tim lain memenangkan permainan. Tetapi, perasaan negatif terhadap orang lain hanya akan menyakiti mereka pada akhirnya.

Maka dari itu, dorong anak Anda untuk menyemangati orang ketika mereka melakukan pekerjaan dengan baik. Anak-anak yang bermental kuat akan mendukung teman-temannya dan mereka fokus untuk melakukan yang terbaik tanpa mengkhawatirkan kemajuan orang lain.

6. Mereka gagal namun bangkit lagi

Ilustrasi anak menangis. (dok. unsplash @arwanod)
Ilustrasi anak menangis. (dok. unsplash @arwanod)

Kegagalan mungkin bisa terasa menyakitkan, memalukan, mengecewakan, bahkan membuat frustrasi. Tetapi, orang yang berhasil mencapai tujuan mereka tentu pernah setidaknya mengalami satu kegagalan.

Anak-anak yang berhasil di kemudian hari harus belajar memusatkan perhatian mereka pada apa yang salah dan bagaimana mereka bisa memperbaikinya. Mereka memiliki pola pikir yang berkembang yang akan membantu mereka mengubah kegagalan menjadi pengalaman belajar yang positif.

Para ahli telah menemukan bahwa anak-anak sebenarnya tampil lebih baik ketika mereka mengetahui bahwa banyak kisah sukses dimulai dengan kegagalan. Apabila anak Anda merasa sedih karena merasa gagal dalam suatu hal, ajarkan tentang orang yang melakukan kesalahan serupa, seperti Thomas Edison yang memiliki lebih dari 1.000 penemuan yang tidak berhasil sebelum sukses dengan lampu pijarnya.

7. Mereka pantang menyerah

Ketika tujuan semakin terasa jauh atau ketika Anda merasa tidak ingin bekerja keras, otak Anda mungkin mencoba meyakinkan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menyerah.

Namun, anak-anak yang kuat secara mental dan gigih akan terus bekerja keras bahkan ketika mereka tidak menyukainya.

Seringkali, mereka akhirnya berhasil dan menemukan bahwa mereka lebih kuat dari yang mereka duga. Maka, bantulah anak Anda untuk menulis surat sederhana, misalnya berisi kata-kata kebaikan dan dorongan untuk diri mereka sendiri.

Isinya dapat berbunyi seperti: “Aku tahu ada banyak hal sulit, tetapi aku yakin kamu bisa melewatinya karena sebelumnya kamu juga mampu." Setiap kali mereka merasa tergoda untuk menyerah, beri tahu mereka untuk kembali ke surat itu supaya memotivasi mereka untuk tetap maju dan pantang menyerah.

Reporter: Priscilla Dewi Kirana