7 Fakta Terbaru Aksi Teror Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu terduga pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) telah teridentifikasi. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Menurut Listyo, berdasarkan rekam jejak yang diperoleh kepolisian, pelaku pernah melancarkan operasi di Filipina.

"Terkait dengan identitas pelaku kita sudah mendapatkan dengan inisial L. Kelompok ini tergabung atau terkait dengan kelompok yang pernah melaksanakan kegiatan operasi pengeboman di Jolo, Filipina tahun 2018," ujar Listyo kepada awak media di Makassar, Minggu malam, 28 Maret 2021.

Untuk satu terduga pelaku lainnya belum teridentifikasi. Listyo menyebut, ada 2 terduga pelaku bom bunuh diri meninggal dunia, yaitu laki-laki dan perempuan.

Selain itu, dia juga mengungkapkan, terduga pelaku merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Ditambahkan Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono, kedua terduga pelaku merupakan pasangan suami-istri yakni L dan SWF. Dari data yang diperoleh, kata Argo, dua bomber Gereja Katedral Makassar itu baru menikah enam bulan lalu.

"Betul pelaku pasangan suami istri baru menikah enam bulan," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (29/3/2021).

Berikut deretan fakta terbaru aksi teror bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dihimpun Liputan6.com:

Pelaku Teridentifikasi

Aparat kepolisian melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di lokasi peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. (Liputan6.com/ Eka Hakim)
Aparat kepolisian melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di lokasi peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. (Liputan6.com/ Eka Hakim)

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan, salah satu pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar telah teridentifikasi.

Listyo memaparkan, berdasarkan rekam jejak yang diperoleh kepolisian, pelaku pernah melancarkan operasi di Filipina.

"Terkait dengan identitas pelaku kita sudah mendapatkan dengan inisial L. Kelompok ini tergabung atau terkait dengan kelompok yang pernah melaksanakan kegiatan operasi pengeboman di Jolo, Filipina tahun 2018," kata dia kepada awak media di Makassar, Minggu malam, 28 Maret 2021.

"Pelaku yang meninggal dunia ada 2 orang, laki-laki dan perempuan," sambung Listyo.

Listyo juga menjelaskan, jajaran Densus 88 Antiteror sebelumnya pernah menangkap beberapa kelompok teror. Pelaku termasuk di dalam kelompok tersebut.

"Yang bersangkutan merupakan kelompok dari beberapa pelaku yang beberapa waktu lalu telah kita amankan," terang dia.

Jaringan JAD

Petugas polisi berjaga di dekat gereja tempat ledakan meledak di Makassar, Sulawesi Selatan (28/3/2021). Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan Kombes E Zulpan menyebut ada korban tewas dalam insiden ledakan Gereja Katedral Makssar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3) pagi. (AP Photo/Daeng Mansur)
Petugas polisi berjaga di dekat gereja tempat ledakan meledak di Makassar, Sulawesi Selatan (28/3/2021). Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan Kombes E Zulpan menyebut ada korban tewas dalam insiden ledakan Gereja Katedral Makssar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3) pagi. (AP Photo/Daeng Mansur)

Listyo menyebut, pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

"Sudah kita dapatkan inisial L, (pelaku). Bersangkutan merupakan kelompok dari beberapa pelaku yang beberapa waktu lalu, telah kita amankan," ucap dia.

Ia mengatakan, pelaku diketahui tergabung dalam kelompok JAD, dan pernah melaksanakan kegiatan operasi terorisme di Jolo, Philipina pada 2018 lalu.

"Untuk inisial pelaku sudah kita dapatkan, dan kita tindaklanjuti untuk melaksanakan pemeriksaan terkait dengan DNA yang bersangkutan, agar bisa pertanggungjawabkan secara ilmiah," ujar Listyo seperti dikutip dari Antara.

Bagian dari Jaringan yang Pernah Ditangkap Polisi

Personel Satbrimob Polda Sulut menjaga ketat Gereja Katedral Manado, Minggu (28/3/2021).
Personel Satbrimob Polda Sulut menjaga ketat Gereja Katedral Manado, Minggu (28/3/2021).

Listyo mengungkapkan, pelaku tersebut merupakan salah seorang bagian dari kelompok JAD yang beberapa waktu lalu ditangkap di Makassar, Sulsel pada kompleks Villa Mutiara, Sudiang dan Kabupaten Enrekang pada Januari 2021.

"Mereka adalah kelompok beberapa waktu yang lalu (ditangkap), ada kurang lebih 20 orang, dari kelompok JAD yang kita amankan. Mereka bagian dari itu. Inisial dan data-datanya sudah kita pastikan sesuai," ujar Listyo.

Sedangkan aksi yang dilakukan bersangkutan saat ini, merupakan society boomber, dengan membawa ledakan cukup besar sehingga berpengaruh dengan daya ledaknya.

"Jadi kegiatan mereka terjadi saat ini, kita ketahui, adalah ledakan, adalah society bom, menggunakan jenis bom panci, dan itu terkait dengan pengungkapan," ungkap Sigit.

Kedua Terduga Pelaku Suami Istri dan Baru Menikah

Petugas polisi berjaga di dekat sebuah gereja tempat ledakan meledak di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021). Ledakan diduga bom terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (28/3/2021). (AP Photo/Yusuf Wahil)
Petugas polisi berjaga di dekat sebuah gereja tempat ledakan meledak di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021). Ledakan diduga bom terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (28/3/2021). (AP Photo/Yusuf Wahil)

Dua terduga teroris yang beraksi di Gereja Katedral Makassar adalah pasangan suami-istri yakni L dan SWF.

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menyebut, dari data yang diperoleh dua bomber Gereja Katedral Makassar itu baru menikah enam bulan lalu.

"Betul pelaku pasangan suami istri baru menikah enam bulan," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (29/3/2021).

Argo menyampaikan, Densus 88 Antiteror terus mendalami jejak kedua pelaku teror. Menurut infoyang diterima, pelaku merupakan bagian dari kelompok JAD yang pernah melakukan pengeboman di Jolo Filipina.

"Pelaku berafiliasi dengan JAD," jelas Argo.

Terduga Pelaku Sebelumnya Sudah Diincar Aparat

Polisi forensik memeriksa tempat kejadian setelah diduga bom meledak di dekat sebuah gereja di Makassar (28/3/2021). Sembilan orang terluka akibat kejadian tersebut. Empat di antaranya adalah jemaat gereja. (AFP/Indra Abriyanto)
Polisi forensik memeriksa tempat kejadian setelah diduga bom meledak di dekat sebuah gereja di Makassar (28/3/2021). Sembilan orang terluka akibat kejadian tersebut. Empat di antaranya adalah jemaat gereja. (AFP/Indra Abriyanto)

Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto menyatakan, pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan sudah menjadi incaran aparat.

Menurut dia, aksi terorisme di wilayah Sulawesi Selatan sudah terindikasi sejak 2015 dengan ratusan jemaah dibaiat oleh ISIS.

"Pelaku kasus bom bunuh diri di Gereja Katedral hari ini sebelumnya memang dalam pengejaran aparat keamanan," kata Wawan dalam keterangan tertulis.

Lanjut dia, hingga saat ini masih terdapat beberapa kelompok yang diduga ikut serta dalam aksi terorisme belum tertangkap. Bahkan masih dalam pengejaran.

"Penangkapan sejumlah pelaku teroris di Makassar yang sebagian merupakan anggota dan simpatisan dari eks ormas tertentu terus didalami," ucapnya seperti dikutip Antara.

Selanjutnya kata dia, pada awal Januari 2021 sebanyak sekitar 20 terduga teroris jaringan JAD ditangkap Polda Sulsel dan Densus 88. Puluhan orang tersebut terlibat pendanaan pelaku bom bunuh diri di Filipina.

Karena hal itu, dia mengharapkan kejadian tersebut segera teratasi hingga akar-akarnya.

"Mengimbau masyarakat agar tenang, serahkan ke aparat penegak hukum untuk mengusutnya," jelas dia.

Geledah Kontrakan dan Rumah Ibu Kandung Terduga Pelaku

Seorang polisi  mengatur lalu lintas setelah ledakan di luar sebuah gereja di Makassar (28/3/2021). Pernyataan itu disampaikan setelah Tim Labfor melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Kepolisian menemukan jasad tepat di samping sepeda motor yang terjatuh. (AFP/Daeng Mansur)
Seorang polisi mengatur lalu lintas setelah ledakan di luar sebuah gereja di Makassar (28/3/2021). Pernyataan itu disampaikan setelah Tim Labfor melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Kepolisian menemukan jasad tepat di samping sepeda motor yang terjatuh. (AFP/Daeng Mansur)

Polisi menggeledah rumah milik L (23), salah seorang terduga pelaku bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral Makassar.

Rumah tersebut merupakan rumah kontrakan yang berada di Lorong 132 A, Jalan Tinumu, Kelurahan Bunga Ejaya, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar.

Pantauan Liputan6.com, selain kontrakan milik pelaku bom bunuh diri, L, aparat kepolisian juga diketahui menggeledah rumah milik WH yang merupakan ibu kandung L.

Penggeledahan di dua rumah yang tidak begitu berjauhan itu dilaksanakan sekitar pukul 09.00 Wita pada Senin (29/3/2021).

"Tentunya dengan kejadian ini dari kemarin tim sudah bergerak," kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes E Zulpan kepada wartawan, Senin (29/3/2021).

Zulpan mengatakan, penggeledahan ini bertujuan untuk mencari bukti baru dan pelaku lain yang masih terafiliasi dengan pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral.

Zulpan pun enggan berspekulasi dan berkomentar banyak terkait penggeledahan itu.

"Tapi tidak bisa kita sampaikan ke media dulu pagi ini karena tim Densus 88 sedang bergerak bekerja, kami mohon sabar," imbuh Zulpan.

Aparat Perketat Penjagaan

Polisi di Banyumas menjaga dan berpatroli mengamankan gereja usai serangan bom bunuh diri gereja di Makassar. (Liputan6.com/Polres Banyumas)
Polisi di Banyumas menjaga dan berpatroli mengamankan gereja usai serangan bom bunuh diri gereja di Makassar. (Liputan6.com/Polres Banyumas)

Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan (Sulsel) langsung memperketat pengamanan dengan melakukan patroli ke sejumlah objek vital hingga menempatkan anggota di wilayah perbatasan setelah terjadi ledakan bom bunuh diri di Gereja Katedral, Jalan Kajaolalido, Kecamatan Ujungpandang, Kota Makassar.

"Penjagaan ketat kami berlakukan dengan melakukan patroli serta menempatkan personel di perbatasan sebagai langkah antisipasi teror susulan," ujar Komandan Satuan (Dansat) Brimob Polda Sulsel Kombes Pol Anis Prasetyo.

Menurutnya, langkah antisipasi itu dilakukan sebagai bagian dari penanganan terorisme serta memutus pergerakan aksi teror tersebut. Wilayah perbatasan dimaksud yaitu menghubungkan perbatasan Kota Makassar-Kabupaten Gowa dan Kota Makassar-Kabupaten Maros.

Selain daerah perbatasan, katanya pula, sejumlah objek vital dan beberapa gereja serta rumah ibadah lainnya, tidak luput dari pantauan pengawasan personel Polri. Termasuk wilayah Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dan Pelabuhan Makassar.

"Atas kejadian itu, patroli terus diperketat, termasuk wilayah perbatasan, objek vital serta gereja-gereja mengantisipasi teror susulan," jelas Anis Prasetyo, dilansir Antara.

Selain itu, kata Anis Prasetyo, pihaknya terus berkoordinasi dengan Mabes Polri serta Densus 88 Antiteror untuk segera mengungkapkan jaringan teroris yang ada di wilayah Sulsel.

(Cinta Islamiwati)

Bom Bunuh Diri di Medan

Infografis Bom Bunuh Diri di Medan (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Bom Bunuh Diri di Medan (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: