7 Gejala COVID-19 yang Mengharuskan Seseorang Mendapatkan Perawatan di Rumah Sakit

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Belakangan ini Bed Occupacy Ratio (BOR) di banyak rumah sakit di Indonesia, terutama yang menjadi rujukan penanganan COVID-19, mengalami peningkatan signifikan menyusul kenaikan kasus positif COVID-19.

Kondisi tersebut disikapi dengan kebijakan, hanya pengidap dengan kriteria tertentu yang mendapat rekomendasi untuk mendapat perawatan di rumah sakit.

Hal itu membuat warga yang mengalami COVID-19 dengan gejala level ringan, atau dinyatakan positif COVID-19 tanpa gejala, direkomendasikan cukup menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Namun, Anda mesti waspada dan peka terhadap kondisi selama isoman. Hal ini diperlukan untuk memantau apakah kondisi Anda atau anggota keluarga Anda memburuk dan membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Sangat dimungkinkan saat menjalani isoman, kondisi menjadi buruk dan harus ditangani di rumah sakit. Jika terlambat ditangani, taraf keparahan penyakit bisa meningkat.

Alhasil, kita perlu mengetahui kriteria apa saja, yang membuat mereka, yang terpapar COVID-19 mendapatkan perawatan medis di rumah sakit, bukan lagi isoman di rumah.

Hal ini penting agar Anda atau orang terdekat Anda tidak terlambat mendapat penanganan yang dibutuhkan di rumah sakit dan ditangani secara langsung oleh petugas kesehatan yang kompeten.

Berikut ini penjelasannya, kriteria apa saja, yang membuat pengidap COVID-19 harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, seperti dilansir dari Klikdokter, Jumat (9/7/2021).

Kesulitan Bernapas dan Kadar Oksigen Tubuh Rendah

1. Kesulitan bernapas

Melansir US News Health, ketika seseorang mengalami napas yang pendek dan terasa sulit, bahkan saat beristirahat, Anda perlu waspada. Segeralah mencari pertolongan medis di fasilitas kesehatan karena kondisi ini dapat menandakan hal serius.

Tanda lainnya pasien positif COVID-19 harus segera dirawat di rumah sakit adalah terbata-bata saat berbicara atau banyak terpotong karena kerap berhenti untuk mengambil napas.

2. Kadar oksigen tubuh rendah

Ketika kadar oksigen tubuh di bawah 95 persen, perawatan medis harus segera dilakukan. Kondisi kekurangan oksigen dapat ditandai dengan berbagai gejala, misalnya sesak napas, tangan kaki mulai dingin, dan detak jantung cepat.

Selain itu, rasa mengantuk yang ekstrem dan sulit terbangun, serta mengalami kebingungan yang tidak biasanya juga dapat menandakan sirkulasi oksigen di tubuh berkurang.

Dada Nyeri, Demam Tinggi, dan Hilang Fungsi Indra Penciuman Serta Perasa

Ilustrasi hidung, indra penciuman. (Photo by MinAn on Pexels)
Ilustrasi hidung, indra penciuman. (Photo by MinAn on Pexels)

3. Dada nyeri

Seseorang yang terinfeksi COVID-19 dapat mengalami substernal chest pain atau sakit di bawah tulang dada. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai hal.

Pertama, bisa karena efek peradangan pada otot yang mungkin disebabkan oleh infeksi virus corona. Bisa juga dipicu batuk yang terlampau keras, jadi otot-otot tertarik.

Kedua, nyeri dada bisa terjadi karena pneumonia. Tanda pneumonia tidak hanya demam, sesak, dan batuk, satu di antaranya juga termasuk substernal chest pain.

Selain itu, bisa akibat satu di antara tanda komplikasi COVID, di mana terjadi emboli paru, yaitu ada gumpalan darah yang masuk ke pembuluh darah. Sebaiknya, setiap nyeri dada yang dirasakan harus segera dievaluasi dokter sehingga penyebab spesifiknya dapat diketahui.

4. Demam tinggi lebih dari tiga hari

Mengalami demam di atas 38 derajat Celsius lebih dari tiga hari dan tidak sembuh dengan obat penurun demam, mintalah perawatan medis lebih lanjut. Kelelahan dan nyeri otot yang tak membaik juga sebaiknya diwaspadai.

5. Hilang indra penciuman dan perasa, serta diare parah

Gejala awal COVID-19 adalah indra penciuman dan perasa yang hilang. Selain itu, diare sering dikaitkan dengan gejala terinfeksi virus corona. Bila dua kondisi tersebut tak membaik dan diare makin parah, amat disarankan pasien positif virus corona dirawat di rumah sakit.

Wajah dan Bibir Kebiruan Serta Batuk yang Tak Kunjung Sembuh

6. Wajah dan bibir kebiruan

Kondisi lainnya, seperti wajah dan bibir membiru, dapat mengindikasikan kondisi terdampak COVID-19. Ketika wajah dan bibir Anda menjadi biru, kondisi tersebut menunjukkan gejala hipoksia (kurang oksigen).

Paru-paru yang terdampak COVID-19 tidak hanya memperlihatkan ciri dari keadaan tenggorokan. Hal ini dapat menjadi satu di antara faktor pembeda, di mana pasien positif COVID-19 yang masih bisa isoman dan yang harus ke rumah sakit.

7. Batuk yang tak kunjung sembuh atau makin parah

Ketika batuk terus-menerus, bahkan makin parah, disertai gejala-gejala virus corona lainnya, segera cari pertolongan medis. Selain beberapa gejala di atas, tanda-tanda lain seperti perubahan pada penglihatan, muntah, dan batuk darah juga harus diwaspadai.

Sumber: Klikdokter.com (Published: 28/6/2021)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel