7 Kakak Kelas Terduga Pelaku Bullying Bocah SD di Malang Diperiksa Polisi

Merdeka.com - Merdeka.com - Sebanyak 7 orang Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) terduga pelaku bullying bocah SD, MWF (8) di Kabupaten Malang telah dimintai keterangan. Selain itu, diperiksa juga 12 saksi dewasa yang diduga mengetahui peristiwa bullying tersebut.

Korban sempat mengalami kejang-kejang hingga tidak sadarkan diri (koma) dan harus mendapatkan perawatan rumah sakit.

"Kami telah melakukan pemeriksaan kepada 12 saksi dan 7 ABH," kata Kapolres Malang, AKBP Putu Kholis Aryana di Kepanjen, Malang, Kamis (24/11).

Kasus tersebut tengah diselidiki Kepolisian Resor (Polres) Malang setelah dilaporkan keluarga korban. Penyelidikan ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Sat Reskrim Polres Malang.

Kholis menegaskan, penanganan kasus tersebut mengacu pada penerapan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Sehingga, banyak pihak terlihat dalam pendampingan kasusnya guna memastikan proses hukum sesuai dengan ketentuan.

"Nanti melibatkan Bapas, DP3A, orang tua, wali murid, kepala sekolah. Nanti kami minta pendampingan dari Diknas, dan pihak terkait lain. Agar memastikan proses yang kami jalankan ini bisa sesuai prosedur," ungkapnya.

Terkait mekanisme diversi, Kholis mengaku masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Sebab, dalam proses pendampingan akan memberikan rekomendasi yang akan menjadi bahan pengusutan kasus.

"Tentunya menunggu perkembangan hasil proses hasil mediasi dan pendampingan. Nanti akan muncul rekomendasi yang akan kami tindaklanjuti dalam proses ini," tegasnya.

Kondisi korban saat ini sudah lebih baik. Meski masih harus menjalani perawatan di rumah sakit. Korban dalam kondisi sadar dan bisa diajak berinteraksi.

"Tadi saya lihat kondisinya makin membaik dan sudah mulai bisa berinteraksi walaupun masih menjalani perawatan intensif karena masih ada bagian vital yang perlu dilakukan pengobatan. Kondisinya jauh lebih baik dibandingkan saat awal masuk rumah sakit. Saat itu tidak sadar," urainya.

Peristiwa bullying dilakukan para terduga pelaku sebanyak dua kali di tempat berbeda yakni Bendungan Sengguruh, Kepanjen, pada 11 November 2022 dan Kolam renang Desa Jenggolo, Kepanjen, pada 12 November 2022.

"Ada luka dalam, tetapi dokter tadi mengatakan memang lebih fokus pada upaya pemilihan psikis. Lebih fokus pada upaya pemilihan psikis, tadi kita lihat dokter mengakomodir beberapa keluarga maupun pelaku dengan harapan makin cepat pulih," pungkasnya.

[ray]