7 Manfaat yang Didapat dari Puasa Ramadan

Liputan6.com, Jakarta Tak terasa, umat Muslim sudah melewati sepertiga pertama Ramadan 2020. Memasuki fase dua pertiga Ramadan, tak ada salahnya kita kembali mengingat tujuan dan manfaat puasa Ramadan, tak hanya bagi kesehatan fisik, melainkan juga psikis dan spriritual.

Alquran menyebut, tujuan utama dari puasa Ramadan adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan melatih diri pada kebaikan.

Melansir laman Huffington Post, ada tujuh manfaat yang didapat dengan menjalankan puasa Ramadan:

1. Disiplin

Islam mengajarkan kepatuhan sepenuhnya pada perintah dan kehendak Allah SWT yang berbuah ketenangan diri. Kepasrahan itu tentu sulit dicapai tanpa disiplin dan kepatuhan.

Pada bulan Ramadan, umat Muslim diwajibkan tidak makan dan minum sejak terbit matahari hingga terbenam, bangun sebelum subuh untuk makan sahur, menahan diri dari bekata atau berbuat keburukan, dan meningkatkan perbuatan baik. Hal ini memerlukan disiplin dengan memaksa diri melalukan hal-hal yang jarang dilakukan dalam keseharian, seperti misalnya bangun sahur. Meninggalkan kenyamanan tidur untuk beribadah di malam hari juga memerlukan disiplin.

Disiplin bukanlah suatu hal yang bisa didapat dalam sehari atau seminggu. Itu sebabnya Muslim diminta berpuasa sebulan penuh saat Ramadan.

 

2. Kebersihan dan Kejernihan

Umat Muslim diajari untuk berwudhu sebelum salat. Ini bentuk menjaga kebersihan dan kesucian, tujuannya dengan menyucikan raga, diharapkan juga berujung pada kesucian jiwa. Itu sebabnya, Rasulullah pernah berkata, "Kesucian adalah sebagian daripada iman."

Puasa terbukti membersihkan tubuh dari toksin dan menunda makan selama beberapa jam membantu tubuh memperbaiki sel-selnya serta meningkatkan energi pada sebagian area tubuh. Selain itu, ketika puasa, tubuh membakar lemak untuk menghasilkan energi sehingga membantu menurunkan berat badan.

NHS menulis, "setelah berpuasa beberapa hari, kadar endorfin meningkat dalam darah, membuat Anda lebih terjaga dan menghadirkan perasaan yang lebih baik secara menyeluruh."

Makanan sangat berpengaruh pada otak dan emosi, puasa membantu menjernihkan pikiran dan mendetoks tubuh sehingga menimbulkan perasaan lebih baik pada jasmani dan rohani. Hal itu hanya bisa didapat dengan menjalankan puasa secara benar selama Ramadan.

3. Mengontrol diri

Sebuah ayat dalam Alquran berbunyi:

"(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS Ali Imran: 134)

Manusia cenderung mudah larut dan terdistraksi oleh banyak hal, baik itu terhadap orang lain, kewajiban, dan emosi dalam hidupnya sehingga sulit untuk mengontrol perilaku. Banyak orang susah payah mencoba melepaskan diri dari makanan tertentu atau kebiasaan buruk. Mereka berusaha namun seringkali terjatuh ke kondisi yang sama berkali-kali. Ramadan dan puasa membantu meningkatkan kontrol diri serta kesadaran yang membuat orang lebih mudah melepaskan kebiasaan buruk mereka.

4. Spiritualitas

Belajar dari kisah-kisah orang suci dan para nabi bahwa puasa meningkatkan kadar spriritualitas seseorang. Mereka yang berhasil mencapai taraf tersebut akan memiliki fenomena spiritual yang tak dimiliki orang lainnya. Itu sebabnya orang-orang suci, termasuk Rasulullah kerap menyendiri selama beberapa waktu dan hidup seadanya guna meningkatkan daya spiritual mereka.

Bagi umat Muslim, Ramadan tak ubahnya latihan meningkatkan kadar spiritualitas. Hal itu diwujudkan melalui ibadah-ibadah tambahan seperti membaca dan mempelajari Alquran.

5. Kerendahan hati

Umat Muslim diperintahkan untuk berserah diri sepenuhnya pada Allah dan kehendak-Nya. Bukan tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan atau pun melanggar larangan-Nya. Ini karena manusia semata-mata hanyalah hamba bagi Sang Pencipta dan Pemilik Dunia.

Puasa di Bulan Ramadan menjadi pengingat bagi umat Muslim bahwa mereka sepenuhnya bergantung pada Allah karena Dialah yang Maha Mengabulkan dan Memberi. Hal ini meningkatkan rasa rendah hati dan menambah kepercayaan dan kedekatan pada Allah.

6. Menghancurkan Keakuan

Para sufi, orang-orang suci selalu menyebut tentang "peniadaan diri" atau fana. Ini artinya benar-benar menghilangkan nafsu, keinginan, harapan, dan ambisi serta semua pikiran tentang diri dan hanya memikirkan Tuhan. Ketika seseorang telah mampu memurnikan diri, dia akan terbebas dari rasa sedih atau takut dan terus melanjutkan perjalanan menuju Allah.

Puasa dan pengorbanan adalah cara untuk mencapai tingkat menghilangkan keakuan. Alih-alih diri dikuasi oleh ego, memenuhi hawa nafsu, seseorang bergerak berdasarkan keinginan Allah, makan dan bangun pada waktu yang ditentukan-Nya. Ketika seseorang melakukannya demi Allah, tanpa dikotori oleh keserakahan atau keduniawian, dia akan mencapai kedekatan dengan Alalh dan spiritualitasnya meningkat. Inilah jalan yang disebut oleh para sufi dan orang suci.

7. Empati

Ada sedikit keraguan bahwa seseorang tak bisa benar-benar memahami suatu keadaan hingga dia benar-benar mengalaminya sendiri. Jadi, agar umat Muslim bisa memahami dan merasakan kekurangan, kesulitan, serta duka orang lain di lingkungannya, puasa ditujukan untuk mengembangkan empati bagi sesama.

Praktik ini kemudian akan meningkatkan dorongan bersedekah serta membantu mereka yang tertindas alih-alih meremehkan kondisi mereka.

Karenanya, puasa menjadi bagian penting dalam Islam serta mendatangkan banyak manfaat bagi mereka yang melaksanakannya di Bulan Ramadan dengan konsisten serta ikhlas.