7 Minuman Diuretik Alami, Ketahui Kapan Harus Mengonsumsinya

Liputan6.com, Jakarta Diuretik merupakan obat yang dirancang untuk meningkatkan jumlah air dan garam yang dikeluarkan dari tubuh sebagai urin. Diuretik dapat ditemukan dalam bentuk obat-obatan yang diberikan dokter. Namun, ada sejumlah minuman yang memiliki sifat diuretik alami. 

Minuman diuretik dapat membantu mengurangi gejala edema seperti pergelangan kaki bengkak, meregangkan kulit dan kembung. Diuretik alami juga dikenal dapat menurunkan kadar lemak. diuretik juga dikenal dapat menurunkan kadar lemak. Diuretik alami juga dipercaya dapat membantu menormalkan tekanan darah.

Minuman diuretik alami juga sangat mudah didapatkan. Sebagian minuman diuretik alami merupakan teh herbal yang kaya akan khasiat. Meski bermanfaat, konsumsi minuman diuretik juga harus sesuai dengan kebutuhannya.

Berikut 7 minuman diuretik dan kapan harus mengonsumsinya, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin(1/6/2020).

Teh hijau dan teh hitam

Ilustrasi Teh Hijau (iStockphoto)

Teh hitam dan hijau berasal dari tanaman Camelia sinesis. Minuman ini mengandung kafein yang memiliki sifat diuretik. Kafein bersifat diuretik dan merangsang buang air kecil untuk mengurangi kelebihan cairan dan natrium. Kafein melakukan ini dengan meningkatkan aliran darah ke ginjal, mendorong mereka untuk mengeluarkan lebih banyak air.

Baik teh hijau dan teh hitam mengandung asam amino L-theanine yang dapat bekerja secara sinergis dengan kafein untuk meningkatkan fungsi otak. Teh hijau dan teh hitam juga dikenal akan potensi kesehatannya. Teh mengandung sekelompok polifenol yang memiliki sifat antioksidan. Polifenol dan sifat antimikroba yang ditemukan dalam teh hitam dapat membantu meningkatkan kesehatan usus dan kekebalan tubuh. Teh juga mengandung flavonoid yang bermanfaat bagi kesehatan jantung.

Teh bunga sepatu

copyright by Shutterstock

Teh bunga sepatu telah lama digunakan sebagai diuretik dan obat yang efektif untuk retensi cairan ringan. Minum teh bunga sepatu dapat mengurangi retensi cairan dan membantu mengeluarkan kelebihan air dan natrium dalam tubuh. Efek ini baik untuk menurunkan tekanan darah.

Beberapa penelitian telah menemukan bahwa teh kembang sepatu dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik. Selain itu, kembang sepatu dapat meningkatkan kesehatan hati dan membantu membuatnya bekerja secara efisien. Teh kembang sepatu juga kaya akan antioksidan kuat dan karenanya dapat membantu mencegah kerusakan dan penyakit yang disebabkan oleh penumpukan radikal bebas.

Teh mint

ilustrasi teh daun mint/Photo by Mareefe from Pexels

Teh mint juga bisa bekerja untuk mengobati retensi cairan secara alami sambil menyehatkan. Jika merasa kembung setelah makan besar, tuangkan air panas ke atas beberapa daun mint dan biarkan selama 5-10 menit lalu minum selagi hangat.

Teh Peppermint memiliki sejumlah manfaat lain, termasuk menyembuhkan mual, meredakan kram menstruasi dan kejang otot lainnya, mengurangi ruam kulit, meningkatkan kewaspadaan, dan bahkan mengendalikan herpes simpleks. Aromaterapi pada mint juga bisa mengurangi rasa kantuk di siang hari.

Teh serai

Ilustrasi teh serai madu./Copyright shutterstock.com

Teh serai juga memiliki sifat diuretik alami. Meminum teh sereh dapat memiliki efek diuretik, yang berarti ia merangsang ginjal untuk mengeluarkan lebih banyak urin. Efek diuretik ini membantu membersihkan ginjal dan meningkatkan fungsinya. Minum teh serai saat perut kembung dapat mengurangi rasa kembung dengan cepat.

Air rebusan serai bisa digunakan sebagai minuman detoksifikasi untuk melancarkan metabolisme dan membantu menurunkan berat badan. Secangkir teh serai adalah obat alternatif untuk mengatasi sakit perut, kram perut, dan masalah pencernaan lainnya. Aroma serai dapat membantu orang mengatasi kecemasan. Kebalikan dari kafein, serai memiliki efek menenangkan yang dapat membantu tidur nyenyak.

Kopi

ilustrasi secangkir kopi/Photo by Public Domain Pictures/Pexels

Kopi merupakan sumber kafein selain teh yang memiliki sifat diuretik. Dua hingga tiga cangkir kopi diketahui memiliki efek diuretik alami untuk tubuh. Kopi mengandung beberapa nutrisi penting, termasuk riboflavin, asam pantotenat, mangan, kalium, magnesium, dan niasin.

Konsumsi kopi yang cukup dapat memiliki sejumlah manfaat. Kafein menghambat neurotransmitter penghambat di otak yang dapat meningkatkan tingkat energi, suasana hati dan berbagai aspek fungsi otak. Peminum kopi memiliki risiko sirosis yang jauh lebih rendah, yang dapat disebabkan oleh beberapa penyakit yang memengaruhi hati.

Jahe

Teh Jahe / Sumber: iStockphoto

Jahe terkenal khasiatnya untuk detoksifikasi tubuh. Teh jahe adalah diuretik alami. Jahe bisa diminum untuk mengatasi kesulitan buang air kecil. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa enzim dalam jahe dapat membantu tubuh memecah dan mengeluarkan gas dan mengatasi gangguan pencernaan.

Konsumsi teh jahe dapat meningkatkan kesehatan jantung dengan sejumlah cara. Teh jahe dapat membantu menurunkan tekanan darah, cegah serangan jantung, cegah penyumbatan darah, turunkan kolesterol, dan tingkatkan sirkulasi darah.

Cuka sari apel

Cuka sari apel (Foto: iStockphoto)

Cuka sari apel adalah diuretik alami yang membantu mengatasi kembung dan masalah kelebihan cairan lainnya. Cuka adalah pilihan diuretik alami bagi mereka yang membutuhkan bantuan untuk mengeluarkan cairan berlebih dari tubuh atau meningkatkan produksi urin.

Cuka sari apel dibuat dengan cara memfermentasi gula dari apel. Ini mengubahnya menjadi asam asetat, yang merupakan bahan aktif utama dalam cuka.

Waktu tepat mengonsumsi minuman diuretik

Ilustrasi minum (Dok.Unsplash)

Diuretik dikonsumsi ketika tubuh memiliki kelebihan cairan dan natrium. Kondisi ini kerap disebut dengan retensi cairan. Ini meyebabkan gejala seperti pembengkakan pada sebagai tubuh, kembung, hingga sulit buang air kecil.

Kondisi yang paling umum diobati dengan diuretik adalah tekanan darah tinggi. Diuretik akan mengurangi jumlah cairan dalam pembuluh darah dan ini membantu menurunkan tekanan darah.

Dilansir dari Mayo Clinic, retensi cairan dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi medis dan beberapa obat. Jadi, penting untuk berbicara dengan dokter tentang kemungkinan penyebab retensi cairan sebelum mencoba mengobatinya sendiri.