7 Negara Bakal Investasi Mobil Listrik di Indonesia, Mana Saja?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia menyebut, sebanyak enam sampai tujuh negara akan berinvestasi ke Indonesia dalam pengembangan industri baterai mobil listrik.

Hal ini sesuai dengan keinginan Indonesia untuk menjadi negara pusat produsen baterai mobil listrik.

"Jadi ini sekitar 6 atau 7 negara yang akan masuk ke Indonesia. Makanya Indonesia akan kita jadikan sebagai negara pusat produsen baterai mobil," kata dia dalam konferensi pers, Jumat (17/9/2021).

Bahlil mengatakan, sebagai pemegang atau penguasa bahan baku nikel terbesar yakni 26 persen, maka bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi produsen baterai mobil listrik terbesar.

Sejauh ini memang baru Korea yang sudah berhasil masuk dan mulai membangun pabrik. Ini melalui konsorsium Hyundai terdiri atas Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution yang bekerja sama dengan PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) selaku holding dari empat BUMN, yaitu PLN, Pertamina, MIND ID, dan Antam.

Selain Korea, Bahlil menyebut sudah ada beberapa negara antri masuk seperti China, Eropa, dan Asia Tenggara.

"Sebentar lagi akan saya umumkan tapi nggak boleh dulu saya bicara karena kami di kementerian investasi punya protap, sudah teken baru diumumkan atau minimal sudah diyakini benar masuk baru kita umumkan, kalau setengah-setengah nggak mau kita umumkan," tandasnya

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Pabrik Baterai Mobil Listrik Karawang Bakal Serap Puluhan Ribu Tenaga Kerja

Indonesia Bisa Jadi Produsen Utama Baterai Kendaraan Listrik (Instagram @jokowi)
Indonesia Bisa Jadi Produsen Utama Baterai Kendaraan Listrik (Instagram @jokowi)

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebutkan, pembangunan pabrik baterai mobil listrik di Kabupaten Karawang, Jawa Barat akan menyerap puluhan ribu tenaga kerja.

Bahlil menjanjikan, jika pabrik baterai listrik tersebut sudah jadi dan beroperasi, itu secara langsung akan menarik sekitar 1.100 orang tenaga kerja.

"Ketika pabrik ini jadi, kalau sudah jadi benar, tenaga kerja langsung di situ sekitar 1.100 orang, itu yang jadi langsung," ujar dia dalam sesi teleconference, Jumat (17/9/2021).

Sementara saat masa konstruksi, ia melanjutkan, belasan ribu tenaga kerja akan langsung terserap. Jika ditambah sektor pendukung yang punya peran tidak langsung dalam pembangunan pabrik tersebut, maka akan membutuhkan puluhan ribu tenaga kerja.

"Yang tidak langsung berarti puluhan ribu. Sub kontraktornya, UMKM makanannya, terus untuk bahan-bahan materialnya. Kemudian orang yang punya alat," ungkapnya.

"Jadi tenaga kerja kalau masa konstruksi itu sekitar 13 ribuan, belum yang tidak langsung. Tetapi ketika pabrik itu sudah jadi itu sekitar 1.100 orang," terang Bahlil.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel