7 Pahlawan Perempuan Indonesia yang Diabadikan Menjadi Nama Jalan di Dalam dan Luar Negeri

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada saat itu, semua rakyat bersatu untuk melawan penjajah. Bukan hanya para pria saja, namun para perempuan pun berjasa turut membantu memperjuangkan hak-hak rakyat.

TERKAIT: Hari Dokter Nasional, Berikut 6 Dokter yang Juga Pahlawan Bangsa Indonesia

TERKAIT: Mencintai Indonesia dengan Berterima Kasih kepada Pahlawan Kesehatan

TERKAIT: Hari Dokter Nasional, Jokowi: Mereka Pahlawan Tanpa Pamrih

Para perempuan tersebut menjadi pahlawan nasional yang perlu dikenal dan dikenang jasa-jasanya dalam berjuang melawan penjajah di medan perang hingga kita saat ini bisa hidup bebas di negara tercinta ini.

Untuk mengenang kegigihan dan semangat para pahlawan perempuan ini, maka nama mereka pun diabadikan sebagai nama jalan diberbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri.

Berikut daftar deretan pahlawan Indonesia, yang namanya diabadikan menjadi jalan, melansir berbagai sumber.

1. Rangkayo Rasuda Said

Rangkayo Rasuda Said/dok.wikipedia
Rangkayo Rasuda Said/dok.wikipedia

Tentu sudah tidak asing lagi di daerah Kuningan Jakarta, terdapat nama jalan Rasuna Said. Nama tersebut merupakan nama pahlawan perempuan Indonesia dengan nama lengkap Rangkayo Rasuda Said, beliau lahir 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Kemudian wafat di usia 55 tahun pada 2 November 1965, dan dikebumikan di TMP Kalibata, Jakarta.

Melansir Jakarta Smart City di alamat smartcity.jakarta.go.id, HR Rasuna Said adalah pejuang wanita di masa kemerdekaan yang gigih memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, ia dikenal sebagai sosok berkemauan keras dan berpengetahuan luas.

Rasuna Said sangat memperhatikan kemajuan dan pendidikan bagi kaum perempuan. Ketika membantu mengajar, ia banyak mengajarkan wanita mengenai pendidikan sebagai fondasi kemajuan wanita di ranah Minang.

Selain mengajar, Rasuna Said turut memperjuangkan wanita lewat ranah politik, dengan bergabung di Sarekat Rakyat sebagai sekretaris cabang, kemudian menjadi anggota Persatuan Muslim Indonesia.

2. Nyi Ageng Serang

Ilustrasi Nyi Ageng Serang. Sumber ilustrasi: Document/FIMELA/Nurman Abdul Hakim.
Ilustrasi Nyi Ageng Serang. Sumber ilustrasi: Document/FIMELA/Nurman Abdul Hakim.

Pada awal Perang Diponegoro, 1825, Nyi Ageng Serang yang berusia 73 tahun memimpin pasukan dengan tandu untuk membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda.

Tidak hanya turut berperang, ia juga menjadi penasehat perang. Ageng Serang berjuang di beberapa daerah, seperti Purwodadi, Demak, Semarang, Juwana, Kudus, dan Rembang.

Salah satu strategi perang paling terkenal darinya adalah penggunaan lumbu (daun talas hijau) untuk penyamaran.

Namanya pun diabadikan menjadi nama gedung di kawasan Kuningan dan nama jalan di Tegal Selatan Bandung, Jawa Tengah, dan di Sindangjawa, Dukupuntang Cirebon, Jawa Barat.

3. Ratu Zaleha

Ratu Zaleha/dok. Wikipedia
Ratu Zaleha/dok. Wikipedia

Namanya bisa ditemui di jalan Karang Mekar, Banjarmasin dan Kalimantan Selatan. Ia merupakan putri dari Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari, yang gigih berjuang mengusir Belanda dalam Perang Banjar, melanjutkan perjuangan Pangeran Antasari.

Ketika beranjak dewasa, Zaleha bersama ayahnya gencar mengusir penjajah dan selalu dikejar-kejar Belanda sampai masuk hutan ke luar hutan.

Sebelum ayahnya meninggal, Gusti Zaleha diberi cincin kerajaan dari ayahnya. Sejak itu pula dia menggantikan ayahnya sebagai Sultan dan Pemimpin Perang Tertinggi, lalu diberi gelar Ratu Zaleha. Bersama sang suami, Gusti Muhammad Arsyad, Zaleha melanjutkan perjuangan ayahnya.

Ratu Zaleha dapat menghimpun kekuatan dari suku-suku Dayak Dusun, Kenyah, Ngaju, Kayan, Siang, Bakumpai, Suku Banjar.

4. Opu Daeng Risadju

Opu Daeng Risadju/dok. Wikipedia
Opu Daeng Risadju/dok. Wikipedia

Namanya bisa ditemui di jalan kelurahan Amasangan, kota Palopo, Seluwesi Selatan. Kegigihan Opu melawan penjajah kala itu bahkan membuat dirinya harus dibuat tuli seumur hidup oleh Belanda.

Atas jasanya terhadap bangsa dan negara, wanita kelahiran Kota Palopo pada 1880 silam itu mendapat gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah pada 2006.

5. Martha Christina Tiahahu

Simak kisah Martha Christina Tiahahu sebagai pahlawan perempuan yang turut memperjuangkan Kemerdakaan RI (Ilustrasi: Fimela.com)
Simak kisah Martha Christina Tiahahu sebagai pahlawan perempuan yang turut memperjuangkan Kemerdakaan RI (Ilustrasi: Fimela.com)

Martha Christina Tiahahu adalah Pahlawan Nasional perempuan pertama yang gugur di medan perang saat bertempur melawan Belanda demi mempertahankan tanah Maluku yang kaya akan hasil bumi. Ia lahir di Nusa Laut, Maluku, 4 Januari 1800 dan dibesarkan seorang diri oleh ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu yang merupakan kawan baik dari Thomas Mattulessi atau Kapitan Pattimura.

Namanya pun diabadikan menjadi nama jalan di daerah Ambon, Maluku. Bahkan, pahlawan wanita asal Maluku ini dijadikan nama jalan di Wierden, Belanda.

6. Laksamana Malahayati

Keumalahayati Malahayati, laksamana laut yang disegani dunia dari Kesultanan Aceh. (Foto: Istimewa/id.wikipedia.org)
Keumalahayati Malahayati, laksamana laut yang disegani dunia dari Kesultanan Aceh. (Foto: Istimewa/id.wikipedia.org)

Namanya bisa ditemui di daerah Aceh dan Bandar Lampung. Laksamana Malahayati merupakan perempuan pejuang di Serambi Mekkah pada masa Kesultanan Aceh.Darah pejuangnya memang turun dari ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah.

Malahayati memegang jabatan kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV pada tahun 1585–1604.

Lalu karirnya semakin melejit hingga ia memimpin 2000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal Belanda tanggal 11 September 1599.

7. R.A. Kartini

Merayakan Hari Kartini 2018, nggak ada salahnya untuk mengetahui dua makanan yang jadi favorit R.A. Kartini. (Liputan6.com/Johan Fatzry)
Merayakan Hari Kartini 2018, nggak ada salahnya untuk mengetahui dua makanan yang jadi favorit R.A. Kartini. (Liputan6.com/Johan Fatzry)

R.A. kartini merupakan pahlawan emansipasi perempuan. Di tahun 1911, kumpulan suratnya dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Litch (Habis Gelap Terbitlah Terang). Kritiknya terhadap kondisi perempuan Jawa kala itu mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi. Namanya diabadikan di 4 kota Belanda sekaligus, yaitu Utercht, Haarlem, Venlo, dan Amsterdam.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel