7 Pelatih yang Brilian di Level Klub, tapi Jadi Zonk saat Menangani Tim Nasional: Fabio Capello pun Ada

Bola.com, Jakarta - Banyak pelatih hebat di dunia sepak bola telah mempersembahkan trofi juara dan nama besar ketika menangani klub profesional. Namun, tidak semua mampu mempertahankan konsistensi saat dipercaya untuk menangani sebuah tim nasional di panggung internasional.

Banyak pelatih elite yang memperlihatkan strategi dan taktik yagn mumpuni di kompetisi kasta tertinggi dengan harapan bisa mendapat kesempatan untuk menangani sebuah tim nasional.

Banyak dari mereka yang melihat pekerjaan di tim nasional itu tak akan seberat klub yang harus menjalani satu musim kompetisi penuh sepanjang tahun, atau bahkan lintas tahun.

Ketika bersama tim nasional, ada banyak perbedaan, seperti satu di antaranya adalah sesi latihan yang lebih sedikit, pemain yang lebih sedikit tapi lebih berkualitas untuk dipilih, atau tidak harus memikirkan dana besar yang dibutuhkan untuk keperluan transfer pemain.

Pelatih top dengan reputasi besar dan koleksi trofi yang banyak di level klub tak jarang malah kesulitan saat mendapatkan kesempatan di tim nasional. Daily Star Sport mengulas enam di antara pelatih yang sukses di klub tapi tenggelam di pentas internasional.

Steve McLaren

Steve McLaren (FRANCISCO LEONG / AFP)
Steve McLaren (FRANCISCO LEONG / AFP)

Steve McLaren sangat dihormati saat dia menangani Middlesbrough ke final Piala UEFA 2006. Ketika Sven Goran Eriksson meninggalkan Timnas Inggris, mantan asisten manajer Manchester United itu bisa jadi kandidat untuk menggantikannya.

Sayangnya, ia harus menggengam payung di tengah hujan lebat saat Timnas Inggris gagal lolos ke Euro 2008 setelah dikalahkan Kroasia di Stadion Wembley. Tak lama setelah dijuluki Wally with a Brolly, McLaren dipecat dari Timnas Inggris dengan cara yang memalukan.

Hansi Flick

Pelatih dengan gaji tertinggi di Piala Dunia 2022 Qatar adalah Hansi Flick. Ia tercatat mendapatkan upah sebesar 5,5 juta pound bersama Timnas Jerman. Pria 57 tahun itu tentu akan mengemban beban berat untuk mengembalikan kejayaan Die Mannschaft. (AFP/Ronny Hartmann)
Pelatih dengan gaji tertinggi di Piala Dunia 2022 Qatar adalah Hansi Flick. Ia tercatat mendapatkan upah sebesar 5,5 juta pound bersama Timnas Jerman. Pria 57 tahun itu tentu akan mengemban beban berat untuk mengembalikan kejayaan Die Mannschaft. (AFP/Ronny Hartmann)

Dunia sepak bola mendapatkan perhatian ketika Hansi Flick mendapatkan pekerjaan di Jerman. Ia membawa Bayern Munchen menjadi tim yang tidak tersentuh, memenangkan setiap laga untuk kemenangan Liga Champions, juga mengakhiri musim dengan treble.

Namun, ia mengawali awal yang sulit ketika menangani Timnas Jerman. Saat itu ia menggantikan Joachim Low setelah Euro.

Die Mannschaft baru mencatatkan satu kemenangan, empat hasil imbang, dan satu kekalahan di UEFA Nations League belum lama ini dan kalah dari Makedonia Utara.

Hansi Flick akan memimpin Jerman untuk Piala Dunia di Qatar, wajar jika mengatakan bahwa negaranya telah pergi ke turnamen dengan lebih percaya diri pada masa lalu.

Leonid Slutsky

Leonid Slutsky, salah satu kandidat pelatih timnas Rusia (EPA/Mondelo)
Leonid Slutsky, salah satu kandidat pelatih timnas Rusia (EPA/Mondelo)

Leonid Slutsky memenangkan tiga gelar juara Liga Rusia bersama CSKA Moscow, mengukuhkan dirinya sebagai satu di antara manajer klub terhebat yang pernah ada. Namun, dia melakukan apa pun kecuali meniru kesuksesannya saat memimpin tim nasional Rusia.

Sementara ia menghadapi Euro 2016 yang sulit bersama Wales, Inggris, dan Slovakia, tim Rusia itu tampak memiliki skuad yang bagus dan setidaknya bisa finis di posisi tiga besar.

Sayangnya, setelah mencatatkan hasil imbang 1-1 dengan Inggris dalam laga pembukaan, Jerman dikalahkan dengan nyaman oleh Slovakia dan Wales dalam pertandingan berikutnya, dalam perjalanan mereka untuk finis di posisi terbawah.

Don Revie

Mantan pelatih tim nasional Inggris, Don Revie. (The Sun).
Mantan pelatih tim nasional Inggris, Don Revie. (The Sun).

Don Revie kemungkinan akan disebut seperti halnya Sir Alex Ferguson. Dia mengubah Leeds United dari tim divisi dua menjadi satu di antara kekuatan utama di Eropa. Ia memenangkan dua trofi Divisi Utama, Piala FA, Piala Liga dan finis sebagai runner-up di Piala Winners Eropa.

Sayangnya, dia mengalami tiga tahun yang gagal sebagai manajer Inggris sebelum secara kontroversial berhenti untuk mengambil peran manajemen bersama Uni Emirat Arab yang menodai reputasinya untuk selamanya.

Graham Taylor

Graham Taylor lahir di Worksop, Nottinghamshire, Inggris pada tanggal 15 September 1944, klub pertama yang dilatihnya adalah Lincoln City usai pensiun sebagai pemain di klub tersebut.  (AFP/ADdrian Dennis)
Graham Taylor lahir di Worksop, Nottinghamshire, Inggris pada tanggal 15 September 1944, klub pertama yang dilatihnya adalah Lincoln City usai pensiun sebagai pemain di klub tersebut. (AFP/ADdrian Dennis)

Graham Taylor membuat keajaiban ketika menjadi manajer Watford dan Aston Villa. Dia menyeret The Hornets dari divisi keempat ke posisi kedua di divisi utama dan final Piala FA, dan mengulangi prestasi serupa bersama Villa.

Namun, tiga tahun menjadi manajer Timnas Inggris berakhir dengan kegagalan setelah The Three Lions gagal lolos ke Piala Dunia 1994 yang digelar di Amerika Serikat.

Beruntung, ia masih dipuja dan dikagumi atas karyanya dalam manajemen klub hingga hari ini, di mana dia ahli dalam membuat klub yang lebih kecil mengalahkan tim yang lebih besar.

Fabio Capello

Fabio Capello menyebut Ronaldo sebaga pembawa pengaruh buruk saat dia memipin Real Madrid. (Four Four Two)
Fabio Capello menyebut Ronaldo sebaga pembawa pengaruh buruk saat dia memipin Real Madrid. (Four Four Two)

Anda mungkin berpikir kinerja buruk Capello sebagai manajer Inggris adalah alasan dia berada di daftar ini. Namun, pelatih yang lima kali menjuarai Serie A dan pernah menjuarai Liga Champions itu ada di daftar ini karena menjadi manajer Timnas Rusia.

Ia menangani Rusia mulai musim panas 2012, tujuh bulan setelah mundur dari Timnas Inggris. Setelah awal yang kuat, Rusia mulai berjuang di bawah manajer asal Italia itu dan berusaha lolos ke Euro 2016.

Namun, Capello dipecat pada 2015 dan Slutski begitu cepat ditunjuk dan membawa Rusia ke Euro 2016 di Prancis, di mana mereka juga dengan cepat tersingkir dari kompetisi.

 

Julen Lopetegui

Performa apik Lopetegui selama menangani timnas Spanyol menjadi alasan Real Madrid tertarik mengamankan jasanya. (AP/Alberto Saiz)
Performa apik Lopetegui selama menangani timnas Spanyol menjadi alasan Real Madrid tertarik mengamankan jasanya. (AP/Alberto Saiz)

Menerima tuga sebagai pelatih Real Madrid hanya dua hari sebelum memimpin Timnas Spanyol di Piala Dunia bukanlah strategi terbaik yang bisa dibuat oleh seorang manajer.

Julen Lopetegui secara memalukan dipecat oleh Timnas Spanyol hanya dua hari sebelum Piala Dunia 2018, setelah menerima tawaran dari Real Madrid beberapa hari sebelum pertandingan pertama mereka melawan Portugal.

Pengurus sepak bola Spanyol yang marah segera memecatnya ketika Real Madrid membuat pengumuman.

Dia ditunjuk sebagai manajer Real Madrid, dipecat oleh Timnas Spanyol, dan resmi di Bernabeu hanya dalam tiga hari kemudian. Namun, ia kemudian gagal total bersama Real Madrid.