7 Pemain Asia Tenggara Ini Sukses Berkiprah di Liga Indonesia

Bola.com, Jakarta - Liga Indonesia, meski masih bertabur masalah, tetap menjadi destinasi menarik bagi para pemain asing. Atmosfer suporter klub-klub Indonesia bisa dibilang menjadi daya tarik tersendiri buat para pemain asing. 

Para pemain asing dari berbagai benua ingin mencicipi sepak bola Indonesia. Namun, tak semua pemain asing bisa berkiprah di Liga Indonesia.

PT Liga Indonesia selaku operator kompetisi menerapkan regulasi 3+1 untuk pemain asing. Maksud regulasi tersebut ialah tiga pemain asing dari benua yang bebas dan satu pemain asing khusus dari benua Asia.

Klub-klub Indonesia biasanya merekrut pemain Asia sebagai penyeimbang dalam skuat. Para pemain yang berasal dari Asia biasanya menghuni posisi bek, gelandang serang, dan gelandang bertahan.

Menariknya, mayoritas klub Indonesia mencari pemain yang berasal dari Asia Timur, seperti Korea Selatan atau Jepang. Jarang tim Indonesia yang memilih pemain asing dari Asia Tenggara.

Kebanyakan pemain Asia Tenggara yang merumput di Indonesia berasal dari Singapura dan Thailand. Jarang pemain-pemain dari Malaysia atau bahkan Vietnam bermain di Tanah Air. Padahal, beberapa pemain Indonesia memilih berkarier di Malaysia. 

Memang tak banyak pemain Asia Tenggara yang berkiprah di Indonesia, namun beberapa pemain terbilang sukses. Siapa saja mereka?

Berikut ini Bola.com mencoba merangkum dari berbagai sumber beberapa pemain Asia Tenggara yang sukses merumput di Indonesia.

1. Muhammad Ridhuan (Singapura)

Muhamamd Ridhuan, mantan pemain Arema asal Singapura mengikuti laga amal untuk pemain cedera di Solo dan Sleman.

Muhammad Ridhuan kali pertama bermain di Indonesia pada 2009. Kala itu, ia bergabung dengan klub dari Jawa Timur, Arema Indonesia.

Bersama Arema, Muhammad Ridhuan sukses mengantarkan Arema juara Indonesia Super League (ISL) pada musim 2009-2010. Loyalitas pemain berusia 33 tahun itu tak perlu dipertanyakan lagi. Ridhuan bertahan selama tiga setengah musim bersama klub berjuluk Singo Edan itu.

Setelah itu, Muhammad Ridhuan dipinjamkan ke Persisam Putra Samarinda pada ISL 2013-2014. Namun, saat Indonesia dibekukan FIFA, Muhammad Ridhuan memutuskan kembali ke Singapura.

Pada ajang Piala Presiden 2018, Ridhuan sempat kembali ke Indonesia untuk bergabung dengan Borneo FC, akan tetapi permainannya tak seperti saat membela Arema.

2. Baihakki Khaizan (Singapura)

Bek timnas Singapura, Baihakki Khaizan, curhat tak pernah dimainkan di Piala AFF 2016. (AFP/Mohd Fyrol)

Seperti halnya Muhammad Ridhuan, Baihakki Khaizan datang ke Indonesia pada 2009. Tim pertama yang ia bela ialah Persija Jakarta.

Namun, kebersamaan Baihakki Khaizan bersama Macan Kemayoran hanya berlangsung satu musim. Setelah itu, eks punggawa Young Lions itu berlabuh ke klub tetangga, Persib Bandung.

Saat berkostum Persija, Baihakki Khaizan mencatatkan 39 penampilan dan 3 gol. Sedangkan bersama Persib, Baihakki Khaizan menorehkan 24 pertandingan dengan menyumbang 2 gol.

3. Suchao Nutnum (Thailand)

Pemain Thailand, Suchao Nutnum, berebut bola dengan pemain Indonesia, Firman Utina saat laga semi final AFF Suzuki Cup di Jakarta, Indonesia, (16/12/2008). Thailand menang 1-0. (EPA/Mast Irham)

Suchao Nutnum bermain di Liga Indonesia pada musim 2009-2010. Kala itu, ia bergabung dengan Persib Bandung dengan status pinjaman.

Selama satu musim bersama Maung Bandung, Suchao Nutnum mencatatkan 17 penampilan dan mencetak 3 gol. Setelah itu ia harus kembali ke Thailand, padahal Persib masih ingin bekerja sama dengan sang pemain.

Meski hanya satu musim, Suchao Nutnum mengaku terkesan dengan Bobotoh. Dia kerap mengungkapkan kerinduannya terhadap klub asal Jawa Barat itu.

4. Noh Alam Shah (Singapura)

Mantan pemain tim nasional Singapura, Noh Alam Shah. (AFP/Tengku Bahar)

Noh Alam Shah bisa dibilang menjadi satu di antara pemain terbaik Asia Tenggara yang berkiprah di Indonesia. Noh Alam Shah mulai berkarier di Indonesia pada 2009.

Seperti Muhammad Ridhuan, tim pertama yang ia bela ialah Arema Indonesia. Bersama Singo Edan, Noh Alam Shah mencatatkan 56 penampilan dengan menyumbang 33 gol selama tiga musim.

Selain Arema, klub Indonesia lainnya yang pernah ia bela ialah PSS Sleman pada 2013.

5. Safee Sali (Malaysia)

Penyerang Malaysia, Safee Sali, berusaha melewati kapten Timnas Indonesia, Firman Utina, pada final leg pertama Piala AFF 2010. (AFP/Kamarul Akhir)

Pemain bernama lengkap Mohd Safee Mohd Sali itu kali pertama bermain di Indonesia pada Februari 2011. Safee Sali resmi pindah ke Pelita Jaya untuk mengarungi musim 2011-2012.

Laga debutnya bersama Pelita Jaya berbuah manis lantaran mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan melawan Sriwijaya FC. Selama dua musim bersama Pelita, Safee Sali sukses membukukan 38 gol dari 42 penampilan.

Pada musim keduanya Safee dipercaya menjadi kapten Pelita Jaya. Setelah itu tim yang ia bela, Pelita Jaya melebur menjadi Arema Cronus.

Alhasil, Safee harus berseragam Arema Cronus di Liga Premier Indonesia.

6. Sinthaweechai Hathairattanakool (Thailand)

Kiper Timnas Thailand, Sinthaweechai Hathairattanakool, saat kualifikasi Piala Dunia 2014 melawan Oman di Stadion Rajamangala, Bangkok. (AFP/Nicolas Asfouri)

Sinthaweechai Hathairattanakool atau pemain yang akrab disapa Kosin itu pernah meruput di Liga Indonesia bersama Persib Bandung. Penjaga gawang asal Thailand itu bergabung dengan Persib pada 2006.

Selama satu musim di Persib, Kosin tampil sebanyak 33 pertandingan. Setelah itu ia memutuskan kembali ke Thailand untuk bergabung dengan Chonburi.

Namun, selama satu musim bersama Persib tampaknya membuat Kosin terkesan. Pada 2009, ia kembali membela Maung Bandung dengan status pinjaman dari Chonburi FC.

7. Agu Casmir

Mantan pemain Timnas Singapura, Agu Casmir, pernah merasakan atmosfer sepak bola Indonesia pada musim 2010-2011. Kala itu ia bergabung dengan Persija Jakarta.

Bersama Persija, tampil apik dengan mencetak 9 gol dari 21 penampilan. Setelah itu ia memilih kembali ke Singapura untuk bergabung dengan Lions XII.

Kemudian pada 2013, Agu Casmir kembali ke Indonesia guna memenuhi pinangan Persebaya Surabaya. Sayang, pemain kelahiran Nigeria itu tak tampil apik di Surabaya.

Agu Casmir hanya mampu mencetak dua gol dan hanya diberikan kesempatan tampil sebanyak enam pertandingan.