7 Perubahan Akibat Pandemi COVID-19 Versi Gita Wirjawan

Zulfikar Husein

VIVA – Mantan Menteri Perdagangan masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gita Wirjawan, memberikan prediksi terkait berbagai perubahan yang bakal terjadi selepas pandemi COVID-19. Menurutnya, ada tujuh perubahan yang akan terjadi.

Pertama, Gita mengatakan, akan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi karena adanya penurunan aggregate demand. Kedua, akan terus terjadinya penurunan produktivitas di seluruh dunia,

Baca Juga: Gita Wirjawan Sebut Pariwisata Bisa Bangkitkan Indonesia Usai COVID-19

Penurunan produktivitas ini, ujar Gita, lantaran terjadinya disrupsi rantai pasok terutama yang terjadi di China dan seluruh dunia. Di mana, pandemi COVID-19 saat ini telah menyebabkan semua sektor menjadi lumpuh dan mengganggu rantai pasokan produksi tersebut.

Perubahan ketiga, dijelaskan Gita, akan terjadi peningkatan utang. Baik itu utang negara-negara, korporasi, bahkan utang individu. Sebab, setelah pandemi ini, setiap negara membutuhkan banyak anggaran, sedangkan mereka yang kekurangan, harus mencari hutang.

"Untuk bisa melakukan pemulihan, itu diperlukan utang yang lebih banyak daripada sebelumnya," kata Gita, dalam webinar yang diselenggarakan VIVA Network bertajuk 'New Normal, Bisakah Bangkitkan Ekonomi RI?' pada Selasa 9 Juni 2020.

Mantan Ketum PBSI itu melihat, ada beberapa negara bisa menjadi contoh. Seperti Jepang, China atau negara-negara di Asia Tenggara. Sebab, negara-negara tersebut mengeluarkan hingga 20 persen dari PDB negara untuk memberi stimulus dalam pemulihan ekonominya.

Sementara untuk perubahan keempat, Gita mengatakan, akan terjadi model bisnis yang lebih virtual dan digitalisasi. Ke depan, bisnis akan mulai meninggalkan cara-cara yang fisik seperti yang terjadi selama ini. Selanjutnya, perubahan kelima menurut Gita adalah peningkatan divergensi antara pasar uang/modal dan perekonomian riil. 

"Keenam, akan dan terus terjadinya peningkatan proteksionisme atau aspirasi masing-masing negara," katanya. Sebab, setiap negara akan ingin menjadi bagian dari deglobalisasi rantai pasok.

Selain itu, menurut Gita, kondisi saat ini juga akan berpengaruh pada hubungan antara Amerika Serikat dengan China. "Ketujuh, peningkatan polarisasi antara Tiongkok dan Amerika Serikat," ujarnya.