7 Tips Menghadapi Teman atau Keluarga yang Rasis

Liputan6.com, Jakarta - Isu rasisme sedang memanas di Amerika Serikat setelah kematian warga kulit hitam bernama George Floyd. Pria itu meninggal akibat aksi represif aparat yang menahannya.

Di media sosial, berbagai postingan mengenai rasisme juga semakin ramai beredar. Gerakan Black Lives Matter pun semakin dikenal di dunia.

Masalah rasisme tentunya tak hanya milik satu negara tertentu. Tak usah jauh-jauh melihat ke Amerika Serikat, sikap rasis juga bisa terjadi di sekitar kita tanpa kita sadari.

Menentang orang rasis di media sosial tentunya muda, namun bagaimana jika orang dekat kita justru rasis?

Berikut 7 tips dari Amnesty Australia untuk menangani teman atau anggota keluarga yang rasis, Senin (8/6/2020):

1. Pakai Pernyataan

ilustrasi berkumpul dengan keluarga saat buka bersama/pexels

Ketika hati panas mendengar opini rasis dari teman atau anggota keluarga, lebih baik jangan langsung menuduh rasis. Melakukan itu belum tentu didengarkan oleh orang yang beropini rasis.

Solusinya, jelaskan apa pandanganmu terhadap opini tersebut.

"Ketimbang mengatakan 'kamu rasis', bicarakanlah bagaimana komentar-komentar itu memberi dampak padamu dan bagaimana perasaanmu," jelas Sue Yorston dari Relationship Australia Victoria kepada Amnesty.

2. Minta Klarifikasi

Ilustrasi gosip dan media sosial. (via Glamour)

Salah paham atau salah dengar adalah jalan tercepat menuju perdebatan. Jika kamu kaget terhadap komentar rasis seseorang, coba meminta mereka mengklarifikasi pernyataan itu terlebih dahulu.

"Seseorang bisa saja mengucapkan sesuatu dan memiliki niat yang berbeda dan tak sadar apa dampaknya," ujar Sue Yorston.

3. Bahas Secara Pribadi

Ilustrasi Pertemuan Credit: pexels.com/Burst

Zaman sekarang memang populer untuk cari perhatian atau ribut di media sosial, tetapi jika benar-benar punya niat baik, maka tak ada salahnya untuk memakai cara persuasif.

Bila ada teman atau keluarga yang berkomentar rasis, ajaklah berbicara dengan tenang. Jelaskan bahwa kamu tidak setuju atas pendapat rasis orang itu.

Sue Yorston berkata orang yang berkomentar rasis biasanya berakar dari ketidaktahuan.

Jadikan itu sebagai kesempatan untuk mengedukasi orang tersebut, jelaskan bahwa komentar rasis orang itu tidaklah mencerminkan pengalaman yang kamu alami dengan ras yang ditarget.

4. Suruh Mereka Membayangkan

Anggota komunitas LGBTQ bersama pengunjuk rasa Black Lives Matter melakukan aksi tiarap di jalan dengan tangan seolah terikat di West Hollywood, California, Rabu (3/6/2020). Aksi menyimbolkan momen terakhir George Floyd saat lehernya ditindih lutut polisi Minneapolis pada 25 Mei. (AP/Richard Vogel)

Mintalah orang yang rasis itu untuk membayangkan jika mereka ada di posisi korban rasis. Itu bisa membuat mereka merasakan empati terhadap penderitaan orang.

Kamu juga bisa menceritakan pengalamanmu bersama komunitas yang menjadi target rasisme.

5. Hati-hati Agar Tidak Agresif

Ilustrasi komunikasi. (dok. Priscilla Du Preez/Unsplash/Adhita Diansyavira)

Meski bersemangat melawan rasisme, jika kamu malah punya reputasi memberikan "kuliah" dengan cara agresif, maka ajakanmu kemungkinan malah tidak efektif.

"Jika kamu benar-benar tersinggung, maka saya menyarankan untuk menjelaskannya dengan kalimat: Saya kecewa ketika kamu mengatakan hal seperti itu," ucap Dr. Lauren Rosewarne, peneliti sosial dari Universitas Melbourne.

Dr. Rosewarne berkata itu membuka peluang untuk menjelaskan dampak dari perkataan rasis yang kamu rasakan pada level personal.

6. Dengarkan Sudut Pandang

Ilustrasi sahabat pena (iStock)

Cobalah dengar apa pandangan mereka terkait sikap rasis mereka. Pendapat mereka bisa saja buruk, tetapi jika kamu tidak menyimak mereka, maka kecil kemungkinan mereka akan menyimak perkataanmu.

Mengapa mendengar penting?

Peneliti dari Universitas Winnipeg dan Universitas Illinois berkata seseorang pada dasarnya lebih suka menyimak pendapat politik yang sudah mereka setujui.

Solusinya adalah berusaha mendengarkan. Peneliti menyebut hal itu bisa membuat poin-poin ucapanmu lebih diterima.

"Jika lawan politik merasa dimengerti, maka mereka akan lebih menerima untuk mendengar apa yang pihak lainnya ucapkan," ujar peneliti.

7. Hati-hati di Dunia Maya

ilustrasi ponsel pintar | unsplash.com/@paul_

Orang-orang anonim di dunia maya cenderung lebih berani dan kasar ketimbang di kehidupan nyata. Cara ini sering dipakai untuk mencari dukungan.

Dr. Rosewarne dari Universitas Melbourne tidak menyarankan cara ini, sebab pihak lawan justru malah bisa semakin mengumbar kebencian.

"Merespons di media sosial adalah cara untuk menggerakan dukungan dan memprovokasi lawan-lawan politikmu yang akan bergerak dengan kebencian, hinaan, dan kemarahan yang lebih banyak dari yang kamu bayangkan," ujar Dr. Rosewarne.

Ia menyarankan untuk memblokir orang yang rasis itu atau membagikan link agar mereka memahami kesalahan argumen mereka.

Dr. Rosewarne pun tidak menyarankan untuk merespons dengan berkata-kata kasar, dan memilih untuk "report" ke media sosial jika melihat postingan yang benar-benar ofensif.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: