7 Tradisi Saat Kehamilan Menurut Adat di Indonesia

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Kehamilan adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh para pasangan suami istri. Pastinya setiap pasangan ingin memiliki anak yang sehat, dan dilancarkan pada masa kehamilan hingga persalinan.

Agar masa kehamilan selalu diberikan kesehatan dan keselamatan, masyarakat Indonesia sering melakukan tradisi saat kehamilan, menurut masing-masing adat yang dipercaya oleh keluarganya. Tradisi saat kehamilan ini juga dilakukan sebagai rasa syukur, atas diberikannya anak bagi pasangan suami istri.

Tradisi saat kehamilan ini harus tetap dijaga, agar tidak punah seiring perkembangan zaman, karena ada sebagian orang yang sudah tidak percaya lagi dengan tradisi ini. Berikut tradisi saat kehamilan menurut adat di Indonesia, dilansir dari berbagai sumber:

Tradisi Saat Kehamilan Menurut Adat Dayak

ilustrasi hamil/ freestocks/unsplash
ilustrasi hamil/ freestocks/unsplash

1. Mimbit Arep

Tradisi saat kehamilan yang pertama, yaitu Mimbit Arep yang dilakukan oleh Suku Dayak. Mimbit Arep memiliki artian membawa diri, yang dijadikan sebagai sebuah ritual yang dilakukan ibu hamil, yaitu dengan cara mengikat pinggang dengan tali atau palis pangereng. Menurut suku Dayak, seorang yang sedang hamil tidak diperbolehkan untuk bekerja, agar kandungannya tetap terjaga, aman dan sehat selalu. Ritual ini biasanya dilakukan pada usia kandungan menginjak 3 bulan.

2. Manggantung Sahur Kehamilan

Manggantung Sahur Kehamilan adalah sebuah ritual atau tradisi saat kehamilan, yang dilakukan ibu hamil dari suku Dayak, saat kandungannya berusia 6 hingga 7 bulan. Tradisi ini dilakukan untuk mendoakan proses kelahiran agar normal. Tradisi ini juga merupakan doa, agar bayi lahir dengan sehat dan selamat.

3. Manyaki Tihi

Manyaki Tihi juga merupakan tradisi saat kehamilan, dengan melakukan prosesi adat untuk mendoakan kandungan ibu tetap sehat, serta bayi bisa lahir dengan sehat dan selamat. Ritual yang dilakukan suku Dayak ini, biasanya dilakukan saat kandungan memasuki bulan kelima.

Ritual ini dilakukan dengan mengoleskan darah ayam, ataupun darah babi pada ibu hamil. Saat prosesi itu dilakukan, diiringi dengan doa manyaki tihi untuk ibu hamil.

Tradisi Saat Kehamilan Menurut Adat Jawa

ilustrasi hamil/Ömürden Cengiz/unsplash
ilustrasi hamil/Ömürden Cengiz/unsplash

4. Neloni dan Mitoni

Bagi suku Jawa, saat kehamilan harus melakukan tradisi neloni yang dilakukan saat usia kandungan 3 bulan, dan mitoni saat 7 bulan. Pada saat upacara mitoni ini, dilakukan beberapa prosesi serba tujuh. Seperti tumpengan dalam jumlah tujuh, ibu hamil didampingi tujuh orang, dan dimandikan dengan tujuh guyuran.

Ada beberapa prosesi ritual yang dilakukan saat mitoni, yang pertama adalah ritual kenduri saat berkumpul deengan keluarga untuk mendoakan keselatan ibu dan bayi. Ritual yang kedua adalah sungkeman, yaitu ibu hamil harus berlutut di hadapan orangtua, untuk meminta doa restu agar kehamilannya dilancarkan, dan memohon maaf atas kesalahannya.

Pada ritual yang ketiga, dilakukan upacara siraman untuk menyucikan ibu hamil dan janin yang dikandung. Ibu hamil akan dimandikan dengan 7 siraman berisi mawar, melati, magnolia serta kenanga, dan air suci dari tujuh mata air. Siraman ini dilakukan oleh tujuh sesepuh. Ritual yang keempat adalah brojolan, yaitu membelah kelapa yang sudah digambari Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih.

Ritual yang kelima dilakukan dengan angrem, yaitu kedua orang tua duduk diatas tumpukan kain batik, sebagai lambang bayi akan lahir dengan selamat. Ritual yang terakhir adalah menjual rujak dan dawet, yang dilakukan orang tua kepada para tamu yang hadir, sebagai lambang kelahiran bayi yang lancar dan aman.

Tradisi Saat Kehamilan Menurut Adat Madura, Bali dan Aceh

ilustrasi hamil/Andrew Seaman/unsplash
ilustrasi hamil/Andrew Seaman/unsplash

5. Pelet Kandung

Tradisi saat kehamilan yang selanjutnya adalah Pelet Kandung. Tradisi ini dilakukan oleh suku Madura, pada usia kehamilan 7 bulan ditanggal 14. Ritual ini dilakukan dengan cara ibu hamil dipijat oleh paraji atau dukun bayi, lalu dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an, dan melakukan prosesi mandi kembang. Saat menjalankan prosesi ini, ibu hamil harus memegang sesuatu yang berbunyi, agar bayi lahir bisa lahir dengan sehat dan tidak mengalami disabilitas.

6. Magedong-Gedongan

Magedong-Gedongan adalah tradisi saat kehamilan yang dilakukan oleh adat Bali. Upacara ini dilakukan pada saat usia kandungan 5 atau 6 bulan, untuk mendoakan ibu selalu sehat dan bayi lahir dengan selamat. Saat menjalankan prosesi ini, ibu hamil diberikan sesajen berupa daun kumbang, ikan lele, ikan nyalian, belut, ikan karpel, tumbak tiing, dan paso dari tanah liat.

7. Mee Bu

Tradisi saat kehamilan yang terakhir, yaitu tradisi Mee Bu yang dilakukan suku Aceh. Tradisinya dilakukan keluarga dari pihak laki-laki, dengan mengirimkan makanan pada ibu hamil, saat usia kandungan 7 bulan. Makanan tersebut berisi makanan tradisional dari Aceh. Tamu yang datang juga bisa memberikan sedekah dan menikmati sajian.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel