70 Perempuan Ini Nekat Menikahi Pohon Agar Tidak Ditebang

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, London - Setidaknya ada sebanyak 70 perempuan telah menikahi lusinan pohon dalam sebuah upacara yang bertujuan untuk menyorot pembangunan Bristol yang menyebabkan pohon-pohon ditebang.

Penyelenggara mengatakan mereka khawatir tentang ancaman yang ditimbulakan proposal untuk membangun 166 apartemen di tanah Bristol.

Melansir dari laman BBC, Kamis (9/9/2021), pembuat acara, Siobhan Kierans, mengatakan ia harap dengan upacara pernikahan ini menunjukkan bahwa pohon adalah teman hidup kita.

Dewan Kota Bristol mengatakan karena aplikasi perencanaan sedang dipertimbangkan, mereka tak dapat berkomentar.

Para pengantin yang turut mengambil bagian menggunakan gaun pengantin dari budaya yang berbda-beda dan secara simbolis menikahi 74 pohon dalam sebuah acara.

Juru kampanye dan pengantin, Suzan Hackett, dari Bistol mengatakan: “Menikah dengan pohon adalah hak istimewa mutlak. Ini bukan isyarat sentimental, ini sangat signifikan dan simbolis.

“Pohon adalah contoh sempurna dari cinta tanpa syarat yang sangat coock dengan seluruh gagasan pernikahan. Pernikahan adalah untuk hidup, bernafas adalah untuk hidup.

“Bristol lebih membutuhkan pohon dewasa daripada perumahan yang mewah.”

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Rencana Pembangun 166 Rumah

Ilustrasi perumahan mewah (pixabay)
Ilustrasi perumahan mewah (pixabay)

Penyelenggara acara mengatakan mereka terinspirasi dari para perempuan Chipko di India pada 1970-an yang merangkul pohon-pohon di Himalaya untuk melindungi hutan agar tidak ditebang.

Aplikasi perencanaan, dari Goram Homes dan pengembang Hill, yang di mana belum disetujui, adalah untuk membangun 166 rumah, termasuk 66 unit rumah sosial dan terjangkau.

Pemilik situs Baltic Wharf Caravan, di mana 74 pohon berada, telah diberitahukan oleh dewan kota untuk pergi.

Aplikasi tersebut membenarkan bahwa beberapa pohon perlu ditebang, tetapi kelompok Save Baltic Wharf Trees dan Bristol Tree Forum telah mengkritik mereka dengan mengatakannya sebagai kurangnya transparansi seputar jumlah pohon yang ditebang dan kapan hal tersebut mungkin terjadi.

Prof John Tarlton, seorang profesor kedokteran regeneratif di Bristol Veterinary School, yang juga menulis sumpah dan bertindak sebagai orang dibalik acara tersebut mengatakan: “Setelah aplikasi perencanaan disetujui, sudah terlambat.”

Ia menambahkan: “Tidak ada yang akan mengembalikan keputusan tersebut. Itu saja, pohon-pohon akan pergi dan sangat sedikit yang dapat kita lakukan tentang itu.

“Kita tak bisa kehilangan 74 pohon. Itu adalah jumlah pohon dewasa yang banyak sekali dan di bagian yang paling dibutuhkan di Bristol.”

Reporter: Ielyfia Prasetio

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel