70 Persen Insentif Kartu Prakerja Digunakan untuk Modal Usaha

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Insentif dalam Program Kartu Prakerja sangat bermanfaat bagi penerima. Menurut data manajemen Kartu Prakerja, 70 persen insentif digunakan oleh penerima Program Kartu Prakerja untuk modal usaha.

"Ini (insentif) dipakai untuk bayar air, listrik dan lain-lain. Yang menarik 70 persen digunakan untuk modal usaha," ujar Direktur Eksekutif PMO Kartu Prakerja Deni Puspa Purbasari, dalam diskusi online, Jakarta, Kamis (22/4/2021).

Deni mengatakan, data statistik juga menunjukkan 17 persen penerima Kartu Prakerja yang menganggur selama pandemi menjadi wirausaha setelah mendapat pelatihan dan insentif. Hal ini pula berdampak pada peningkatan jumlah wirausaha di Indonesia.

"Jadi Kartu Prakerja itu secara tidak langsung mendorong kewirausahaan. Yaitu banyak sekali kita temukan teman pekerja saling berkolaborasi. Misalnya ada yang mendapat pelatihan barista kemudian bekerja sama dengan pengelola keuangan untuk membuka usaha dengan menggabungkan insentif," jelasnya.

Insentif Kartu Prakerja juga memberikan umpan balik atau multiflier efect bagi lingkungan penerima program. Sebab, para peserta membelanjakan insentifnya di lokasi peserta bertempat tinggal.

"Jadi insentif tadi selain modal usaha bisa menjadi penopang daya beli dan bisa memutar ekonomi setempat misalnya beli beras, beli sagu, telor atau yang lain. Ini ada multiflier efect buat ekonomi setempat," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Kepesertaan 29 Ribu Penerima Kartu Prakerja Gelombang 12-14 Dicabut

Kartu Prakerja. Dok Prakerja.go.id
Kartu Prakerja. Dok Prakerja.go.id

Sebelumnya, Manajemen Pelaksana (PMO) Kartu Prakerja mencatat sudah mencabut sebanyak 29 ribu peserta Kartu Prakerja mulai dari gelombang 12 hingga 14 yang tidak melakukan pembelian pelatihan pertama.

“Dari gelombang 12-14 ada sekitar 29 ribu orang yang dicabut kepesertaannya,” kata kata Head of Communications Manajemen Pelaksana Program (PMO) Kartu Prakerja, Louisa Tuhatu, kepada Liputan6.com, Selasa (20/4/2021).

Padahal PMO selalu mengingatkan para peserta melalui website resmi Kartu Prakerja dan media sosial Instagram @prakerja.go.id terkait batas pembelian pelatihan pertama. Namun tetap saja banyak peserta yang tidak membeli pelatihan.

Biasanya PMO akan menginformasikan kepada peserta Kartu Prakerja 3 hari sebelum batas pembelian pelatihan pertama ditutup. Jika peserta tetap tidak membeli pelatihan tersebut mau tidak mau akan dicabut kepesertaannya secara otomatis.

Pencabutan sesuai dengan peraturan Permenko No. 11 Tahun 2020, dimana setiap penerima Kartu Prakerja memiliki waktu 30 HARI untuk membeli pelatihan pertama sejak mendapat SMS pengumuman dari Kartu Prakerja.

“Ini sangat menyedihkan karena banyak orang yang sangat ingin bergabung tetapi tidak lolos seleksi. Yang sudah lolos malah tidak memanfaatkannya,” ungkap Louisa.

Adapun PMO hingga kini mencatat sebanyak 11.000 peserta Kartu Prakerja gelombang 15 belum melakukan pembelian pelatihan pertama sejak dinyatakan lolos dari pendaftaran.

“Sekitar 11 ribu. Di setiap gelombang selalu ada saja yang tidak membeli pelatihan pertama sehingga terpaksa kami cabut kepesertaannya dan mereka tidak akan bisa mengikuti Program Kartu Prakerja lagi,” jelasnya.

Demikian peserta Kartu Prakerja gelombang 15, PMO memberikan waktu hingga Kamis 22 April untuk segera mengikuti pelatihan.

“Batas akhir pembelian pelatihan pertama bagi penerima Kartu Prakerja Gelombang 15 adalah tanggal 22 April 2021 pukul 23.59 WIB,” keterangan di Instagram @prakerja.go.id.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: