8 Bahaya Makan Berlebihan Saat Berbuka Puasa, Ganggu Kesehatan

Liputan6.com, Jakarta Bahaya makan berlebihan saat berbuka perlu dijauhi. Terkadang saat berbuka, orang cenderung makan berlebihan untuk memuaskan rasa lapar. Namun, makan berlebihan tak boleh dijadikan kebiasaan saat berbuka.

Di bulan Ramadan, menu buka puasa bisa sangat menggiurkan untuk disantap dalam satu waktu. Makanan-makanan manis dan gurih juga bisa memicu makan tak terkontrol. Makan banyak mungkin bisa menghilangkan rasa lapar dengan cepat. Tapi, efek jangka panjangnya justru tak baik bagi kesehatan.

Banyak orang makan terlalu banyak atau merasa sulit mengendalikan nafsu makan mereka selama puasa. Salah satu cara untuk mengendalikan kebiasaan ini adalah mengetahui bahaya makan berlebihan saat berbuka. Berikut bahaya makan berlebihan saat puasa, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (21/5/2020).

Tambah lemak tubuh

ilustrasi perut buncit/pixabay

Ketika makan berlebihan, tubuh cenderung akan menyimpan kalori tambahan. Tubuh akan menyimpan kalori tambahan ini sebagai lemak. Tak ayal, jika kamu makan berlebihan selama puasa, kamu akan mendapati lemak tambahan di tubuhmu.

Salah satu tanda yang mudah dikenali saat kamu makan berlebihan adalah penambahan lemak tubuh. Lemak ini bisa muncul di perut, lengan, paha, atau bahkan pipi. Akibatnya saat hari raya tiba, berat badanmu jadi bertambah.

Dapat mengannggu kontrol rasa lapar

Ilustrasi (bearfotos/Freepik)

Ada dua hormon utama dalam tubuh yang mengontrol rasa lapar. Hormon ini adalah ghrelin dan leptin. Ghrelin merupakan hormon yang merangsang nafsu makan sementara leptin adalah hormon yang menekan nafsu makan.

Ketika perut kosong sebelum berbuka, kadar ghrelin meningkat. Kemudian, setelah makan, kadar leptin memberi tahu tubuh bahwa ia sudah kenyang. Namun, makan berlebihan dapat mengganggu keseimbangan hormon ini.

Dilansir dari Healthline, mengonsumsi makanan yang tinggi lemak, garam, atau gula melepaskan hormon rasa-enak seperti dopamin, yang mengaktifkan pusat kesenangan di otak. Seiring waktu, tubuh dapat mengaitkan sensasi kesenangan ini dengan makanan tertentu yang cenderung tinggi lemak dan kalori.

Proses ini pada akhirnya dapat mengesampingkan kontrol rasa lapar dan kenyang, mendorong kamu untuk makan demi kesenangan alih-alih untuk rasa lapar. Gangguan hormon-hormon ini kemudian dapat memicu siklus makan berlebih. Akibatnya, setelah bulan puasa kamu akan cenderung makan berlebihan.

Rusak fungsi otak

Ilustrasi/copyright shutterstock.com/file404

Seiring waktu, makan berlebihan dapat merusak fungsi otak. Beberapa penelitian mengaitkan makan berlebih secara terus-menerus dan obesitas dengan penurunan mental pada orang dewasa yang lebih tua.

Kelebihan berat badan akibat makan berlebih dapat memengaruhi fungsi otak seperti memori, kognitif, dan daya ingat. Mengingat otak terdiri dari sekitar 60% lemak, pastikan untuk tetap makan lemak sehat seperti alpukat, kacang, ikan berlemak, dan minyak zaitun dapat membantu mencegah penurunan mental.

Picu mual

Ilustrasi mual (dok Pixabay/Ossid Duha Jussas Salma)

Makan berlebihan juga bisa menyebabkan perasaan mual dan gangguan pencernaan. Dalam kasus yang parah, mual dapat memicu muntah yang merupakan cara tubuh melepaskan tekanan lambung. Ini tentunya bisa sangat merugikan di bulan Ramadan. Mual dan gangguan pencernaan setelah makan bisa mengganggu aktivitas dan ibadah.

Saat berbuka sebaiknya hindari makan berlebihan. Pendekatan terbaik adalah mengatur ukuran porsi dan makan lebih lambat untuk mencegah masalah pencernaan ini.

Sebabkan kembung

Perut Kembung (Pop Paul Catalin/shutterstock)

Mengonsumsi makanan dalam jumlah besar dapat mengganggu pencernaan, menghasilkan lebih banyak gas, dan kembung. Makanan penghasil gas yang cenderung dikonsumsi berlebihan adalah makanan pedas dan berlemak, serta minuman berkarbonasi seperti soda.

Inilah yang membuat perut begah dan terasa sakit setelah berbuka. Selain itu, makan terlalu cepat dapat meningkatkan gas dan kembung karena sejumlah besar makanan dengan cepat memasuki perut. Makan perhalah dengan porsi yang kecil bisa menghindari masalah ini.

Lebih cepat ngantuk

Ilustrasi/copyrightshutterstock/AnemStyle

Setelah makan berlebihan, banyak orang menjadi lamban atau lelah. Ini bisa disebabkan oleh hipoglikemia reaktif di mana gula darah yang turun tak lama setelah makan dalam porsi besar. Gula darah rendah umumnya dikaitkan dengan gejala seperti kantuk, kelesuan, denyut jantung yang cepat, dan sakit kepala.

Meski kondisi ini paling umum terjadi pada orang dengan diabetes, hipoglikemia reaktif dapat terjadi pada beberapa individu sebagai akibat dari makan berlebihan.

Rusak metabolisme tubuh

ilustrasi perut sakit/freepik

Makan berlebihan memiliki efek berbahaya pada metabolisme tubuh. Para peneliti di Harvard School of Public Health melaporkan bahwa makan berlebihan dapat merusak respon metabolik tubuh. Di dalam tubuh ada molekul yang disebut RNA-dependent protein kinase (PKR). Molekul ini berperan melawan virus dengan molekul lain, tetapi para peneliti mengatakan bahwa jika makan berlebihan, molekul ini juga menyerang metabolisme.

Ketika makan terlalu banyak, nutrisi berlebihan menyerang sel-sel yang mengandung PKR, dan responsnya adalah melawan balik dengan mematikan metabolisme. Ini dapat menyebabkan gangguan metabolisme seperti diabetes dan obesitas.

Sebabkan penyakit

Sebabkan penyakit (Foto: TORWAISTUDIO/ shutterstock)

Makan berlebihan dapat menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang dan pendek. Obesitas menjadi masalah yang paling cepat timbul ketika makan berlebihan. Makan berlebihan juga dapat meningkatkan perkembangan resistensi insulin.

Obesitas meningkatkan peluang penyakit seperti penyakit jantung, diabetes dan stroke. Kanker dan masalah hati juga bisa menjadi risiko akibat makan berlebihan.