8 Hal yang Perlu Diketahui Penumpang Pesawat Sebelum Lepas Landas

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta Keamanan selalu menjadi perhatian bagi orang-orang yang bepergian menggunakan pesawat. Baru kemarin (9/1/2021) kita mendapat kabar duka dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak.

Meski tidak ada yang tahu kapan datangnya bencana, namun penumpang pesawat terbang perlu melakukan upaya untuk tetap aman saat terbang dan menghindari atau bahkkan selamat dari kecelakaan dengan mengikuti instruksi ini.

Secara statistik, berdasarkan data sensus AS 2017, kemungkinan meninggal sebagai penumpang pesawat rendah yaitu 1 dari 188.364 dibandingkan dengan perahu atau kapal laut dengan 1 dari 1.117 karena tenggelam dan 1 dari 103 untuk kecelakaan kendaraan bermotor, dilansir dari channelnewsasia.

Sehingga selamat dari kecelakaan pesawat mungkin tidak selangka yang Anda bayangkan. Dalam sebuah penelitian tahun 1996, European Transport Safety Council mengkategorikan 90% penumpang dapat bertahan dari kecelakaan pesawat terbang dan keselamatan penerbangan telah meningkat.

Adapun delapan hal yang perlu Anda perhatikan terkait upaya bertahan hidup atau menghindari kecelakaan pesawat sebagaimana dikemukakan oleh program Why It Matters adalah sebagai berikut.

1. Dengarkan awak kapal

Dalam kasus penerbangan Singapore Airlines SQ368 rute Singapura-Milan tahun 2016, tercium bau bahan bakar jet yang menyengat. Kemudian muncul pengumuman dari kapten bahwa pesawat kehilangan bahan bakar dan harus kembali ke Bandara Changi. Saat mendarat, sayap kanannya terbakar.

Mantan anggota kru Siti Noor Mastura mengenang ketika kabin meledak terjadi kepanikan penumpang, ada yang melompat dari kursi, ada yang memanjat penumpang lain. “Salah satu pria maju ke depan, berteriak kepada saya,“ Buka pintunya! Buka pintunya!'” Kata pria berusia 29 tahun itu. Tapi kapten menjelaskan bahwa "apapun yang Anda lakukan, jangan buka pintunya".

Kaptennya langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran di lapangan, tambah Noor. Lalu menjelaskan ke penumpang jika membuka pintu akan terjadi bencana karena landasan dan bagian bawah pesawat dilapisi bahan bakar.

Noor selamat dari kecelakaan itu bersama 222 penumpang dan 18 awak lainnya berkat koordinasi kapten dan petugas pemadam kebakaran, yang berhasil mengendalikan api dalam waktu lima menit setelah mesin terbakar.

2. Pastikan tirai tetap terbuka

Ketika pesawat sedang meluncur, lepas landas atau mendarat, awak kabin akan mengumumkan bahwa tirai jendela harus tetap dibuka. Alasannya, untuk memungkinkan awak dan penumpang melihat bahaya di luar pesawat. Sehingga memungkinkan penumpang untuk dengan cepat memberitahu awak kapal tentang perkembangan seperti kebocoran bahan bakar, percikan api di area sayap atau kebakaran di mesin, tulis Civil Aviation Authority of Singapore di websitenya.

Dengan memperhatikan tampilan eksterior, penumpang akan tahu apa yang terjadi di luar selama keadaan darurat, sehingga masing-masing dapat menyesuaikan diri dan menghindari bahaya.

3. Sadar selama mendarat dan lepas landas

Ilustrasi pesawat | unsplash.com/@rparmly
Ilustrasi pesawat | unsplash.com/@rparmly

Ketika Boeing melakukan studi kecelakaan pesawat komersial antara 2008 dan 2017, ditemukan bahwa 14 persen kecelakaan fatal terjadi saat lepas landas dan pendakian awal. Saat itulah pesawat mengalami bahaya karena berbelok dari landasan pacu atau bertabrakan dengan hal-hal seperti sekawanan burung.

Peluncuran menyumbang 11 persen dari kecelakaan fatal, yang sebagian besar disebabkan oleh kehilangan kendali pesawat.

Namun, bagian paling mematikan dari setiap penerbangan adalah jelang pendaratan, ketika 49 persen kecelakaan fatal terjadi, karena pendaratan yang keras atau kehilangan landasan pacu. Pensiunan pilot Lim Khoy Hing menjelaskan bahwa ada banyak manuver yang terlibat dalam pendaratan pesawat.

Menurutnya, semakin mendekat ke tanah, waktu reaksi semakin berkurang, terutama saat mendarat. “Angin kencang, membuatnya lebih sulit.” Sehingga menyadari apa yang terjadi selama masa-masa ini mungkin saja meningkatkan peluang seseorang untuk bertahan hidup.

4. Pilih bandara dengan auto landing system

Risiko kecelakaan fatal yang terjadi antara pendaratan hingga sampai di tujuan akhir dapat dikurangi jika pilot dapat mengandalkan sistem pendaratan otomatis untuk memastikan navigasi yang aman. Salah satu contohnya adalah Instrument Landing System, sebuah fasilitas bantuan penerbangan bernavigasi yang memberikan panduan kepada pilot saat pesawat mendekati landasan.

Otomatisasi semacam itu meningkatkan keandalan pendaratan dan menghilangkan kemungkinan kesalahan manusia. Sayangnya tidak semua bandara dilengkapi dengan sistem pendaratan otomatis, kata Lim.

"Sangat mahal untuk memastikan bahwa lapangan terbang tersebut mematuhi sertifikasi pendaratan dengan jarak pandang rendah. Bandara dengan fasilitas pendaratan otomatis ini biasanya berada di negara-negara Eropa yang banyak kabutnya dan (di mana ada) musim dingin," katanya.

Beberapa bandara seperti di Hongkong, Jepang dan Singapura juga memiliki fasilitas ini. Jadi, kalaupun penumpang tidak bisa memilih pilot mereka, namun penumpang dapat memilih bandara yang dilengkapi dengan teknologi tersebut.

5. Berapa biaya aman untuk penerbangan?

Ketika harus memilih maskapai penerbangan, penumpang mungkin memiliki kekhawatiran terkait sesuatu yang murah belum tentu berkualitas. Namun maskapai penerbangan bertarif rendah tetap menjadi favorit penumpang. Hanya dalam satu dekade, kapasitas kursi maskapai penerbangan bertarif rendah telah meningkat lebih dari empat kali lipat di Asia-Pasifik, dilansir dari channelnewsasia.

Sementara dalam hal keselamatan, tidak ada perbedaan antara maskapai bertarif rendah dan maskapai layanan penuh, karena keduanya harus memenuhi standar keselamatan yang sama, kata kepala keselamatan AirAsia Group, Ling Liong Tien.

Sebagian besar maskapai penerbangan di dunia adalah anggota ICAO, yang menyediakan serangkaian standar global untuk membantu regulasi di berbagai bidang seperti keselamatan, efisiensi, dan keamanan penerbangan.

Maskapai penerbangan murah juga harus disertifikasi oleh otoritas penerbangan sipil negara mereka sebelum mereka diberi sertifikat operasi udara, tambahnya. “Jadi tidak mungkin ada maskapai penerbangan (bisa) mengambil jalan pintas.”

6. Hindari Airline yang bermasalah

Ilustrasi pesawat lepas landas. (dok. unsplash.com/Asnida Riani)
Ilustrasi pesawat lepas landas. (dok. unsplash.com/Asnida Riani)

Editor Asian Aviation Matt Driskill merekomendasikan untuk mencari maskapai penerbangan terlebih dahulu dan meninjau lebih dulu sertifikasi Operational Safety Audit, International Air Transport Association (IATA). Ia mengutip situs web airlineratings.com untuk peringkat keamanan maskapai penerbangan.

Menurutnya, di situs tersebut terdapat riwayat kecelakaan yang pernah dialami maskapai-maskapai penerbangan dalam 10 tahun terakhir baik yang menyebabkan korban ataupun tidak. Disana juga tercantum jenis armada yang mereka miliki, termasuk jika ada peralatan baru.

Maka dengan sendirinya Anda akan berpikir dua kali sebelum menggunakan maskapai penerbangan yang bermasalah. Memang bukan karena pilot dengan sengaja menabrakkan pesawat demi mendapat poin, tetapi namanya manusia yang memiliki emosi, mungkin ia melupakan sesuatu saat checklist demi poin tersebut, jelasnya. Dan ini yang harus Anda khawatirkan, tambahnya.

7. Simak penjelasan keamanan

Sangat sedikit orang yang benar-benar menyimak demonstrasi keselamatan apalagi membaca panduan keselamatan. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Aviation Psychology, penumpang hanya mengingat 32 persen pesan utama dari pengarahan standar keselamatan sebelum penerbangan.

"Tetapi jika seorang penumpang ingin meningkatkan peluangnya untuk bertahan hidup dalam kecelakaan maka ia harus memperhatikan hal ini," kata direktur regional IATA (Asia-Pasifik) untuk Keselamatan dan Operasi Penerbangan, Blair Cowles.

Karena informasi keselamatan dapat bervariasi dengan jenis pesawat yang berbeda, penting untuk membaca kartu informasi keselamatan sebelum setiap penerbangan, catat CAAS di situs webnya. Karena beberapa pesawat memiliki nasihat untuk melepas sepatu ketika harus lepas landas menggunakan parasut atau seluncur, karena beberapa sepatu dapat merusak seluncur balon atau parasut. Dan juga memudahkan Anda menggunakkan alas kaki yang disediakan di kantung keselamatan untuk mencegah menginjak serpihan tajam. Juga pintu keluar darurat mungkin juga berbeda antar maskapai.

8. Ambil posisi siap siaga

Jika hal terburuk terjadi, penumpang harus mengambil posisi bersiap untuk benturan selama pendaratan darurat. Misalnya brace posistion atau posisi menjepit akan mengurangi cedera dari hempasan dan benturan sekunder. Caranya dengan meminta penumpang memposisikan tubuh mereka (terutama kepala) terhadap apa pun yang kemungkinan besar akan mereka hadapi saat terjadi benturan, kata Australia’s Civil Aviation Safety Authority dalam buletin keselamatan.

Namun menjadi terlalu khawatir juga tidak perlu. Yang terpenting adalah mengikuti setiap petunjuk yang diarahkan oleh petugas.

Menurut Cowles, "Jika Anda naik pesawat sekarang, Anda harus terbang setiap hari selama 241 tahun ke depan sebelum Anda berada dalam penerbangan yang terlibat dalam kecelakaan yang mengakibatkan satu kematian atau lebih."

Infografis Santunan Korban Pesawat Lion Air Jatuh

Infografis Santunan Korban Pesawat Lion Air Jatuh (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Santunan Korban Pesawat Lion Air Jatuh (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Video Berikut Ini: