80 Persen Ekspor Kopi Lampung Terancam

  • Singapura jadi raja pemberi utang ke Indonesia Rp 582,4 triliun

    Singapura jadi raja pemberi utang ke Indonesia Rp 582,4 triliun

    Merdeka.com
    Singapura jadi raja pemberi utang ke Indonesia Rp 582,4 triliun

    MERDEKA.COM. Bank Indonesia (BI) mengeluarkan data terbaru mengenai utang luar negeri Indonesia. Per Februari 2014, utang luar negeri Indonesia tembus USD 272,1 miliar atau setara dengan Rp 3107,4 triliun. utang ini terdiri dari utang luar negeri pemerintah dan bank sentral sebesar USD 129 miliar serta utang luar negeri swasta sebesar USD 143 miliar. ... …

  • Utang luar negeri Indonesia konsisten naik, tembus Rp 3107 T

    Utang luar negeri Indonesia konsisten naik, tembus Rp 3107 T

    Merdeka.com
    Utang luar negeri Indonesia konsisten naik, tembus Rp 3107 T

    MERDEKA.COM. Bank Indonesia (BI) melansir data terbaru mengenai utang luar negeri Indonesia. Per Februari 2014, utang luar negeri Indonesia tembus USD 272,1 miliar atau setara dengan Rp 3107,4 triliun. Angka utang ini konsisten naik dari bulan sebelumnya yang hanya USD 269,7 miliar. …

  • KAU anggap wajar utang asing Indonesia terus meningkat

    KAU anggap wajar utang asing Indonesia terus meningkat

    Merdeka.com
    KAU anggap wajar utang asing Indonesia terus meningkat

    MERDEKA.COM. Data terbaru mengenai utang luar negeri Indonesia yang dilansir Bank Indonesia (BI) per Februari 2014, menunjukkan angka yang konsisten naik. Utang asing Indonesia menembus USD 272,1 miliar atau setara dengan Rp 3.107,4 triliun dibanding dari bulan sebelumnya yang hanya USD 269,7 miliar.Jika dibandingkan bulan Februari tahun lalu, angka utang ini juga naik. Di mana Februari tahun lalu utang luar negeri Indonesia hanya USD 253,3 miliar. …

TRIBUNNEWS.COM, BANDARLAMPUNG - Sebanyak 80 persen ekspor Kopi Lampung terancam tak bisa eksis di pasar dunia. Permainan marketing strategic oleh lembaga asing membuat posisi Kopi Lampung, semakin lemah. Kondisi bertambah ironi karena peranan pemerintah dinilai kurang dalam melindungi produksi kopi negeri.

Akibatnya, kopi produksi petani-petani dalam negeri tak memiliki daya tawar tinggi di pasar global. Padahal kontribusi kopi robusta Lampung tak sedikit, 70 persen produksi nasional yaitu sebesar 500-600 ribu ton per tahun dihasilkan dari daerah Lampung dan sekitarnya.

Konsumsi kopi dunia sendiri berkisar 135 juta bag dimana kopi Indonesia mengambil peranan 5-6 juta bag.

Ketua Badan Perwakilan Daerah (BPD) Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung, Sumita dalam penjelasan kepada media menuturkan ancaman ini datang atas imbas dua traders (pemain) terbesar kopi Lampung yang mempersyaratkan kopi wajib tersertifikasi oleh lembaga asal Jerman Common Code For The Cofee Comunity (4C).

Kondisi cukup mengganggu adalah persyaratan 4C ini penuh trik-trik yang menguntungkan traders asing dan di lain pihak merugikan negara produsen. Terlebih dengan karakteristik dan kultur pengelolaan kopi Lampung yang sebagian besar dibudidaya oleh masyarakat.

Sumita yang dalam pemaparannya didampingi oleh Ketua Kompartemen Rencana Penelitian dan Pengembangan (Renlitbang) Muchtar Lutfie dan humas Azischan Syatib berujar, persyaratan 4C ini menitikberatkan aspek sosial dan lingkungan berstandar aturan Internasional Labour Organisasi (ILO).

Antara lain tidak boleh mempekerjakan tenaga kerja anak-anak, menyediakan perumahan dan logistik layak bagi pekerja, ditanam di lahan bukan hutan lindung, dan menggunakan pestisida yang tak dilarang oleh The Stockholm Convention Organic Polutants (POPs).

"Budidaya kopi kita sendiri masih banyak yang merupakan lahan keluarga, dimana anak para petani tak jarang ikut ambil bagian. Persyaratan 4C lebih tepat dikenakan ke pengelolaan kopi perusahaan perkebunan sedangkan Lampung sendiri produksi kopinya tidak berkarakteristik seperti itu," terang Lutfie.

Dua traders tersebut diterangkan Sumita memiliki peranan terhadap perdagangan Kopi Lampung di negara-negara konsumen luar negeri, maka jika tak ada peran pemerintah khususnya Kementerian Perdagangan untuk mengangkat daya tawar produksi kopi asal negeri maka dipastikan pelaku usaha berkecimpung di dalamnya terancam.

Ditambahkan Lutfi sebenarnya poin memberatkan adalah kesewenang-wenangan lembaga asing yang berhak menentukan kelayakan kopi nasional tanpa melibatkan aparatur maupun lembaga Indonesia sama sekali.

Padahal jika diuji kualitas dengan produksi biji kopi negara lain seperti Vietnam, maka Kopi Robusta Lampung tak kalah cita rasanya.

"Dengan sistem ini, ditakutkan terjadi monopoli seperti zaman VOC, tak boleh beredar tanpa persetujuan (sertifikat) dari mereka," tuturnya.

Di Indonesia sendiri memiliki lembaga sertifikasi dan verifikasi yang bisa dilibatkan dan mengambil peranan, sehingga tak ada alasan pihak lain dapat semena-mena menentukan kelayakan.

Terlebih kebutuhan akan kopi, seiring pertambahan penduduk dunia pasti akan selalu meningkat, dan Indonesia bisa berpeluang memenuhi kebutuhan konsumsi dunia jika pemerintah juga serius melindungi dan mengangkat produksi dalam negeri.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...