80 Persen Ekspor Kopi Lampung Terancam

  • Sebagian Besar Uang Suami Dikelola Istri, Tapi Manajemen Keuangan Paya …

    Sebagian Besar Uang Suami Dikelola Istri, Tapi Manajemen Keuangan Paya …

    TRIBUNnews.com
    Sebagian Besar Uang Suami Dikelola Istri, Tapi Manajemen Keuangan Paya …

    TRIBUNNEWS.COM - Sebagian besar uang gaji suami dikelola istri. Sialnya, mayoritas wanita tak punya pengetahuan pengelolaan keuangan yang bagus. …

  • Dahlan pasrah rencana penyerahan BTN ke Mandiri 'digagalkan' S …

    Dahlan pasrah rencana penyerahan BTN ke Mandiri 'digagalkan' S …

    Merdeka.com
    Dahlan pasrah rencana penyerahan BTN ke Mandiri 'digagalkan' S …

    MERDEKA.COM. Menteri BUMN Dahlan Iskan menyayangkan keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menginstruksikan untuk menunda rencana pelepasan saham pemerintah di Bank Tabungan Negara (BTN) untuk kemudian dialihkan ke Bank Mandiri. …

  • AP II ingin hadirkan kebun binatang di bandara Jambi

    AP II ingin hadirkan kebun binatang di bandara Jambi

    Merdeka.com
    AP II ingin hadirkan kebun binatang di bandara Jambi

    MERDEKA.COM. PT Angkasa Pura II bersiap mengembangkan bandar udara berkonsep kebun binatang di Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi. Kementerian Perhubungan langsung mengkaji rencana itu, karena berkaitan dengan keselamatan penerbangan.Menteri Perhubungan Evert Erenst Mangindaan mengaku baru mendengar proposal AP II itu. Dia mempersilakan operator bandara berkreasi dengan konsep layanan penerbangan, asal keamanan terjamin. ... …

TRIBUNNEWS.COM, BANDARLAMPUNG - Sebanyak 80 persen ekspor Kopi Lampung terancam tak bisa eksis di pasar dunia. Permainan marketing strategic oleh lembaga asing membuat posisi Kopi Lampung, semakin lemah. Kondisi bertambah ironi karena peranan pemerintah dinilai kurang dalam melindungi produksi kopi negeri.

Akibatnya, kopi produksi petani-petani dalam negeri tak memiliki daya tawar tinggi di pasar global. Padahal kontribusi kopi robusta Lampung tak sedikit, 70 persen produksi nasional yaitu sebesar 500-600 ribu ton per tahun dihasilkan dari daerah Lampung dan sekitarnya.

Konsumsi kopi dunia sendiri berkisar 135 juta bag dimana kopi Indonesia mengambil peranan 5-6 juta bag.

Ketua Badan Perwakilan Daerah (BPD) Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung, Sumita dalam penjelasan kepada media menuturkan ancaman ini datang atas imbas dua traders (pemain) terbesar kopi Lampung yang mempersyaratkan kopi wajib tersertifikasi oleh lembaga asal Jerman Common Code For The Cofee Comunity (4C).

Kondisi cukup mengganggu adalah persyaratan 4C ini penuh trik-trik yang menguntungkan traders asing dan di lain pihak merugikan negara produsen. Terlebih dengan karakteristik dan kultur pengelolaan kopi Lampung yang sebagian besar dibudidaya oleh masyarakat.

Sumita yang dalam pemaparannya didampingi oleh Ketua Kompartemen Rencana Penelitian dan Pengembangan (Renlitbang) Muchtar Lutfie dan humas Azischan Syatib berujar, persyaratan 4C ini menitikberatkan aspek sosial dan lingkungan berstandar aturan Internasional Labour Organisasi (ILO).

Antara lain tidak boleh mempekerjakan tenaga kerja anak-anak, menyediakan perumahan dan logistik layak bagi pekerja, ditanam di lahan bukan hutan lindung, dan menggunakan pestisida yang tak dilarang oleh The Stockholm Convention Organic Polutants (POPs).

"Budidaya kopi kita sendiri masih banyak yang merupakan lahan keluarga, dimana anak para petani tak jarang ikut ambil bagian. Persyaratan 4C lebih tepat dikenakan ke pengelolaan kopi perusahaan perkebunan sedangkan Lampung sendiri produksi kopinya tidak berkarakteristik seperti itu," terang Lutfie.

Dua traders tersebut diterangkan Sumita memiliki peranan terhadap perdagangan Kopi Lampung di negara-negara konsumen luar negeri, maka jika tak ada peran pemerintah khususnya Kementerian Perdagangan untuk mengangkat daya tawar produksi kopi asal negeri maka dipastikan pelaku usaha berkecimpung di dalamnya terancam.

Ditambahkan Lutfi sebenarnya poin memberatkan adalah kesewenang-wenangan lembaga asing yang berhak menentukan kelayakan kopi nasional tanpa melibatkan aparatur maupun lembaga Indonesia sama sekali.

Padahal jika diuji kualitas dengan produksi biji kopi negara lain seperti Vietnam, maka Kopi Robusta Lampung tak kalah cita rasanya.

"Dengan sistem ini, ditakutkan terjadi monopoli seperti zaman VOC, tak boleh beredar tanpa persetujuan (sertifikat) dari mereka," tuturnya.

Di Indonesia sendiri memiliki lembaga sertifikasi dan verifikasi yang bisa dilibatkan dan mengambil peranan, sehingga tak ada alasan pihak lain dapat semena-mena menentukan kelayakan.

Terlebih kebutuhan akan kopi, seiring pertambahan penduduk dunia pasti akan selalu meningkat, dan Indonesia bisa berpeluang memenuhi kebutuhan konsumsi dunia jika pemerintah juga serius melindungi dan mengangkat produksi dalam negeri.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...