80 Persen Nelayan Bangka Terjerat Tengkulak

Sungailiat, Bangka (ANTARA) - Sekitar 80 persen dari 7.000 orang jumlah nelayan tradisional di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung (Babel), masih terjerat tengkulak karena kondisi ekonomi nelayan masih di bawah garis kemiskinan.

"Keberadaan tengkulak memang merugikan nelayan, namun sangat sulit diberantas karena nelayan membutuhkan tengkulak untuk memberikan pinjaman agar bisa memenuhi biaya operasional melaut dan untuk keperluan anak istrinya," ujar Kabid Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bangka, Hermansyah di Sungailiat, Rabu.

Ia menjelaskan, tingkat kesejahteraan nelayan yang masih rendah ini menjadi kesempatan bagi para tengkulak menjerat nelayan dengan hutang berbunga tinggi yang akan dibayar dengan hasil tangkapan ikannya sepulang melaut.

"Hasil tangkapan ikan nelayan harus dijual kepada para tengkulak dengan harga di bawah harga pasar, sehingga keuntungan yang diperoleh nelayan sangat kecil bahkan terkadang mengalami kerugian jika hasil tangkapan sedikit karena gangguan kapal atau cuaca buruk," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, dalam upaya mengurangi ketergantungan nelayan terhadap tengkulak ini, kami berupaya meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui kegiatan pendampingan, pembinaan dan bantuan peralatan tangkap.

"Kami telah membentuk tim untuk meningkatkan sumber daya manusia, pelatihan dan bantuan peralatan tangkap seperti kapal, jaring, bubu dan lainnya, sehingga nelayan tersebut mandiri dan mampu meningkatkan kesejahteraan," ujarnya.

Ia mengatakan, jumlah Kelompok Usaha Bersama (KUBE) nelayan di Kabupaten Bangka sebanyak 100 unit tersebar di dua kecamatan yaitu Kecamatan Sungailiat dan Belinyu.

"Melalui program pendampingan ini akan mampu mengurangi praktik tengkulak yang sangat merugikan nelayan," ujarnya.

Misalnya, kata dia, dilatihnya keluarga nelayan pengolahan ikan menjadi makanan olahan maka nilai jual hasil tangkapan ikan nelayan tersebut akan lebih tinggi.

Selain bantuan kapal tangkap ikan, nelayan bisa mandiri dan tidak lagi mengunakan kapal orang lain untuk mencari ikan di tengah laut.

"Pada tahun ini, kami akan memberikan bantuan tujuh unit kapal yang terdiri dua unit kapal berkapasitas tujuh GT dan lima kapal berkapasitas lima GT serta ratusan alat tangkap jaring," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, diharapkan dengan adanya kegiatan pedampingan, pelatihan, bantuan dan lainnya akan mengurangi ketergantungan nelayan terhadap tengkulak," ujarnya.(rr)


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.