9 Berkah Menikah dalam Islam, Sunnahnya di Bulan Syawal

Liputan6.com, Jakarta Menikah dalam Islam adalah bagian dari penyempurna agama dan iman. Melaksanakan sunnah Rasulullah SAW untuk meraih berkah menikah dalam Islam. Menikah juga sangat dianjurkan pada bulan Syawal. Sebagaimana Rasulullah SAW menikahi Aisyah putri Abu Bakar pada bulan Syawal. 

Menikah memang bukan hal yang mudah. Tidak hanya menyatukan dua jiwa, tetapi dua keluarga. Berkah menikah dalam Islam tidak hanya setelah ijab qobulnya saja. Namun, pada tujuan utamanya juga. Menghindari maksiat, mendapat kenyamanan, memperbesar peradaban Islam, dan masih banyak lagi.

Rasulullah SAW melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal. Beliau menikahi Aisyah dengan tujuan mulia. Sebagai penyempurna agama dan menghilangkan kepercayaan salah tentang bulan Syawal. Orang jahiliyah menganggap bulan ini sebagai bulan diharamkannya menikah. Kemudian Rasulullah SAW mematahkannya dengan menunjukkan berkah menikah dalam Islam pada bulan ini.

Berikut Liputan6.com ulas berkah menikah dalam Islam dan pelaksanaannya pada bulan Syawal dari berbagai sumber, Sabtu (23/5/2020).

Menikah di Bulan Syawal

ilustrasi Menikah (Photo by Jeremy Wong Weddings on Unsplash)

Menikah merupakan solusi untuk mereka yang ingin menjaga kemaluan dan menundukkan pandangannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah pun menikah di bulan Syawal, karena itu ada sunnah untuk melangsungkan pernikahan di bulan Syawal tersebut. ‘Aisyah radiallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan:

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟، قَالَ: ((وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ))

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim).

Dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Aisyah untuk membantah keyakinan yang salah sebagian masyarakat yaitu tidak suka menikah di antara dua Id (bulan Syawal termasuk di antara Idulfitri dan Iduladha), mereka khawatir akan terjadi perceraian.

Mereka beranggapan bahwa unta betina mengangkat ekornya (syaalat bidzanabiha) pada bulan Syawal. Ini adalah tanda unta betina tidak mau dan enggan untuk menikah, sebagai tanda juga menolak unta jantan yang mendekat. Maka para wanita juga menolak untuk dinikahi dan para wali pun enggan menikahkan putri mereka.

Berkah Menikah dalam Islam

Ilustrasi menikah (dok. Pixabay.com/Pexels/Putu Elmira)

Menghindari Maksiat

Menikah ditujukan untuk menghindari perbuatan maksiat. Sebagaimana perbuatan zina. Islam cukup mengenal taaruf untuk mempersiapkan pernikahan. Mengenal lebih dekat satu sama lain dengan cara yang benar dan tidak berlebihan.

Rasulullah SAW bersabda: “Wahai para pemuda, barang siapa dari kamu telah mampu memikul tanggul jawab keluarga, hendaknya segera menikah, karena dengan pernikahan engkau lebih mampu untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluanmu. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengendalikan dorongan seksualnya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Nafsu syahwat adalah fitrah dalam diri manusia. Agar bisa terhindar dari perbuatan maksiat, bagi yang mampu dianjurkan menikah. Jika belum mampu, hendaknya berpuasa untuk menjaga dirinya.

Mengendalikan Diri

Menikah bagi yang sudah mampu. Memang fitrah manusia untuk memiliki pasangan. Pernikahan akan lebih mengendalikan diri manusia. Terutama yang berkaitan dengan hawa nafsu. Pernikahan satu-satunya jalan yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Salah satu fitrah manusia ialah berpasang-pasangan. Antara laki-laki dan perempuan. Saling melengkapi, saling membutuhkan, dan saling mengisi kehidupan.

Sunnah Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah panutan utama dalam menjalankan kehidupan. Menikah termasuk salah satu amalan berkahnya. Mengikuti dan menerapkan sunnahnya merupakan bagian dari keimanan. Terutama menikah dengan tujuan yang dibenarkan.

Berkah Menikah dalam Islam

ilustrasi pasangan/Photo by Kareem Mansour from Pexels

Memperoleh Ketenangan

Perasaan tenang dan tentram akan hadir selepas menikah. Sebagaimana hidup bersama dalam lindungan agama. Meraih berkah bersama hingga memperoleh ketenangan hidup di dunia. Tidak hanya di dunia bahkan di akhirat kelak.

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 22].

Penyempurna Agama

Dalam Islam, menikah merupakan penyempurna agama. Dengan menikah separuh agama telah terpenuhi. Jadi salah satu dari tujuan pernikahan ialah penyempurnakan agama yang belum terpenuhi. Agar semakin kuat seorang muslim dalam beribadah.

Rasullullah Shallallaahu'alaihi wa sallam bersabda:"Apabila seorang hamba menikah maka telah sempurna separuh agamanya, maka takutlah kepada Allah SWT untuk separuh sisanya" (HR. Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman).

Berkah Menikah dalam Islam

Ilustrasi./Copyright pexels.com/@ku3weddinghouse

Rumah Tangga Islami

Menikah akan membawa pada rumah tangga Islami. Keberkahan lebih besar akan di dapat dari rumah tangga ini. Sebagaimana masyarakat yang damai berasal dari keluarga yang menjalankan perintah Allah.

Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakaranya adalah manusia dan batu; penjaganya mailakt-malaikat yang kasar yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim 6)

Dijanjikan Surga

Anak merupakan investasi kedua orangtua di akhirat. Terutama ketika memiliki anak yang saleh dan salehah. Anak ini akan memberikan peluang kedua orang tuanya surga di akhirat. Mengajarkannya kebaikan. Mengajarkannya ilmu keagamaan. Surga akan benar-benar dijanjikan-Nya di akhirat kelak.

 

Berkah Menikah dalam Islam

Ilustrasi./Copyright pexels.com/@dariaobymaha

Menguatkan Ibadah

Pernikahan merupakan hal yang mulia. Pernikahan merupakan jalan paling bermanfaat dalam menjaga kehormatan. Terutama untuk menjaga diri sagar terhindar dari larangan agama.

Hal ini pula sesuai dengan HR. Muslim No. 1.400 di mana Rasullullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya."

Sasaran utama pernikahan dalam Islam ialah menundukkan pandangan. Selain itu membentengi diri dari perbuatan keji dan kotor. Terutama yang dapat merendahkan harkat dan martabat seseorang.

Memperoleh Keturunan

Sesuai dengan Surat An Nahl Ayat 72, Allah SWT telah berfirman, yang artinya:"Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau isteri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?"

Salah satu tujuan pernikahan dalam Islam ialah memperoleh keturunan. Harapannya, keturunan yang diperoleh yang saleh dan salehah. Agar dapat membentuk peradaban Islam yang lebih berkualitas.

Doa Pernikahan dalam Islam

Ilustrasi menikah (dok. Pixabay.com/Putu Elmira)

Ketika seseorang hendak melangsungkan pernikahan, ada tata cara serta doa yang harus dibaca. Doa tersebut tentunya untuk kebahagiaan keduanya kelak.

"Baarakallaahu Laka Wa Baaraka ‘Alaika Wa Jama’a Bainakuma Fii Khoir"

Artinya: "Semoga Allah memberi keberkahan padamu, memberi keberkahan atasmu, dan semoga Dia mengumpulkan di antara kalian berdua dalam kebaikan." (HR.Ahmad dan Hakim).

Ketika kamu akan melangsungkan pernikahan maka doa di atas harus dibacakan, karena merupakan anjuran Rasulullah untuk disampaikan kepada pengantin. Doa atau kata mutiara pernikahan adalah ungkapan rasa syukur atas berlangsungnya pernikahan.

Dengan doa tersebut, maka pernikahan diharapkan menjadi salah satu jalan terbaik untuk menyempurnakan iman.

Allah berfirman dalam Al Quran surah An Nuur ayat 32:

Artinya:

"Dan, kawinkanlah orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan, Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Pengetahui." (QS. An-Nuur ayat 32).