9 Mitos tentang Disabilitas yang Dipatahkan Atlet Paralimpiade Tokyo 2020

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Paralimpiade Tokyo sudah dimulai dan merupakan kesempatan untuk mempromosikan kesetaraan bagi penyandang disabilitas dan non-disabilitas.

Dilansir dari DUK News, peraih medali emas paralimpiade sekaligus juru kampanye disabilitas, Liz Johnson, hadir untuk menghilangkan prasangka 10 kesalahpahaman umum tentang disabilitas untuk kita ingat sepanjang penyelenggaraan pertandingan di Tokyo.

Sebagai komedian sekaligus bagian dari tim presenter Channel 4 di Jepang, Rosie Jones, mengatakan, "Mencapai titik ini, yaitu memiliki antusias yang sama saat paralimpiade seperti saat olimpiade, tapi kita juga harus bersyukur karena selama empat minggu ini, kita setara dengan orang-orang yang berbadan sehat. Itu harusnya terjadi sepanjang waktu,"

Adapun 10 mitos yang digagalkan oleh Liz adalah sebagai berikut.

Mitos 1: Karir terbaik adalah paralimpiade

"Tak perlu dikatakan bahwa saya menyukai Paralimpiade. Memenangkan emas di Olimpiade adalah satu-satunya yang saya inginkan, sehingga mampu memenuhi mimpi itu benar-benar istimewa. Tapi tidak semua penyandang disabilitas membagikannya,” kata Liz Johnson.

"Paralimpiade membantu menyoroti bakat penyandang disabilitas yang luar biasa, dan bukan hanya olahraga yang bisa kita lakukan. Mitos itu membatasi peluang bagi tenaga kerja penyandang disabilitas lainnya, serta pensiunan atlet Paralimpiade. Padahal, sama seperti orang yang berbadan sehat, ada banyak ambisi dan keterampilan yang berbeda di antara kita, dan kita mampu bekerja di sektor apa pun yang kita pilih.”

Mitos 2: Penyandang disabilitas adalah minoritas kecil

“Ada lebih dari 14 juta orang yang hidup dengan disabilitas di Inggris saat ini, atau setara satu dari lima orang. Artinya tidak sedikit jumlahnya. Namun, karena disabilitas sangat kurang terwakili, kecuali setiap didakannya paralimpiade. Oleh karena jarangnya kami melihat disabilitas di pemerintahan, layar maupun panggung maka kini perlu diubah. Penydang disabilitas harus diberi platform di setiap sektor jika kita ingin menormalkan disabilitas," tambahnya.

Mitos 3: Anda pasti terlahir dengan disabilitas

“Banyak orang mengabaikan disabilitas karena mereka tidak terpengaruh secara langsung. Tapi ini mungkin tidak selalu terjadi. Hanya 17% penyandang disabilitas yang lahir dengan kelainan mereka. Sebagian besar mengalami disabilitas di kemudian hari, dengan gangguan pendengaran, penglihatan dan mobilitas. Semua itu semakin umum seiring bertambahnya usia. Sehingga penting untuk menjadikan aksesibilitas dan inklusi sebagai prioritas," jelas Liz.

Mitos 4: Semua disabilitas terlihat

Bagi sebagian besar, kata 'disabilitas' langsung memunculkan citra pengguna kursi roda. Stereotip yang bertahan lama ini telah membantu menanamkan keyakinan bahwa disabilitas hanya yang berbentuk fisik atau yang terlihat. Faktanya, hanya 8% penyandang disabilitas di Inggris yang merupakan pengguna kursi roda, sementara disabilitas tak terlihat menyumbang 80% dari semua disabilitas. Contohnya termasuk nyeri kronis, multiple sclerosis dan depresi.

“Masalah kesehatan mental secara umum meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan. Namun kurangnya kesadaran tentang semua kondisi ini memastikan bahwa penyandang disabilitas tetap berada dalam bayang-bayang, tidak bisa mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan,” jelas Liz.

Mitos 5: Anda hanya mendapatkan perlakuan istimewa untuk masalah mobilitas

“Persaingan untuk tempat parkir bisa sangat ketat. Juga berkat berkat kesalahpahaman umum bahwa hanya mereka yang memiliki disabilitas terkait mobilitas yang berhak atas perlakuan istimewa yang disebut Blue Badge, penyandang disabilitas sering menjadi sasaran pelecehan pengendara yang marah. Sebenarnya ada banyak alasan berbeda mengapa Blue Badge dialokasikan, termasuk sakit kronis dan kondisi kesehatan mental tertentu.”

Mitos 6: Kita tidak bisa melakukan pekerjaan normal

Kemungkinan jarangnya ditemukan penyandang disabilitas di tempat kerja berkontribusi pada mitos bahwa penyandang disabilitas tidak dapat melakukan pekerjaan normal. Ada juga yang memilih untuk tidak mengungkapkan disabilitasnya. Kenyataannya juga, karena transportasi umum dan tempat kerja sebagian besar tidak dapat diakses, penyandang disabilitas seringkali harus bekerja dari rumah, bahkan sebelum pandemi, atau tidak bekerja sama sekali. Namun intinya, penyandang disabilitas sangat mampu melakukan pekerjaan yang dilakukan orang lain.

Mitos 7: Mahal bagi majikan untuk mengakomodasi kami

Seringkali, alasan mengapa kantor tidak dapat diakses (dan penyandang disabilitas menganggur) adalah karena pengusaha percaya bahwa adaptasi tidak terjangkau. Sehingga di Inggris ada yang disebut skema Access To Work, namun itupun masih sangat kurang dimanfaatkan. Pendanaan ini dicadangkan bagi perusahaan untuk membuat penyesuaian wajar yang dibutuhkan staf penyandang disabilitas agar dapat bekerja dengan aman dan nyaman. Ini mungkin berarti memasang lift, atau sekadar menyediakan meja berdiri atau perangkat lunak speech-to-text.

“Saat ini tanggung jawab ada pada penyandang disabilitas untuk mengajukan pendanaan. Sudah waktunya kita mengalihkan tanggung jawab itu, dan memberi tahu pemberi kerja bahwa bantuan itu ada,” kata Liz.

Mitos 8: Berbicara tentang disabilitas itu menyakitkan

Banyak orang enggan melakukan percakapan dengan penyandang disabilitas karena takut menyinggung perasaan mereka. Tetapi meskipun benar untuk mewaspadai stereotip dan budaya mampu, sebagian besar dari kita terlalu senang untuk terlibat dalam percakapan tentang disabilitas kita yang merupakan kesempatan mereka mempromosikan lebih banyak kesadaran dan pemahaman.

“Dalam pengalaman saya, orang-orang benar-benar ingin tahu tentang realitas hidup dengan disabilitas. Kesalahpahaman, asumsi, dan tabu berasal dari fakta bahwa kita tidak cukup berbicara tentang disabilitas.”

Mitos 9: Kami dinilai berbeda atau berani

"Penyandang disabilitas hanyalah orang biasa. Kami hanya difabel karena hambatan kemampuan yang ada di masyarakat, seperti kurangnya landai kursi roda, tidak adanya subtitle di layar, atau meja yang terlalu ramai di restoran yang menyulitkan pengguna kursi roda untuk melewatinya. Ketidakmampuan kami tidak mendefinisikan kami, tetapi masalah ini saja yang menahan kami dan harus ditangani. Kami tidak ingin diperlakukan berbeda dan kami tentu tidak ingin simpati. Kami hanya ingin hidup dalam masyarakat yang mencakup kebutuhan kami, dan diberi kesempatan yang sama seperti orang lain," jelas Liz.

Infografis Ni Nengah Widiasih Peraih Medali Perak Pertama Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020.

Infografis Ni Nengah Widiasih Peraih Medali Perak Pertama Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Ni Nengah Widiasih Peraih Medali Perak Pertama Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel