9 Pemain Kesayangan Thomas Tuchel di Chelsea: Untouchable, Selalu Jadi Andalan

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Jakarta - Kiprah Thomas Tuchel bersama Chelsea mendapat banyak pujian. Belum ada gelar yang diraih, tapi dua laga final di Piala FA dan Liga Champions dinilai cukup bagus.

Tuchel telah memainkan 24 bersama Chelsea, baru dua kali kalah. Rata-rata poin yang didapat pria berusia 47 tahun itu mencapai 2.25 poin per laga.

Tuchel tidak punya pakem pasti bersama Chelsea. Dia acap kali memakai formasi berbeda. Selain itu, beberapa pemain juga terus dirotasi untuk mencari yang terbaik.

Namun, seperti dikutip dari Football London, ada sembilan pemain untouchable alias tidak tersentuh di skuad Chelsea saat ini. Tuchel hampir selalu mengandalkan sembilan pemain itu ketika kondisinya bugar.

Siapa saja mereka?

Edouard Mendy

Edouard Mendy. Kiper asal Senegal ini berusia 29 tahun dengan tinggi 197 cm. Baru musim ini memperkuat Chelsea setelah sebelumnya merumput bersama Rennes di Liga Prancis. Total telah tampil dalam 40 penampilan bersama Chelsea di semua ajang kompetisi. (AFP/Adrian Dennis/Pool)
Edouard Mendy. Kiper asal Senegal ini berusia 29 tahun dengan tinggi 197 cm. Baru musim ini memperkuat Chelsea setelah sebelumnya merumput bersama Rennes di Liga Prancis. Total telah tampil dalam 40 penampilan bersama Chelsea di semua ajang kompetisi. (AFP/Adrian Dennis/Pool)

Tuchel sempat memberi kesempatan pada Kepa untuk bermain lagi. Akan tetapi, pilihan utamanya tetap jatuh pada Edouard Mendy untuk berada di bawah mistar gawang Chelsea. Mendy jadi pemain yang tidak tersentuh.

Kiper 29 tahun mendapat banyak pujian atas aksinya pada leg kedua semifinal Liga Champions. Dia membuat beberapa aksi penting yang membuat gawang The Blues tidak kebobolan.

Secara keseluruhan, pada musim 2020/2021, Mendy telah mencatat 16 nirbobol dari 28 laga yang dimainkan di Premier League.

Andreas Christensen

Pemain Chelsea Andreas Christensen (kanan) memenangkan duel udara dengan pemain Fulham Josh Maja. (Foto: AFP/Pool/Ian Walton)
Pemain Chelsea Andreas Christensen (kanan) memenangkan duel udara dengan pemain Fulham Josh Maja. (Foto: AFP/Pool/Ian Walton)

Christensen berkembang pesat sejak Thomas Tuchel datang. Bek asal Denmark itu bermain secara reguler. Kepercayaan Tuchel pun dijawab dengan performa apik dari Christensen.

Selain punya kemampuan duel yang bagus, kelebihan Christensen adalah pemain yang bersih. Bek berusia 25 tahun baru mendapat dua kartu kuning dari 17 laga yang dimainkan bersama Tuchel. Dia layak menjadi pilihan utama Tuchel.

Antonio Rudiger

Striker Real Madrid, Karim Benzema (kiri) dan bek Chelsea, Antonio Rudiger terjatuh saat perebutan bola dalam laga leg kedua semifinal Liga Champions 2020/2021 di Stamford Bridge, London, Rabu (5/5/2021). Real Madrid kalah 0-2 dari Chelsea. (AP/Alastair Grant)
Striker Real Madrid, Karim Benzema (kiri) dan bek Chelsea, Antonio Rudiger terjatuh saat perebutan bola dalam laga leg kedua semifinal Liga Champions 2020/2021 di Stamford Bridge, London, Rabu (5/5/2021). Real Madrid kalah 0-2 dari Chelsea. (AP/Alastair Grant)

Chelsea dilaporkan siap memberi tawaran kontrak baru untuk Rudiger. The Blues rupanya cukup puas dengan performa bek asal Jerman itu pada paruh kedua musim 2020/2021.

Rudiger menjadi pemain vital pada era Thomas Tuchel. Pada skema tiga bek racikan Tuchel, satu tempat hampir pasti jadi milik Rudiger. Dia pun menjalankan tugasnya dengan baik.

Rudiger jadi salah satu pemain yang paling sering bermain untuk Chelsea pada era Tuchel, 20 kali.

Thiago Silva

Striker West Ham United, Jarrod Bowen (kiri) mengontrol bola di depan bek Chelsea, Thiago Silva dalam laga lanjutan Liga Inggris 2020/2021 pekan ke-33 di The London Stadium, London, Sabtu (24/4/2021). West Ham kalah 0-1 dari Chelsea. (AFP/Andy Rain/Pool)
Striker West Ham United, Jarrod Bowen (kiri) mengontrol bola di depan bek Chelsea, Thiago Silva dalam laga lanjutan Liga Inggris 2020/2021 pekan ke-33 di The London Stadium, London, Sabtu (24/4/2021). West Ham kalah 0-1 dari Chelsea. (AFP/Andy Rain/Pool)

Thiago Silva dan Thomas Tuchel sudah pernah bekerja sama di PSG. Tuchel kenal baik bek asal Brasil ini. Jadi, bukan hal yang mengejutkan ketika Silva jadi pilihan utama di lini belakang.

Silva sempat cedera cukup dan kehilangan tempat di tim utama. Namun, ketika kondisinya bugar, Silva hampir pasti jadi pilihan utama. Kurt Zouma pun harus duduk di bangku cadangan.

Silva telah memainkan 11 laga untuk Chelsea pada era Tuchel.

Jorginho

Gelandang Chelsea, Jorginho, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Everton pada laga Liga Inggris di Stadion Stamford Bridge, Senin (8/3/2021). Chelsea menang dengan skor 2-0. (John Sibley/Pool via AP)
Gelandang Chelsea, Jorginho, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Everton pada laga Liga Inggris di Stadion Stamford Bridge, Senin (8/3/2021). Chelsea menang dengan skor 2-0. (John Sibley/Pool via AP)

Jorginho kehilangan tempat di tim utama Chelsea pada awal musim. Namun, pada era Thomas Tuchel, pemain asal Italia itu kembali menjadi sosok yang amat penting.

Jorginho punya kemampuan melepas umpan yang bagus. Dia bisa diandalkan Tuchel untuk menyusun serangan balik. Jorginho sejauh ini telah memainkan 19 laga bersama Tuchel dan mencetak tiga gol dari penalti.

Kabarnya, Chelsea siap memberi tawaran kontrak baru untuk Jorginho.

N'Golo Kante

N'Golo Kante (Chelsea) -  Keberadaan pemain 30 tahun ini bisa dibilang nyawa di lini tengah Chelsea. Selalu tampil penuh totalitas membuat pelatih Chelsea, Thomas Tuchel, merasa sangat gembira sejak awal kedatangannya di Stamford Bridge. (AFP/Oli Scarff)
N'Golo Kante (Chelsea) - Keberadaan pemain 30 tahun ini bisa dibilang nyawa di lini tengah Chelsea. Selalu tampil penuh totalitas membuat pelatih Chelsea, Thomas Tuchel, merasa sangat gembira sejak awal kedatangannya di Stamford Bridge. (AFP/Oli Scarff)

Kante mendapat banyak pujian atas aksinya pada dua laga melawan Real Madrid di semifinal Liga Champions. Kante dianggap berada di setiap sudut lapangan dan tampil sangat menentukan.

Tuchel sejak awal mengagumi Kante. Ketika masih melatih PSG, dia sempat ingin memboyong Kante. Tuchel akhirnya bertemu Kante di Chelsea dan mereka bisa bekerja sama dengan bagus.

Kante hanya empat kali absen pada laga yang dimainkan Tuchel di Chelsea. Dia absen ketika kondisinya tidak cukup bugar.

Mason Mount

Eder Militao dari Real Madrid dan Mason Mount Chelsea, kanan, terjatuh pada pertandingan leg pertama semifinal Liga Champions antara Real Madrid dan Chelsea di stadion Alfredo di Stefano di Madrid, Spanyol, Selasa, 27 April 2021. (AP Photo / Bernat Armang
Eder Militao dari Real Madrid dan Mason Mount Chelsea, kanan, terjatuh pada pertandingan leg pertama semifinal Liga Champions antara Real Madrid dan Chelsea di stadion Alfredo di Stefano di Madrid, Spanyol, Selasa, 27 April 2021. (AP Photo / Bernat Armang

Mount tidak dipungkiri lagi menjadi pemain penting pada era Tuchel. Dia membuktikan bahwa statusnya sebagai pemain inti di masa lalu bukan karena 'anak emas' Frank Lampard.

Mount punya fleksibilitas yang luar biasa. Dia bisa memainkan banyak peran di lini tengah. Hal inilah yang membuat Tuchel sangat senang dan menjadikan Mount sebagai pemain tak tersentuh.

Mason Mount memainkan 22 laga di bawah kendali Tuchel dengan enam gol dan tiga assist.

Timo Werner

Striker Chelsea, Timo Werner, berebut bola dengan pemain Real Madrid, Eder Militao, pada laga semifinal Liga Champions di Stadion Alfredo di Stefano, Rabu (28/4/2021). Kedua tim bermain imbang 1-1. (AP/Bernat Armangue)
Striker Chelsea, Timo Werner, berebut bola dengan pemain Real Madrid, Eder Militao, pada laga semifinal Liga Champions di Stadion Alfredo di Stefano, Rabu (28/4/2021). Kedua tim bermain imbang 1-1. (AP/Bernat Armangue)

Timo Werner belum mencetak gol sesuai harapan. Namun, sulit untuk menampik bahwa performa Werner meningkat drastis pada era Tuchel. Dia jadi pemain yang bisa diandalkan di lini depan.

Dari 19 laga yang dimainkan pada era Tuchel, Timo Werner mampu mencetak tiga gol dan membuat tujuh assist.

Tuchel tahu betul cara untuk memanfaatkan kelebihan Werner, dribel cepat. Werner kini jadi target utama aliran bola ketika Chelsea melakukan serangan balik.

Kai Havertz

Gelandang Chelsea, Kai Havertz (kiri) mengontrol bola di depan bek Real madrid, Ferland Mendy dalam laga leg kedua semifinal Liga Champions 2020/2021 di Stamford Bridge, London, Rabu (5/5/2021). Chelsea menang 2-0 atas Real Madrid. (AP/Alastair Grant)
Gelandang Chelsea, Kai Havertz (kiri) mengontrol bola di depan bek Real madrid, Ferland Mendy dalam laga leg kedua semifinal Liga Champions 2020/2021 di Stamford Bridge, London, Rabu (5/5/2021). Chelsea menang 2-0 atas Real Madrid. (AP/Alastair Grant)

Kai Havertz mengalami situasi yang sulit pada era Frank Lampard. Dia tidak mendapatkan peran yang tepat untuk bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki. Lampard acap kali memainkan Havertz sebagai gelandang.

Pada era Tuchel, Havertz jadi pemain yang sama sekali berbeda. Performa pemain 21 tahun memang belum optimal. Tapi, ada progres yang besar. Havertz tampil apik sebagai false nine di lini depan Chelsea.

Havertz telah memainkan 17 laga bersama Tuchel dengan tiga gol dan assist.

Sumber: Football London, Transfermarkt

Disadur dari: Bola.net (Asad Arifin, published 8/5/2021)

Video

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel