9 Penyebab Nyeri Leher Belakang, Cedera sampai Meningitis

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta Banyak orang mengabaikan penyebab nyeri leher belakang dan hanya mengatasi dengan memijat ringan. Padahal beberapa nyeri bisa terjadi karena kondisi medis yang cukup membahayakan. Tak hanya cedera dan kaku otot, tetapi bisa terjadi karena meningitis.

Penyebab nyeri leher belakang yang ringan seperti kaku otot biasanya bisa sembuh sendiri setelah dipijat dan direlaksasi. Sementara untuk cedera karena tulang retak membutuhkan lebih banyak waktu pemulihan. Namun kedua kondisi ini masih tergolong ringan.

Nyeri leher bagian belakang yang ringan tak memiliki gejala lain yang menyertai. Sementara penyebab nyeri leher belakang yang kronis bisa terjadi dengan demam, kesemutan, kelelahan, sulit bernapas, dan masih banyak lagi lainnya. Jika mengalami, segera konsultasikan dengan dokter agar mendapat penanganan yang benar.

Berikut Liputan6.com ulas penyebab nyeri leher belakang dari berbagai sumber, Jumat (23/10/2020).

Cedera dan Ketegangan Otot Leher

Ilustrasi bermain ponsel | Lisa Fotios dari Pexels
Ilustrasi bermain ponsel | Lisa Fotios dari Pexels

Cedera

Cedera bisa menjadi penyebab nyeri leher belakang. Leher belakang memiliki sifat fleksibel dan selalu menopang kepala. Tak heran jika leher bagian belakang ini lebih rentan mengalami cedera.

Semisal seperti kecelakaan kendaraan bermotor, olahraga dengan intensitas tinggi, menyelam, angkat beban, dan masih banyak lagi lainnya. Beberapa kasus yang parah mungkin ada yang tulang belakangnya retak dan bikin nyeri sekali.

Leher yang patah dapat menyebabkan rasa nyeri tidak tertahankan. Nyerinya bisa menyebar sampai ke sumsum tulang belakang. Patah leher bisa meningkatkan risiko cedera pada sumsum tulang belakang, termasuk kelumpuhan.

Ketegangan Otot

Banyak orang mengeluhkan nyeri leher belakang yang bikin enggak nyaman. Jika dirasa tak mengalami kecelakaan apapun dan olahraga yang berat, kemungkinan nyeri leher yang dialami karena tegang otot. Ketegangan otot bisa menjadi penyebab nyeri leher belakang yang dipicu aktivitas buruk di kehidupan sehari-hari.

Aktivitas buruk ini berupa:

- Postur tubuh yang buruk saat berjalan, berdiri, ataupun duduk

- Posisi tidur yang salah atau penggunaan bantal yang kurang nyaman

- Bekerja di balik meja dalam waktu yang lama tanpa berganti posisi (biasanya pada pekerja kantoran)

- Menatap ponsel atau komputer terlalu lama

- Peregangan otot yang salah saat berolahraga.

Stenosis Spinal dan Radikulopati Serviks

Ilustrasi nyeri leher belakang | KlikDokter
Ilustrasi nyeri leher belakang | KlikDokter

Stenosis Spinal

Stenosis spinal terjadi karena ada penyempitan pada ruas tulang belakang. Penderitanya biasanya akan mengalami tekanan terhadap saraf tulang belakang. Rasa nyeri luar biasa akan menyerang ketika kondisi ini terjadi. Anak muda lebih jarang mengalami, karena stenosis rentan terjadi pada lansia yang berusia 50 tahunan.

Penyebab nyeri leher belakang karena penyempitan ruas tulang belakang dipicu oleh peradangan tulang atau orteoartritis. Pada kasus yang parah akan berujung pada kerusakan tulang. Akibatnya, saraf dalam struktur tulang akan terjepit dan timbul berbagai keluhan seperti nyeri.

Terdapat dua tipe stenosis spinal yang dibedakan berdasarkan letak kelainannya, yaitu:

- Stenosis servikal

Stenosis servikal terjadi bila penyempitan tulang belakang terjadi di area servikal, sekitar leher.

- Stenosis lumbal

Stenosis lumbal terjadi akibat penyempitan ruas tulang belakang di daerah lumbal atau punggung bawah.

Radikulopati Serviks

Radikulopati serviks lebih dikenal dengan istilah saraf terjepit. Saraf terjepit ini termasuk salah satu penyebab nyeri leher belakang yang kerap disepelekan. Tepatnya ketika akar saraf sumsum tulang belakang di leher teriritasi atau terkompresi.

Pada dasarnya, bagian serviks (leher) tulang belakang memiliki tujuh ruas tulang. Akar saraf ketujuh dan keenamlah yang paling rentan terpengaruh dan mengalami rasa sakit atau nyeri.

Radikulopati serviks akan menimbulkan rasa nyeri yang menjalar dari leher ke bahu dan ekstremitas atas lain. Gejala yang bisa muncul kelemahan otot, mati rasa, dan sensasi kesemutan melalui lengan atau tangan

Osteoarthritis Servikal

Ilustrasi nyeri leher | KlikDokter
Ilustrasi nyeri leher | KlikDokter

Osteoarthritis servikal dikenal pula dengan sebutan artritis leher dan spondilosis servikal. Spondilasis dipakai untuk mendeskripsikan kerusakan tulang belakang bagian leher. Faktor utamanya adalah usia, tak heran kebanyakan penderita nyeri leher spondilasis dialami lansia.

Penyebab nyeri leher belakang yang satu ini terjadi ketika diskus (bagian yang membatasi satu tulang belakang dengan yang lainnya) mengalami dehidrasi (kekurangan cairan) dan mengecil. Tanda-tanda peradangan diskus dapat mulai timbul dan muncul tonjolan pada bagian pinggir diskus.

Spondylosis Serviks dan Kanker

Ilustrasi sel kanker | Klikdokter
Ilustrasi sel kanker | Klikdokter

Spondylosis Serviks

Spondylosis serviks adalah penyakit tulang leher yang bisa menjadi penyebab nyeri leher belakang. Kondisi ini bisa disebut degenerasi cakram serviks. Berisiko menyerang seseorang berusia 40 tahunan.

Tepatnya ketika tulang leher tidak dapat berfungsi dengan optimal. Hingga terjadilah gesekan antara tulang belakang yang lebih intens. Keadaan inilah yang menjadikan nyeri dan kekakuan leher belakang terjadi.

Kanker

Kanker bisa menjalar di area leher. Tepatnya di daerah kepala dan sekitarnya. Penderita yang mengalami biasanya akan mengalami nyeri leher bagian belakang. Untuk penyebab nyeri leher belakang yang satu ini harus lebih diwaspadai.

Beberapa jenis kanker yang dimaksud, yaitu kanker rongga hidung dan kanker sinus paranasal, kanker laring, kanker mulut, kanker nasofaring, kanker kelenjar ludah

Untuk bisa membedakan nyeri leher belakang biasa dan tidak biasa, kenali gejala lain yang menyertainya. Leher sakit akibat kanker biasanya disertai dengan munculnya sariawan, perubahan suara, kesulitan bernapas, sakit rahang, demam, kelelahan ekstrem, dan penurunan berat badan tanpa sebab.

Herniasi Diskus dan Meningitis

Ilustrasi nyeri leher | KlikDokter
Ilustrasi nyeri leher | KlikDokter

Herniasi Diskus

Herniasi diskus terjadi pada lingkaran jaringan ikat. Lingkaran jaringan yang mengelilingi cakram tulang rawan biasanya tengah mengalami kerusakan. Dampaknya akan menyebabkan bantalan di dalam cakram menonjol keluar.

Cakram yang rusak akan menimbulkan tekanan pada seluruh sumsum tulang belakang atau pada saraf tertentu. Kondisi ini bisa menjadi penyebab nyeri leher belakang. Nyeri ini terjadi karena cakram yang menonjol dan saraf pada area tersebut.

Tak hanya nyeri, tetapi herniasi diskus akan menimbulkan rasa sakit di leher, kesemutan, dan mati rasa di lengan. Terkadang rasa sakit tajam yang menjalar di bagian belakang akan terjadi. Kaki terasa lemah, mati rasa, atau geli.

Gejala lainnya:

- Mati rasa atau kebas

- Kesemutan

- Kelemahan pada beberapa area tubuh

- Nyeri derajat sedang hingga berat pada kaki, paha dan bokong

- Inkontinensia urine dan inkontinensia tinja

Meningitis

Meningitis adalah penyakit yang terjadi karena peradang selaput otak. Penyakit ini bisa menjadi penyebab nyeri leher belakang dan terkadang bikin kaku. Leher sakit dan kaku pada kasus meningitis biasanya disertai dengan demam, sakit kepala, mual, muntah, dan sensitivitas pada cahaya.

Infeksi meningitis dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau protozoa. Penyebarannya dapat terjadi melalui kontak jarak dekat, batuk, bersin, atau lingkungan yang tidak higienis. Bila tidak ditangani dengan tepat, meningitis dapat menyebabkan komplikasi yang sangat buruk –seperti kerusakan pada otak atau gangguan pendengaran.

Gejala awal:

- Demam tinggi.

- Sakit kepala.

- Kekakuan pada leher.

- Penurunan kesadaran.

- Muntah.

- Kejang.

- Kaku kuduk karena peradangan pada meninges.

Tips Mengatasi Nyeri Leher Ringan

Ilustrasi tidur | (dok. Manbob86/Pixabay/ Tri Ayu Lutfiani)
Ilustrasi tidur | (dok. Manbob86/Pixabay/ Tri Ayu Lutfiani)

1. Kompres dengan menggunakan es pada bagian leher yang terasa sakit. Lakukan hal ini beberapa hari pertama. Setelah itu bisa melanjutkan dengan kompres hangat atau mandi dengan air hangat.

2. Jangan memutar leher untuk membunyikannya. Kebiasaan membunyikan leher hingga terdengar suara “krek” ternyata tidak baik. Kebiasaan ini berisiko membuat cedera pada tulang, pembuluh darah, dan saraf yang ada pada bagian leher.

3. Perbaiki postur tubuh dengan memperhatikan cara berjalan, berdiri, duduk, dan tidur. Kerap dianggap sepele, namun menerapkan postur tubuh yang baik bisa mengurangi rasa nyerinya.

4. Pilih bantal tidur yang tepat. Hindari menggunakan bantal tidur yang terlalu tebal atau terlalu tipis karena dapat membuat leher kamu terasa sakit ketika bangun tidur.

5. Melakukan peregangan otot. Saat nyeri, otot cenderung tegang. Ketegangan otot ini dapat dihindari jika kamu rajin melakukan peregangan otot. Misalnya saja dengan menyelipkan gerakan-gerakan peregangan otot ketika bekerja selama kurang lebih 8 jam sehari untuk membuat otot rileks.

6. Konsumsi obat-obatan pereda nyeri. Selain melakukan kegiatan tersebut untuk meredakan nyeri otot, kamu bisa juga mengonsumsi obat-obatan pereda nyeri. Konsumsi obat-obatan seperti parasetamol atau ibuprofen yang dapat meredakan nyeri. Obat-obat yang dioleskan seperti koyo atau salep juga bisa digunakan untuk meredakannya.