Abar, Yohena Wakhu Hena Puyakha Bhune Papua Khani Kelane

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jayapura - Abar (Ebale) yo yang nineaimea buyakha bune honole. Ndayoyang rayeamiyea ya royeainye kenda nay o ei yang einye honoleneNda kendara Abar (Ebale) miyea-miyea rabung-rabung mokate ebehele, helay hele naise haite ro miyea buyakha bune nekate yo yea yarate neai wali nekenate.

Nabemere hele nda kendara rambung-rambung ro yea mokowate rohi miyea hiyea ojoko erei. Yowai einye nunnemokowate, nanemekay hanei-haneise huwea yea hanewate rabuhinebang ndarambungde hanna tere mekai horonaibondena nebei rambung. Hannate nemene beko benate kainyate.

Nda he yobei yambei (COVID-19) meke nekeumimeai Abar (Ebale) miyea neai nahibi nda rambung-rambung kenda ra mokate.

Naftali yea elele, nda kenda meai meabu neai meahe neaitena meare neai orona mena yore kinyewaimi mayea kayea hebemale, mokomale, naise hemale meai wali nekemalere.

“Eke mekenda kani kaban kela kanang yobei yambei, era bulo meke nekeumi nda moi hikali rambung-rambung kendara meai nahibi-hibi mokate naftale yea nebei mekai jea,” elele.

Naftali nakhe u foi moi, na rei jea meai jean da moi hikali kenda re mokate, fafa iseai nibhine kate yore (HIS) yore mate kelammile nannggele yea iseainyatere.

“Nda rambung-rambung kenda ra mokate einye mbay niyea helay. Nabere hele iymea ei obhe ei mbaynya robele miyeabele (nakho, nenakhe), nakelu roiboyate fi helai yanekayainye anate mo na fafa reawuseai, ahuwe areleng waimi na wali nekenai,” neai.

Nahi, fi helay nbainye hote mbainye anemale wali yoyo mama, akha yo bakeyo. Reitei maimai nekemale, nda he mekai mahi-mahi mang, mahi-mahi mekhe nda hena hokolo uniyauw aweuw mihoke wali horaiboke rabuhine bang fi helai mbainye hote neneai-neneai jea yaroi koyate anate ne. Ebale yohena wakhuhena nolo bo bele.

Berita ini menggunakan bahasa Sentani, salah satu bahasa di Provinsi Papua, tepatnya di Kampung Abar, Sentani Kabupaten Jayapura, sebagai wujud kepedulian Liputan6.com, terhadap bahasa ibu atau daerah. Terjemahan ada di halaman berikutnya.

Abar, Kampung Gerabah Tertua di Pesisir Danau Sentani Papua

Naftali Fellle menunjukan gerabah di Kampung Abar kepada wisatawan. (Liputan6.com/Katharina Janur)
Naftali Fellle menunjukan gerabah di Kampung Abar kepada wisatawan. (Liputan6.com/Katharina Janur)

Abar merupakan kampung yang unik. Berada di kawasan Danau Sentani, kampung ini dikenal dengan kampung perajin gerabah.

Gerabah dari Kampung Abar umumnya didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan peralatan masak maupun wadah penyimpanan makanan bagi masyarakat di wilayah Sentani dan sekitarnya.

Kerajinan gerabah awalnya dibuat hanya oleh laki-laki di dalam ruang tertutup dan tidak boleh ada orang yang melihatnya.

Pembuatan gerabah ini dibuat secara sembunyi-sembunyi dan pembakarannya dilakukan pada saat malam hari karena ada aturan yang harus ditaati, dan jika aturan tersebut dilanggar maka gerabah yang dihasilkan tidak baik yaitu akan pecah dan hancur.

Seiring perjalanan waktu dan pembauran masyarakat suku-suku di Kampung Abar, kerajinan gerabah beralih dikerjakan oleh kaum perempuan.

"Pembuat kerajinan tersebut tidak lagi hanya dilakukan oleh marga Felle, tetapi oleh semua suku yang ada di Kampung Abar demi kebersamaan dan persekutuan antarsuku," jelasnya.

Naftali menyebutkan gerabah merupakan warisan nenek moyang yang harus dilestarikan, baik itu pengetahuan membuatnya maupun penggunaan gerabah itu sendiri. Sejak dari zaman nenek moyang hingga sekarang walaupun ada pademi Covid-19, perajin gerabah di Kampung Abar tetap memproduksi gerabah dan tak ada imbas dari pandemi ini.

"Sejak dulu, kami membuat gerabah di rumah masing-masing. Jadi begitu ada imbauan pemerintah agar menerapkan social distancing atau pembatasan sosial, warga di kampung Abar sejak dulu telah merepakan hal itu," katanya.

Naftali sangat senang mengajarkan pengetahuan membuat gerabah ke generasi muda. Salah satu sekolah yang melakukan pembelajaran pembuatan gerabah di Kampung Abar adalah siswa dari Hillcrest International School Sentani.

"Dalam gerabah Abar, terdapat nilai-nilai positif. Pada masa lalu, saat keluarga Sentani makan papeda dengan mengelilingi satu wadah gerabah, biasanya orangtua sambil memberikan nasihat pada anak-anaknya tentang kehidupan," ujarnya.

Selain itu, makan papeda dalam satu wadah yang sama akan menguatkan ikatan kekeluargaan. Hal ini berubah ketika zaman modern, tradisi makan dalam satu wadah gerabah sudah berkurang, anak-anak muda cenderung makan dalam piring sendiri-sendiri.

Simak Video Pilihan Berikut Ini: