Ada Fakta Unik di Balik Jatuhnya Meteor di Sulteng

Krisna Wicaksono, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 1 menit

VIVA – Baru-baru ini media sosial tengah dihebohkan soal meteor jatuh di langit Pantai Pagimana, Sulawesi Tengah. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebut, bahwa kilatan cahaya itu kemungkinan berasal dari meteor yang terbakar di atmosfer.

Peristiwa itu disebut boloid, merupakan tumbukan antara benda langit dan atmosfer dengan kecepatan yang relatif rendah. Benda jatuh itu adalah pecahan meteor yang terbelah-belah di masa silam.

Terkait kejadian itu, peneliti LAPAN, Rhorom Priyatikanto menjelaskan ada banyak meteor yang masuk ke atmosfer Bumi, namun sebagian besar tidak teramati karena jatuh di lautan atau jauh dari kawasan berpenghuni.

"Rata-rata meteor seukuran 50 cm masuk ke Bumi setiap dua kali per pekan. Meteor besar dapat mencapai atmosfer bagian bawah, kemudian mengalami ledakan disusul dengan suaranya setelah kilatan cahaya," katanya, dikutip dari laman resmi LAPAN, Kamis 18 Maret 2021.

Meteor di langit Pantai Pagimana itu bukan dari hasil hujan meteor, melainkan meteor sporadis yang tidak memiliki pola kemunculan khusus, baik secara waktu maupun lokasi kejadian.

Rhorom yakin bahwa fenomena tersebut tidak menimbulkan risiko bahaya karena ukurannya yang kecil, berpotensi habis terbakar di atmosfer. Tapi LAPAN akan menerima dengan tangan terbuka bila ada entitas atau institusi yang melaporkan dan menyerahkan adanya benda jatuh.

Sebelumnya melalui postingan di Instagram, @daryonobmkg mengatakan bahwa sensor seismik BMKG di Luwuk tidak mencatat adanya anomali gelombang seismik, saat masyarakat Pagimana Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, melaporkan adanya lintasan meteor.