Ada Kabar Baik dari Industri Otomotif Tanah Air

Yunisa Herawati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Indonesia sudah sejak lama menjadi basis produksi kendaraan bermotor, baik untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri maupun ekspor.

Proses perakitan kendaraan di Tanah Air sudah dimulai sejak era 1970-an, dan saat ini Indonesia berada di posisi dua industri otomotif terbesar di Asia Tenggara.

Merek yang melakukan proses produksi tidak hanya berasal dari Jepang, namun juga Eropa, China dan Korea Selatan. Bahkan, ada beberapa model yang awalnya dirancang di Indonesia namun kemudian menjadi produk global.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, dikutip VIVA Otomotif Kamis 18 Februari 2021, sebelum adanya pandemi angka distribusi mobil dan kendaraan beroda empat atau lebih secara nasional ada di angka 1 jutaan unit per tahun.

Namun ketika wabah melanda, jumlahnya menurun hingga 48 persen. Padahal, kapasitas produksi yang dimiliki saat ini ada di angka 2,4 juta unit per tahun.

Untungnya, kegiatan produksi kendaraan di dalam negeri sedikit tertolong oleh naiknya permintaan dari luar negeri. Meski angka ekspor kendaraan pada Januari tahun ini lebih rendah 3,4 persen ketimbang Desember tahun lalu, namun jika dibandingkan dengan Januari 2020 angkanya lebih besar.

Pada awal tahun lalu, ekspor kendaraan dalam kondisi utuh atau completely built up (CBU) tercatat sebanyak 19.631 unit, sementara pada periode yang sama di tahun ini angkanya naik 4,2 persen menjadi 20.454 unit.

Demikian pula dengan pengiriman unit dalam kondisi terurai atau completely knock down (CKD), di mana pada Januari 2020 sebanyak 4.682 unit dan pada Januari 2021 naik 68 persen menjadi 7.904 unit.

Jumlah pengiriman komponen juga naik 43 persen, yakni dari 5 juta komponen di Januari 2020 menjadi 7,24 juta komponen pada bulan lalu.

Tak hanya ekspor, kabar baik pun datang dari angka impor kendaraan bermotor. Walau pada Januari tahun ini naik 0,9 persen dibandingkan dengan Desember 2020, tapi jika melihat data Januari 2020 angkanya justru turun signifikan.

Pada awal tahun lalu impor kendaraan dari luar negeri mencapai 2.941 unit, sementara pada awal tahun ini hanya 2.106 unit atau turun 28 persen.