Ada Kasus Kematian, Ini Saran Pakar Sebelum Vaksin COVID-19

·Bacaan 2 menit

VIVA – Vaksin COVID-19 AstraZeneca batch CTMAV547 dihentikan sementara lantaran tengah diinvestigasi terkait kasus kematian yang menimpa seorang pemuda di DKI Jakarta. Untuk itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengikutsertakan pihak Komnas PP Komnas KIPI, Komda PP KIPI, dan organisasi profesi terkait agar menganalisis kaitan antara keduanya.

"Di negaranya sendiri UK prosedurnya begitu ada KIPI berat, prosedur vaksinasi memang dihentikan. Itu dibuktikan oleh para ilmuwan dan ahli apakah itu berhubungan atau tidak, begitu dinyatakan tidak berhubungan, dibuka lagi, bisa dipakai lagi," terang Ketua Pokja Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Erlina Burhan SpP, dalam acara virtual, Jumat 21 Mei 2021.

Dijelaskan Erlina, penyetopan sementara hanya pada batch tersebut. Sementara, batch vaksin lainnya tetap diberikan pada masyarakat. Penyetopan tersebut hanya sebagai tindakan kehati-hatian.

"Begitu pula untuk batch itu yang dihentikan, bukan semuanya. Memang prosedur ini adalah prinsip kehati-hatian," imbuhnya.

Meski ada kasus tersebut, Erlina menegaskan tak perlu ada langkah berlebihan seperti cek medis lengkap sebelum divaksin. Cukup mengenali kondisi masing-masing, seperti yang ada pada pedoman dari WHO, untuk mencegah efek samping yang tak diinginkan.

"Kalau memang kita ragu-ragu, misalnya katakan seseorang mempunyai penyakit jantung ragu-ragu, maka lebih baik konsultasi pada dokternya untuk dapat rekomendasi apakah kondisi jantungnya tidak masalah untuk divaksin. Bukan medical check up, tapi lebih ke kondisi masing-masing," tegasnya.

Senada, juru bicara vaksinasi COVID-19 tingkat pusat dr Reisa Broto Asmoro menyebut bahwa vaksin yang diberikan pemerintah sudah pasti teruji keamanannya. Masyarakat tak perlu ragu untuk melakukan vaksinasi karena manfaatnya lebih besar dibanding risiko yang ada.

"Didasari adanya izin penggunaan darurat dari BPOM, fatwa MUI, dan rekomendasi WHO, ITAGI. Maka tenang saja memanfaatkan vaksin ini. Kalau masih ragu terkait pengentalan darah, boleh lakukan pemeriksaan diri dulu untuk orang yang berpotensi memiliki gangguan darah. Tapi kalau tidak, tidak perlu ketakutan," pungkasnya.

Lebih lanjut, Duta Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) itu tetap menegaskan bahwa perlindungan vaksin tak mencapai 100 persen sehingga upaya lain perlu dilakukan sebagai langkah pencegahan.

Salah satunya dengan memakai masker, agar tetap memproteksi kontak langsung maupun tak langsung terhadap virus.

"Selama virus masih ada terutama pakai masker. Masker harus tutupi hidung sampai dagu, selain itu tetap jaga jarak aman dan juga cuci tangan dan tambah vaksinasi. Makin banyak ikhtiar yang kita lakukan, makin rendah risiko penularan," tegasnya.