Ada LPI, Sri Mulyani Tegaskan Pemerintah Tak Berutang ke Investor

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menegaskan, Lembaga Pengelola Investasi (LPI) adalah sebuah instrumen investasi baru di Tanah Air. Oleh karenanya, para calon partner dari LPI harus bersama-sama berinvestasi atau menanamkan modalnya di Indonesia.

"Kita tidak meminjam uang mereka. Tapi mereka menginvestasikan bersama-sama kita," kata Sri Mulyani dalam keterangan pers di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/2).

Dia mengatakan, terbentuknya LPI adalah cara pemerintah agar tidak terlalu tergantung kepada leverage atau pinjaman. Oleh karena itu, karena LPI sifatnya adalah bersama-sama melakukan investasi, maka membutuhkan suatu proses cukup detail.

"Investasi pasti membutuhkan suatu proses yang sangat detail," ujarnya.

Bendahara Negara itu menambahkan, selama proses pembentukan LPI pemerintah sudah dapat berbagai macam minat dari investor dari beberapa fund besar di dunia. Mereka semua menyampaikan keinginannya dan bahkan menyebut nilai yang ingin dimasukan ke LPI.

"Jadi pada saat ini kita sudah ada beberapa fund yang bahkan melakukan expression of interest dengan menulis surat langsung kepada saya dan Pak Erick," jelasnya.

Sri Mulyani sadar, potensi LPI sangat besar. Oleh sebab itu, pemerintah masih menahan diri dan mempertimbangan berbagai minat investor dari negara-negara di dunia.

"Namun mungkin untuk tujuan kita hari ini kita akan mendisclose, karena menurut saya kita akan selesaikan rumahnya sambil kita akan bicara secara teknis," sebut dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Dirut LPI : Kami Cari Dana Modal, Bukan Pinjaman

Presiden Jokowi resmi melantik Ridha Wirakusumah sebagai CEO INA atau LPI.
Presiden Jokowi resmi melantik Ridha Wirakusumah sebagai CEO INA atau LPI.

Direktur Utama Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) Ridha Wirakusumah mengatakan lembaganya mencari dana modal untuk pembangunan yang dapat memberikan nilai tambah bagi seluruh pihak, bukan dana bersifat pinjaman.

“Yang ingin saya tekankan, adalah yang kami cari itu adalah dana modal bukan dana pinjaman. Dana yang kalau bisa value added (bernilai tambah) dan yang tentunya juga dari sumber-sumber yang governence (tata kelola) yang baik, clean (bersih),” kata Ridha dikutip dari Antara, Selasa (16/2/2021).

Ridha, eksekutif yang sebelumnya merupakan Direktur Utama PT Bank Permata Tbk ini resmi ditunjuk Dewan Pengawas LPI sebagai Direktur Utama LPI atau Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia.

Ridha yang berpengalaman menjadi pemimpin perusahaan multinasional itu menegaskan akan menciptakan iklim investasi yang baik di Indonesia sehingga dapat membuat para investor nyaman dan yakin.

“Agar mereka bisa berpartisipasi untuk bersama-sama ikut serta dalam pembangunan Indonesia, yang masa depannya luar biasa. Apakah dari demografis, skala, atau segi potensi bisnisnya,” ujarnya.

Dirut LPI ini juga menargetkan dana yang masuk ke INA dapat menjadi dana abadi pembangunan. Dewan Direksi LPI yang resmi mulai bekerja hari ini akan membangun terlebih dahulu fondasi kerja agar manajemen LPI bekerja secara profesional dan berintegritas.

“Paling penting menurut saya menciptakan rumah yang utuh dengan profesionalisme yang tinggi dengan setting governance (tata kelola) yang betul-betul kuat dipandu oleh Dewan Pengwas kami lalu dengan policy (kebijakan) yang akan kita set up juga,” tuturnya.

Menurut Ridha, LPI ke depannya akan melihat berbagai proyek potensial di Indonesia yang dapat mengundang investor. Dia juga akan berkoordinasi dengan Dewan Pengawas LPI termasuk dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri BUMN Erick Thohir.

“Cukup banyak daftar dari infrastruktur yang sudah kami earmarked. Kalau saya boleh mengutip sedikit Pak Erick, kira-kira ada 9,5 miliar dolar AS di pipeline yang mungkin kita bisa lihat. Tapi tentunya kita akan melihat secara seksama untuk meyakinkan bahwa proyek itu betul-betul bisa membawa good returns for us and also for our co-investors,” ujar Ridha.

Adapun LPI telah memperoleh pembiayaan dari pemerintah sebesar Rp15 triliun dalam APBN 2020 dan berlanjut tambahan Rp15 triliun di tahun ini. Kemudian, LPI juga memperoleh Rp45 triliun dalam bentuk pengalihan saham (inbreng) tahun ini.

Modal awal Rp75 triliun hingga akhir tahun ini akan digunakan LPI untuk untuk memulai kerja sama menghimpun investasi dan mencari mitra kerja sama untuk pembangunan di Indonesia.

Selektif Biayai Infrastruktur, LPI Bakal Fokus ke Proyek Jalan Tol

Suasana proyek pembangunan jalan tol ruas Serpong - Cinere di Tangerang Selatan, Banten, Selasa (16/2/2021).  Adanya jalan tol yang menghubungkan Serpong dan Pamulang ini diharapkan menjadi akses tol alternatif menuju Bandara Soekarno-Hatta dan wilayah sekitarnya. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Suasana proyek pembangunan jalan tol ruas Serpong - Cinere di Tangerang Selatan, Banten, Selasa (16/2/2021). Adanya jalan tol yang menghubungkan Serpong dan Pamulang ini diharapkan menjadi akses tol alternatif menuju Bandara Soekarno-Hatta dan wilayah sekitarnya. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Pemerintah akan lebih selektif dalam membiayai sektor-setor infrastruktur di Tanah Air melalui Lembaga Pengelola Investasi (LPI). Seluruh sektor tersebut, harus memiliki efek yang besar.

Ketua Dewan Direktur LPI, Ridha Wirakusumah mengatakan, sesuai dengan mandat sektor infrastruktur memang menjadi salah satu yang akan dikerjasamakan dengan investor untuk dibiayai. Salah satu menjadi fokus saat ini adalah jalan tol.

"Infrastruktur itu kan banyak sekali, harus dipilah-pilah lagi. Lalu kita sekarang akan mengosentrasikan yang toll road," jelasnya, dalam konfersin pers di Istana Negara, Selasa (16/2).

Dia menjelaskan, salah satu alasan memilih toll road, karena sektor ini memiliki multiple effect yang cukup besar. Kemudian, nilai dari investasi pembangunan jalan tol cukup tinggi sekali.

"Tapi toll road itu pun, ini sekarang saya ngomong detail sebagai CEO ya, kita harus melihat dan kerja sama dengan pemilik tol apakah Waskita, Hutama, Wika, Jasa Marga," jelas dia.

Dia menyemapikan, keinginannya untuk bekerja sama dengan BUMN tersebut jika ada investor masuk menyertakan modalnya. "Jadi kami secara sinergi harus bersama-sama sebagai pemiliki, membetulkan tol ini bisa dioptimasikan bagaimana. Sehingga kemajuannya betul-betul terlihat nyata secara bersama-sama," jelasnya.

Dia menekankan, LPI ini bukan hanya cari uangnya saja. Sebab LPI ingin sama-sama dengan investor untuk bisa memperbaiki kinerja agar toll road jauh lebih baik lagi, meskipun saat ini memang sudah dalam kondisi baik.

Di sisi lain adanya uang dari luar, investasi akan pengembangan tol jadi lebih cepat, lebih bagus, dan optimal. Dan nilai tambahnya lebih cepat untuk masyarakat Indonesia.

"Yang saya sampaikan memang pertama dilihat pertama adalah sektor infrastruktur. Itu banyak sekali, walau saya tidak bisa ungkapkan dulu yang mana. Yang tol yang akan kita jalankan dulu, nanti sisanya, apakah airport kah, pelabuhan, atau infras yang lain, sudah ada daftarnya tetapi kami belum siap mengungkapkan karena kami akan telaah betul-betul dengan teliti," paparnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: