Ada Nasi Goreng Petai, Cilok, dan Cireng di Restoran Indonesia di New York

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kota New York, di Amerika Serikat (AS), terkenal sebagai kota pendatang dari berbagai negara. Cukup banyak warga Indonesia yang tinggal di New York, khususnya wilayah Queens. Ada juga yang punya usaha kuliner dengan membuka restoran.

Salah satu tempat makan di Queens yang cukup terkenal di kalangan warga Indonesia dan Asia adalah Awang Kitchen. Sang pemilik, Koh Awang, mendirikan restoran ini sejak empat tahun lalu.

Pemilik nama asli Siliwanga ini juga tinggal di Queens bersama sang istri Herliati Darmawan dan ketiga anaknya, yaitu Oscar, Oliver, dan Octavianus.

Menu-menu khas Indonesia dijualnya, mulai dari ayam bakar, ikan bakar, bakso, rendang, sayur lodeh, hingga nasi goreng petai. Tak ketinggalan di restoran itu juga tersedia menu camilan seperti cilok, cireng, tape bakar, dan tempe mendoan.

Kalau kebetulan Anda melakukan perjalanan ke Queens, New York, lalu kangen cireng dan cilok, datang saja ke tempat makan ini. Dikutip dari akun Instagram @awangkitchennyc di sana kita bisa melihat ada beragam menu makanan khas Indonesia dan Asia.

Salah satu yang terkenal di restoran ini adalah Rijstaffell, yaitu jamuan ala Hindia-Belanda berupa penyajian dari berbagai hidangan Nusantara yang disajikan dalam porsi kecil. Menu dalam jamuan Rijstaffel cukup banyak. Ada ketoprak, satai kerang, springroll, gado-gado Jakarta, soto ayam, ayam goreng kremes, rendang, es teler, dan pisang goreng.

Dari Mencuci Piring sampai Chef

Pemilik Awang Kitchen bersama Tantowi Yahya. (dok.Instagram @awangkitchennyc/https://www.instagram.com/p/B2uOhuqAtYb/Henry)
Pemilik Awang Kitchen bersama Tantowi Yahya. (dok.Instagram @awangkitchennyc/https://www.instagram.com/p/B2uOhuqAtYb/Henry)

Restoran milik Koh Awang ini pernah dibahas dalam Chopsticks and Marrow-New York City Food Adventures with Joe DiStefano, salah satu blog kuliner yang populer di kota New York.

Dilansir dari VOA, Rabu, 30 Juni 2021, Awang merantau ke Amerika Serikat sekitar 21 tahun lalu. Ia memulai karier kulinernya dengan bekerja di berbagai restoran Asia.

"Saya bekerja mulai dari cuci piring, waiter, sampai akhirnya jadi juru masak. Di restoran Jepang, saya mulai dari server sampai dipercaya menjadi Sushi Chef," jelas Awang yang memasak sendiri semua menu yang ada di rumah makan Awang Kitchen.

"Lalu saya memberanikan diri, mencoba membuka usaha katering. Saya masak sendiri di rumah lalu saya antar para pemesan mulai dari perumahan hingga perkantoran," sambungnya.

Tak Suka Makanan Kering

Menu Rijstaffel di restoran Awang Kitchen. (dok.Instagram @awangkitchennyc/https://www.instagram.com/p/Bpz6intASiX/Henry)
Menu Rijstaffel di restoran Awang Kitchen. (dok.Instagram @awangkitchennyc/https://www.instagram.com/p/Bpz6intASiX/Henry)

Hanya dalam beberapa bulan, Awang Kitchen mendapatkan pujian dari salah satu media besar, The New York Times. Mereka mengulas khusus tentang makanan tahu isi, nasi tim ayam jamur, tempe mendoan, dan sate kambing yang disajikan oleh para pelayan yang ramah.

Sejak itu usaha restorannya semakin maju dan masih bertahan sampai sekarang. Menurut Awang, orang Amerika tidak suka makanan yang kering.

"Misalnya rendang. Mereka tak suka rendang yang kering, karena seperti makan rubber (karet) atau makan plastik. Seperti makanan goreng-gorengan, mereka juga tidak suka terlalu kering, Jadi kita bikin tidak kering, agak juicy sedikit gitu," ungkap Awang.

Lalu makanan apa yang mulai digemari para tamu? "Nasi goreng ikan asin," pungkas Awang.

Diplomasi Lewat Jalur Kuliner

Diplomasi Lewat Jalur Kuliner (Liputan6.com/Abdillah)
Diplomasi Lewat Jalur Kuliner (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan Berikut:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel