Ada Pasukan Elit AD Membelot ke OPM, TNI Perketat Screening

Rifki Arsilan
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kasus pembelotan atau penghianatan yang dilakukan oleh salah satu oknum pasukan elit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat yang terjadi di Papua beberapa waktu lalu benar-benar tamparan keras bagi korps TNI.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Achmad Riad menyatakan, pelaku oknum prajurit TNI AD yang telah berkhianat dari bangsa dan Negara itu akan menghadapi hukuman yang serius dari TNI.

Di satuan , lanjutnya, sudah ditegaskan bahwa pelaku adalah salah satu oknum prajurit TNI AD yang kini telah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

"Sudah ada DPO istilahnya dikeluarkan surat dari Kodam sana (Kodam XVII Cenderawasih), jadi akan dicari, yang jelas aturan TNI sudah ada tentang desersi dan segala macam," kata Kapuspen TNI Mayjen TNI Achmad Rias di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 19 April 2021.

Untuk mengantisipasi hal serupa terjadi lagi, Mayjen TNI Achmad Riad mengaku pihaknya juga telah melakukan sejumlah langkah antisipasi, diantaranya screening ulang prajurit dan meningkatkan kembali wawasan kebangsaan bagi para prajurit TNI.

"Dulu juga pernah ada kan yang waktu di Aceh, jadi ini kasuistis saja, artinya tidak bisa semua dipukul rata yang jelas pasti kita antisipasi jadi di prosesnya nanti. Screening kita lah itu nanti," ujarnya.

Sebagaiamana diketahui, beberapa waktu lalu santer dikabarkan ada satu orang pasukan elit TNI AD yang bernama Prajurit Satu (Pratu) Lucky Y Nathan alias Lukius alias Lukius Heluka telah berkhianat dan membelot dari NKRI dan bergabung dengan kelompok sparatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Pratu Lucky yang berasal dari satuan Batalyon Infanteri (Yonif) 410/Alugoro. Dia melarikan diri dari satuan pada saat bertugas sebagai Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI-PNG bersama Batalyon Infanteri (Yonif) Raider 400 atau yang dikenal dengan sebutan Banteng Raider 400.

Lucky merupakan pria kelahiran Wamena, Papua. Dia mulai bergabung dengan TNI sejak tahun 2015 dan ditempatkan di Tabakpan 4, Regu 1 Pleton 3, Yonif Alugoro/401. Dia meninggalkan satuan ketika tengah ditugaskan di wilayah Kabupaten Intanjaya, Papua di bawah kendali operasi (BKO) Yonif 400 Banteng Raider.