Ada Peran Bos Turnamen Pramusim di Balik Munculnya Liga Super Eropa

Zulfikar Husein
·Bacaan 3 menit

VIVA – Dunia sepakbola dibuat geger dengan diumumkan akan digelar Liga Super Eropa. Presiden Real Madrid, Florentino Perez, telah resmi didaulat sebagai kompetisi antar klub-klub elite di Eropa tersebut.

Liga Super Eropa merupakan kompetisi yang akan diikuti oleh 20 klub dengan 15 klub penggagas, dan ada pula mekanisme kualifikasi bagi lima tim lain yang bisa lolos berdasarkan pencapaian di musim sebelumnya.

Pertandingan akan dilangsungkan pada tengah pekan sehingga klub peserta tetap bisa melakoni duel di kompetisi domestik masing-masing. Kompetisi dijadwalkan mulai setiap Agustus dengan format dua grup yang berisi 10 tim dan akan memainkan laga tandang-kandang.

Peringkat satu sampai ketiga di masing-masing grup nantinya akan lolos ke perempatfinal, di tambah dua tim lain lolos melalui jalur play-off yang dimainkan oleh tim peringkat empat dan kelima.

Pada babak knock out akan digelar tandang-kandang hingga akhir Mei. Partai final nantinya bakalan dilangsung satu leg di tempat netral.

Sejauh ini sudah ada 12 klub dari Inggris, Italia, dan Spanyol, bersepakat untuk menggelar kompetisi tersebut. Mereka adalah AC Milan, Arsenal, Atletico Madrid, Chelsea, Barcelona, Inter Milan, Juventus, Liverpool, Manchester City, Manchester United, Real Madrid, dan Tottenham Hotspur.

Penggagas Liga Super Eropa mengklaim, kompetisi ini bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi klub-klub elite di benua biru yang tengah terpuruk akibat pandemi COVID-19. Nah, bagaimana sih awal mula kemunculan ide Liga Super Eropa ini?

Menurut laporan Independent pada 24 Oktober 1998, sebuah perusahaan Italia, Media Partners, membuat ide Liga Super Eropa sebagai langkah untuk menyatukan Piala Winners dan Liga Champions. Namun, usulan itu ditolak UEFA dan lebih memilih untuk menghapus Piala Winners, serta mengubah format Liga Champions.

Setelah isu tersebut lenyap hampir 11 tahun, pada 2009, ide Liga Super Eropa kembali mengemuka usai presiden Real Madrid kala itu dan sekarang, Florentino Perez, mengkritik format Liga Champions. Pernyataan Perez pun disambut Arsene Wenger, yang saat itu masih menangani Arsenal, menyebut format Liga Champions harus berevolusi di masa depan.

Sayangnya, usulan Perez dan Wenger bernasib sama seperti Media Partners. Akan tetapi, bukan berarti wacana mengenai Liga Super Eropa menghilang total.

Pada 2016, media asal Amerika Serikat The Big Lead melaporkan, bahwa ada pertemuan yang melibatkan penyandang dana turnamen pramusim International Champions Cup (ICC), Stephen Ross, bersama beberapa petinggi klub-klub papan atas Premier League, di Hotel Dorchester, London, Inggris.

Petinggi klub-klub Premier League yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Ed Woodward (Manchester United), Bruce Bruck (Chelsea), Ivan Gazidis (Arsenal), Ferran Soriano (Manchester City), dan Ian Ayre (Liverpool). Mereka semua merasa Liga Champions sudah tak lagi kompetitif sehingga butuh sebuah format baru.

Hadir juga dalam pertemuan itu Presiden Relevant Sports, Charlie Stilitano, yang merupakan organisator dari International Champions Cup (ICC). Dia mengatakan, sebagian klub-klub besar Eropa butuh panggung lebih bergengsi daripada Liga Champions.

"Mungkin ini terdengar arogan, tapi itulah kenyataannya. Saat Anda menonton ICC di musim panas, akan banyak klub besar yang bertarung. Lalu, Anda akan bertanya, 'Bukankah ini pertandingan Liga Champions?', dan orang di sebelah Anda menjawab, 'Bukan. Pertandingan Liga Champions itu PSV Einhoven dan Gent'," ujar Stilitano, seperti dikutip The Guardian.

Ide tersebut ternyata langsung terendus oleh UEFA. Mereka pun mencoba mengakomidir keinginan sebagian klub-klub besar dengan memberikan porsi lebih kepada tim-tim dari liga-liga top Eropa.

Mulai 2016, UEFA kembali mengubah format Liga Champions dengan memberikan jatah istimewa kepada klub-klub Inggris, Spanyol, Italia, dan Jerman untuk tidak menjalani kualifikasi. Selain itu, juara bertahan di Liga Champions dan Liga Europa mendapat tiket otomatis ke penyisihan grup Liga Champions musim berikutnya.

Wacana penyelenggaraan Liga Super Eropa kembali menghilang dari peredaran setelah UEFA mengubah format Liga Champions. Namun, menurut laporan Football Leaks pada 2018, pembicaraan mengenai Liga Super Eropa terus berlanjut secara diam-diam.

Puncaknya, dalam pekan awal April 2021, pembicaraan ini makin meruncing pada sebuah kesepakatan. Para penggagas pun akhirnya memutuskan untuk mengumumkan akan digelarnya Liga Super Eropa pada Minggu 18 April 2021.

Namun, setelah pengumuman akan digelar Liga Super Eropa, otoritas sepakbola tertinggi di Eropa, UEFA langsung mengecam keberadaan kompetisi tersebut. Bahkan, UEFA siap memberikan sanksi bagi klub dan pemain yang terlibat di Liga Super Eropa.