Ada Prospek Tambahan Stimulus, Wall Street Kembali Catat Kenaikan Tertinggi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada penutupan perdagangan saham akhir pekan. Seiring pelaku pasar mempertimbangkan prospek tambahan stimulus fiskal baru. Di sisi lain data tenaga kerja AS mengecewakan.

Indeks saham Dow Jones menguat 56,84 poin atau 0,2 persen ke posisi 31.097,97. Indeks saham S&P 500 mendaki 0,6 persen menjadi 3.824,68. Indeks saham Nasdaq menguat satu persen menjadi 13.201,98. Baik indeks saham Dow Jones dan S&P 500 mencatatkan penguatan selama empat hari berturut-turut.

Wall street menguat didukung sejumlah saham antara lain Coca Cola naik 2,2 persen sehingga mendorong indeks saham Dow Jones menguat.

Sektor saham konsumsi dan real estate masing-masing naik lebih dari satu persen sehingga mengangkat indeks saham S&P 500. Indeks saham Nasdaq mendapatkan dorongan dari Tesla yang naik 7,8 persen.

Wall street sempat ke level terendah dalam sesi perdagangan dengan indeks Dow Jones jatuh lebih dari 200 poin setelah Senator Demokrat Joe Manchin mengatakan dirinya “sama sekali tidak” mendukung putaran pemeriksaan stimulus sebesar USD 2.000.

Janji Joe Biden

Joe Biden menang Pemilu Amerika 2020, jadi presiden AS menggantikan Donald Trump. (AP)
Joe Biden menang Pemilu Amerika 2020, jadi presiden AS menggantikan Donald Trump. (AP)

Presiden terpilih Joe Biden telah berjanji untuk mengesahkan langkah pemeriksaan stimulus yang lebih besar jika Demokrat mengamankan mayoritas Senat yang dilakukan pada awal pekan ini.

“Komentar Senator Manchin di sini sangat signifikan. Orang-orang sekarang khawatir Senat akan dikendalikan oleh Demokrat. Tapi kuncinya adalah Senator Manchin, Senator Collins, yang moderat. Tidak ada yang akan lolos hika mereka tidak bisa mendapatkan moderat di Partai Demokrat atau Partai Republik untuk mendukungnya,” ujar Miller seperti dilansir dari CNBC, Sabtu (9/1/2021).

Manchin kemudian klarifikasi ragu-ragu tentang proposal stimulus di masa depan, dan tidak langsung menentang cek bantuan sebesar USD 2.000 untuk orang Amerika Serikat.

Gerak Bursa Saham AS

Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)
Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Adapun selama sepekan, indeks saham Dow Jones dan S&P 500 masing-masing naik lebih dari satu persen. Sedangkan Nasdaq naik 2,4 persen. Kenaikan indeks saham selama sepekan itu terjadi meski pun ada gejolak di Washington seiring ada kerusuhan di Capitol Hill.

Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat (AS) seperti tenaga kerja kehilangan 140 ribu pekerjaan pada Desember. Penurunan lapangan kerja yang tidak terduga terjadi ketika lonjakan kasus COVID-19 yang baru-baru ini di AS telah memaksa pemerintah negara bagian dan lokal untuk mengambil kembali tindakan lebih ketat untuk mengatasi pandemi COVID-19. Berdasarkan data Universitas John Hopkins, lebih dari 21,5 juta kasus COVID-19 telah dikonfirmasi di AS.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini