Ada transisi tambang Freeport, produksi tembaga 2019 turun

Budi Suyanto

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi tembaga sepanjang 2019 mencapai 176.400 ton, turun dari produksi sepanjang 2018 yang mencapai 230.923 ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono di Jakarta, Kamis, menyebut penurunan produksi tembaga itu disebabkan karena transisi produksi PT Freeport Indonesia dari open pit (tambang terbuka) menjadi underground (bawah tanah).

"Ini tembaganya mengalami penurunan, saya kira semua tahu Freeport tahun lalu masuk masa transisi dari open pit ke underground. Mudah-mudahan 2020 sudah mulai naik lagi dan nanti 2022 mencapai puncaknya," katanya.

Untuk tahun ini, target produksi tembaga dipatok 291.000 ton.

Baca juga: MPR dukung pemerintah tambah kepemilikan saham di PT Freeport

Dalam catatan Kementerian ESDM, selain tembaga, sejumlah komoditas tambang lainnya juga yang mengalami penurunan produksi. Sebut saja, emas yang juga turun dari 2018 mencapai 134,95 ton menjadi 108,2 ton sehingga tahun ini produksi hanya ditargetkan bisa mencapai 120 ton.

Timah, juga mengalami penurunan dari 83.015 ton pada 2018 menjadi 76.100 ribu ton pada 2019. Pada 2020 produksi timah ditargetkan sebesar 70.000 ton.

Kemudian, nikel matte juga turun produksinya dari 75.708 ton pada 2018 menjadi 71.000 ton pada 2019 meski penurunannya tidak terlalu siginifikan. Pada 2020, produksi nikel matte ditargetkan meningkat jadi 78.000 ton.

Sementara itu, produksi perak mengalami kenaikan dari 302,74 ton pada 2018 menjadi 481,5 ton pada 2019. Namun pada tahun ini produksi perak hanya ditargetkan mencapai 120 ton.

Baca juga: Operasional PT Freeport normal pasca-penembakan Mapolsek Tembagapura

Ada pun olahan nikel tumbuh signifikan dari 857.166 ton menjadi 1,8 juta ton pada 2019 dan ditargetkan dapat meningkat pada 2020 menjadi 2,0 juta ton.

"Nikel olahan ini, dengan banyaknya smelter yang terbangun, kita mengalami kenaikan produksi sepanjang 2016-2020," katanya.

Sementara itu, realisasi produksi batubara, lanjut Bambang, mencapai 610 juta ton dengan realisasi Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 138 juta ton.

Tahun ini, target produksi batubara sebesar 550 juta ton dengan pertimbangan potensi pasar ekspor dan domestik, tingkat produksi yang optimal, untuk menjaga kestabilan harga serta mengatasi defisit neraca perdagangan dan disesuaikan dengan target penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp44,39 triliun.