Ada yang Harus Dibenahi Sebelum Vaksin COVID-19 Diluncurkan

Tasya Paramitha, Sumiyati
·Bacaan 3 menit

VIVA – Sebagai upaya penanganan pandemi global virus corona atau COVID-19 yang tak kunjung reda, banyak lembaga penelitian dan produsen vaksin di seluruh dunia berlomba-lomba mengembangkan vaksin COVID-19.

Berdasarkan data WHO Landscape on COVID-19 Vaccine per 12 November 2020 yang lalu, saat ini telah terdapat 212 kandidat vaksin dari 8 jenis platform yang berbeda. Vaksin-vaksin tersebut kini sedang diteliti, baik yang masih dalam tahap uji pra-klinik maupun uji klinik (atau uji pada manusia).

Baca Juga: Terungkap Efek Samping Vaksin COVID-19, Moderna

Advisor Yayasan Bersatu Sehatkan Indonesia sekaligus Founder InHarmony Clinics, Dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPD, MBA, menjelaskan dari 48 kandidat vaksin yang telah memasuki tahap uji klinik, 11 di antaranya telah memasuki tahap uji klinik fase 3, yaitu uji tahap akhir sebagai persyaratan mendapatkan izin edar.

"Salah satunya adalah Vaksin Coronavac produksi Sinovac Biotech dari China, yang saat ini sedang melakukan uji klinik fase 3 di lima negara, termasuk di Indonesia," ujarnya saat Webroom Discussion The 1st Online Vaccinology Forum 2020, baru-baru ini.

Vaksinasi memang telah dinobatkan oleh WHO dan CDC sebagai salah satu upaya pencegahan terbaik dalam bidang kesehatan masyarakat. Vaksinasi telah mendapat perhatian publik dan diperbincangkan banyak orang, terutama sejak viralnya kabar terkait vaksin COVID-19. Kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya vaksinasi pun semakin meningkat.

Namun, menurut Kristoforus yang terjadi adalah berbagai organisasi global dan nasional, termasuk Unicef, WHO, Immunization Action Coalition (IAC), dan Kemenkes, telah mendata adanya penurunan yang drastis terhadap pengguna layanan imunisasi bayi dan anak hingga dewasa di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

"Dan walaupun layanan imunisasi bayi sudah mulai meningkat kembali, jumlah permintaannya belum kembali ke semula. Sedangkan vaksinasi dewasa masih sangat terpuruk hingga saat ini. Belum lagi ditambah masih adanya berbagai tantangan telah berdatangan dari berbagai pihak dan golongan kepentingan," lanjut dia.

Lebih lanjut, Kristoforus menambahkan antivaksinasi dan vaksin hesitansi telah ada sejak lama, yang menyebabkan berbagai penyakit belum berhasil dikendalikan apalagi dieradikasi sesuai target dari WHO.

"Politisasi terhadap vaksinasi pun sudah mulai ramai dipergunjingkan masyarakat terhadap vaksin COVID-19 yang akan segera diluncurkan. Nah, di sinilah peran dokter sebagai ujung tombak dalam mengedukasi masyarakat menjadi sangat penting," kata dia.

Menurut Kristoforus, para dokter harus bisa mengembalikan keyakinan masyarakat akan pentingnya imunisasi, meningkatkan cakupan imunisasi, hingga pada akhirnya dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa dan mencegah terjadinya Twindemics, suatu epidemi di dalam pandemi akibat menurunnya cakupan imunisasi.

"Termasuk meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap vaksinasi COVID-19 yang akan diluncurkan tahun depan. Oleh karena itu, diperlukan adanya update informasi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan vaksinasi dan imunisasi di era pandemi bagi para dokter se-Indonesia," ungkapnya.

"Saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk menambah dan menyegarkan kembali pengetahuan para tenaga medis, terutama para dokter, mengenai vaksinasi, pentingnya edukasi, dan mencegah hesitansi. Para dokter harus bisa menjadi frontline educators dan trusted source of information, demi masyarakat Indonesia yang sehat," tutup Kristoforus Hendra Djaya.

Ingat, saat ini jumlah kasus COVID-19 di Indonesia masih tinggi. Untuk itu jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan dan lakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Jauhi Kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun,

#pakaimasker
#jagajarak
#cucitangan
#satgascovid19
#ingatpesanibu