Adaro Bidik Produksi Batu Bara 54 Juta Ton pada 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menargetkan produksi batu bara 52-54 juta ton pada 2021.

Sekretaris Perusahaan PT Adaro Energy Tbk, Mahardika Putranto menuturkan, perseroan terus berupaya mempertahankan keunggulan operasional, meningkatkan efisiensi, menjaga marjin yang sehat. Selain itu, memberikan pasokan yang andal bagi para pelanggan.

Perseroan menargetkan produksi batu bara 52 juta ton-54 juta ton pada 2021. Pada 2020, perseroan memproduksi 54,53 juta ton batu bara. Produksi batu bara itu turun enam persen secara year on year (YoY) dan sedikit melebihi panduan yang ditetapkan sebesar 52-54 juta ton.

Sedangkan penjualan batu bara turun sembilan persen secara year on year (YoY) menjadi 54,14 juta ton pada 2020.

Selain itu, nisbah kupas atau stripping ratio sebesar 4,8 kali. Angka nisbah kupas ini lebih tinggi dari 2020 mencapai 3,84 kali lebih rendah dari panduan yang ditetapkan sebesar 4,3 kali. Hal ini akibat cuaca kurang baik hampir sepanjang 2020.

Lalu earning before interest, taxes, depreciation and amortization (EBITDA) operasional pada 2021 mencapai USD 750 juta-USD 900 juta.

"Belanja modal USD 200 juta-USD 300 juta,” ujar Mahardika dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (17/2/2021).

Pada penutupan perdagangan saham, Rabu, 17 Februari 2021, saham Adaro Energy melemah 2,48 persen ke posisi Rp 1.180 per saham. Saham ADRO sempat di level tertinggi 1.220 dan terendah 1.170 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 19.954 kali dengan nilai transaksi Rp 147,1 miliar.

Penjualan Batu Bara Adaro pada 2020

Aktivitas pekerja menggunakan alat berat saat menurunkan muatan batu bara di Pelabuhan KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Aktivitas pekerja menggunakan alat berat saat menurunkan muatan batu bara di Pelabuhan KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Sebelumnya, produksi batu bara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) turun pada 2020.Hal ini diungkapkan emiten tambang tersebut melalui realisasi kinerja operasional tahun lalu.

Melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (17/2/2021), Adaro berhasil memproduksi 54,53 juta ton batu bara pada 2020. Angka tersebut merosot 6 persen secara year on year (YoY) dan sedikit melebihi panduan yang ditetapkan, yakni 52 juta hingga 54 juta ton.

"Volume penjualan batu bara pada tahun ini tercatat mencapai 54,14 juta ton,atau turun 9 persen YoY," tulis keterangan tersebut.

Nisbah kupas Adaro pada 2020 tercatat 3,84 kali lebih rendah daripada panduan yang ditetapkan sebesar 4,30 kali, akibat cuaca yang kurang baik hampir di sepanjang tahun.

"Adaro Energy terus berupaya mempertahankan keunggulan operasional, meningkatkan efisiensi, menjaga marjin yang sehat dan memberikan pasokan yang andal bagi para pelanggan," tulis surat dengan tanda tangan Mahardika Putranto, Corporate Secretary & Investor Relations Division Head Adaro Energy.

Selain itu, volume pengupasan lapisan penutup pada 2020 mencapai 209,48 juta bank cubic meter (bcm). Angka tersebut turun hingga 23 persen dari tahun 2019, yakni 272,09 juta bcm.

Terkait portofolio penjualan batu bara, pada 2020 didominasi oleh E4700 dan E4900. Untuk penjualan, pasar Asia Tenggara mencakup 49 persen dari total penjualan 2020 dengan kontribusi Indonesia dan Malaysia sebagai negara terbesar.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini