Adaro Energy Optimistis Kinerja Lebih Baik pada 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Adaro Energy Tbk (ADRO) optimistis kinerja perseroan bisa lebih baik tahun ini. Tahun ini permintaan akan batu bara meningkat seiring dengan mulai membaiknya kondisi ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Perusahaan Adaro Energy Tbk Mahardhika Putranto dalam paparan publiknya, Senin (6/9/2021).

Tahun lalu merupakan tantangan besar bagi sekor batu bara, karena harga batu bara melemah seiring dengan masih rendahnya permintaan akan batu bara. Namun, pada akhir 2020, harga batu bara mulai membaik, karena pemulihan ekonomi berangsur-angsur membaik di beberapa negara, terutama Cina.

Sektor batu bara juga diuntungkan dengan dimulainya musim dingin, yang membuat kebutuhan akan batu bara meningkat, konsumsi listrik yang bersumber dari batu bara pun meningkat.

"Pasar batu bara saat ini cukup positif, permintaan semakin tinggi,” kata dia.

Dia menambahkan, China juga berupaya menambah kapasitas produksinya sekitar 100 juta ton per tahun, seiring dengan meningkatnya permintaan batu bara.

Sementara di India, selama enam bulan pertama tahun ini, impor batu bara juga meningkat. Bahkan impor batu bara dari Australia juga meningkat.Sayangnya negara-negara pemasok batu bara, relatif terbatas untuk mampu menambah pasokan produksi batu baranya.

"Terbatasnya supplai ditambah dengan meningkatnya permintaan batu bara dari China telah mendorong meningkatnya harga batu bara di Indonesia,” kata dia.

Harga batu bara juga mendapat kontribusi positif seiring dengan meningkatnya kebutuhan listrik negara-negara di Asia Tenggara yang diperkirakan melampaui dua kali lipat pada 2040.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Target Produksi Batu Bara

Aktivitas pekerja saat mengolah batu bara di Pelabuham KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis 33,24 persen atau mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Aktivitas pekerja saat mengolah batu bara di Pelabuham KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis 33,24 persen atau mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Dalam paparan kinerjanya, Adaro menyampaikan produksi batu bara Adaro selama semester I 2021 mencapai 26,49 juta ton, turun 3 persen dibanding tahun lalu yang sebesar 27,29 juta ton. Meningkatnya harga batu bara membuat pendapatan Adaro tetap tumbuh 15 persen dibanding tahun lalu, yaitu USD 1,56bn dari sebelumnya US$ 1,36miliar.

Bahkan operation EBITDA perseroan pun tercatat meningkat 37 persen dari USD 465 juta di paruh pertama 2020 menjadi USD 635 juta di semester I 2021. Sehingga operational EBITDA margin Adaro juga bisa meningkat 7 persen dari 34,2 persen menjadi 40,6 persen.

Untuk mendukung peningkatan kinerja, perseroan menargetkan produksi batu bara bisa sekitar 52-54 juta ton. Selain itu perseroan juga tetap aktif mengikuti tender-tender yang diadakan pemerintah untuk ekpansi di proyek-proyek pembangkit listrik.

“Kapasitas PLTU akan ditingkatkan, permintaan akan batu bara akan terus meningkat,” kata dia.

Reporter: Elizabeth Brahmana

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel