Adaro: Harga Batu Bara Masih Lebih Murah Dibanding Gas pada 2030

Fikri Halim, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – PT Adaro Energy Tbk meyakini, komoditas batu bara akan masih menjadi primadona atau sangat dibutuhkan untuk memenuhi ketersediaan energi dunia. Meskipun, di tengah maraknya penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT)

Wakil Presiden Direktur Adaro MetCoal, Hendri Tan mengatakan, ini disebabkan harga batu bara merupakan jenis sumber energi yang paling murah dibandingkan komoditas-komoditas lainnya, termasuk yang menjadi bahan EBT.

"Di 2030 juga batu bara masih lebih murah dibanding gas dan hampir setara dengan angin dan solar," kata dia di acara Future Energy Tech and Innovation Forum 2021, Senin, 8 Maret 2021.

Baca juga: Program Pembiayaan Rumah, BSI Tawarkan Margin Mulai 3,3 Persen

Dia menyatakan kondisi ini dipicu oleh lebih murahnya intermitten cost batu bara dalam memproduksi energi, khususnya sebagai pembangkit listrik dibandingkan dengan solar tenaga surya atau pun tenaga air maupun gas.

"Yang mau saya katakan sering kali kita membahas energi baru dan terbarukan dan dikatakan murah, namun ada faktor yang sering kita lupa yaitu intermitten cost," ujar Hendri.

Di sisi lain, dia menegaskan, meski negara-negara maju dan berkembang terus membangun pembangkit-pembangkit alternatif. Namun, mereka masih sangat besar mengkonsumsi batu bara sebagai salah satu sumber energinya.

"China gencarnya mendirikan PLTN dan EBT lainnya, tapi kita melihat bahwa konsumsi batu bara terus meningkat dari 2016 sampai tahun lalu meski GDP tahun lalu turun di bawah 2,5 persen," ungkapnya.

Dia menekankan, masih tingginya permintaan terhadap batu bara hingga saat ini tidak terlepas dari faktor ketersediaan dan keterjangkaunnya. Dengan demikian dia meyakini batu bara masih akan menjadi sumber energi jangka panjang.

"Karena faktor ketersediaan dan keterjangkauannya. Jangka panjang itu sangat dibutuhkan khususnya negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara," ucap Hendri.

Sebagai informasi, Harga Batubara Acuan (HBA) melemah pada Maret 2021 setelah sebelumnya terus mengalami kenaikan. Kementerian ESDM mengatakan, HBA untuk perdagangan bulan Maret 2021 turun US$3,3 per ton menjadi US$84,49 per ton.

HBA naik dari semula US$51 per ton pada Oktober 2020 kemudian naik terus menurut secara berturut-turut menjadi US$55,71 per ton pada November 2020, US$59,65 per ton pada Desember 2020, US$75,84 per ton pada Januari 2021 dan US$ 97,79 per ton Februari 2021.