ADB beri bantuan 22,8 miliar dolar AS pada 2021 untuk respons pandemi

·Bacaan 3 menit

Bank Pembangunan Asia (ADB) tercatat memberikan komitmen sebesar 22,8 miliar dolar AS pada 2021 untuk membantu kawasan Asia Pasifik dalam mengatasi pandemi COVID-19 dan mendorong pemulihan hijau.

Komitmen tersebut tercantum dalam publikasi Laporan Tahunan 2021 yang merangkum dukungan ADB kepada anggota negara berkembang melalui kombinasi pembiayaan, pengetahuan, dan kemitraan.

"ADB meyakini bahwa penanganan dampak pandemi dan pembangunan jangka panjang dapat berjalan beriringan," kata Presiden ADB Masatsugu Asakawa dalam pernyataan yang dikutip di Jakarta, Senin.

Ia memaparkan komitmen sebesar 22,8 miliar dolar AS tersebut mencakup pinjaman dan jaminan, hibah, investasi ekuitas, jaminan, serta bantuan teknis yang diberikan pada pemerintah dan sektor swasta. Selain itu, ADB memobilisasi 12,9 miliar dolar AS dalam pembiayaan bersama.

"Respons COVID-19 yang berkelanjutan telah membangun pondasi bagi pemulihan yang inklusif, tangguh, dan hijau, sehingga memastikan kemajuan menuju strategi 2030 kami," katanya.

Dari komitmen ADB pada 2021, sebanyak 13,5 miliar dolar AS atau sekitar 59 persen diperuntukkan untuk merespons pandemi, dengan sebagian dari komitmen tersebut, seperti penguatan sektor kesehatan, nantinya akan membantu kawasan ini jauh setelah pandemi berakhir.

Dukungan respons pandemi ADB sebesar 4,9 miliar dolar AS juga untuk mendukung reformasi struktural dan menangani persoalan keberlanjutan utang. Pembiayaan ini termasuk 4,6 miliar dolar AS sebagai pinjaman berbasis kebijakan dan 250 juta dolar AS melalui Opsi Respons Pandemi COVID-19 (COVID-19 Pandemic Response Option).

Sebagai bagian dari respons pandemi, ADB juga memberi komitmen sebesar 4,1 miliar dolar AS untuk pengadaan dan penyaluran vaksin yang aman dan efektif bagi DMC.

ADB juga menyediakan 3,3 miliar dolar AS bagi sektor swasta agar tetap dapat beroperasi, menjalankan perdagangan, dan menjaga ketersediaan produk dan layanan medis. Respons COVID-19 dan rencana pemulihan tersebut juga didukung oleh beragam dukungan pengetahuan.

Laporan tahunan tersebut juga menyatakan operasi ADB pada 2021 terus berfokus untuk mengatasi tantangan pembangunan jangka panjang, seperti perubahan iklim.

"Menang atau kalahnya kita dalam perang melawan perubahan iklim akan ditentukan oleh kawasan Asia dan Pasifik. Agar berhasil, kawasan ini perlu mempercepat peralihan menuju masa depan yang rendah karbon," kata Asakawa.

Untuk membantu memenuhi ambisi pembiayaan iklim kumulatif sebesar 100 miliar dolar AS sampai dengan 2030, ADB ikut mengumumkan rangkaian prakarsa pembiayaan guna memperkuat pembangunan rendah karbon di kawasan ini.

Contohnya, ADB meluncurkan Mekanisme Transisi Energi (Energy Transition Mechanism) yang akan memanfaatkan investasi swasta dan pemerintah untuk membiayai penutupan dini aset-aset bertenaga batu bara, memperbanyak solusi energi bersih dan terbarukan, serta memastikan peralihan tersebut berlangsung secara adil dan terjangkau.

Laporan tahunan juga mencatat semua komitmen ADB pada 2021 telah mencakup elemen yang secara spesifik akan bermanfaat bagi perempuan dan anak perempuan.

ADB juga membantu mobilisasi sumber daya keuangan domestik yang sangat penting bagi pertumbuhan berkelanjutan, termasuk dengan meluncurkan Poros Pajak Asia Pasifik (Asia Pacific Tax Hub) untuk mendukung reformasi pajak dan hal-hal terkait lainnya di kawasan ini.

Komitmen ADB pada 2021 dibiayai oleh program peminjaman yang merupakan program kedua terbesarnya sampai hari ini, dan berhasil menghimpun dana sebesar 35,8 miliar dolar AS melalui pasar modal.

ADB memecahkan rekor volume penjualan obligasi tematik tahun lalu, serta untuk pertama kalinya menerbitkan obligasi pendidikan dan obligasi biru bagi kesehatan laut.

Laporan tahunan ikut menjabarkan serangkaian reformasi internal yang sedang berlangsung guna memastikan ADB memiliki keterampilan, budaya, struktur, dan perangkat yang tepat untuk mencapai misinya.

Baca juga: ADB perkirakan pendapatan RI pada 2022 kembali lampaui target
Baca juga: ADB: Perang Rusia-Ukraina perlambat pertumbuhan negara berkembang Asia
Baca juga: ADB pertahankan proyeksi ekonomi RI, namun ada risiko inflasi naik

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel